32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Wali Kota Terus Monitoring Layanan BRT

SEMARANG –Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi terus memonitoring Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, terkait beberapa fakta dan keluhan di lapangan yakni keamanan hingga kenyamaanan penumpang Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang.

“Diawal tahun ini, perosalan kenyamanan dan keamanan memang harus dievaluasi dan monitoring dari pengelola Trans Semarang,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (5/9) siang.

Pria yang akrab disapa Hendi ini menuturkan, evaluasi dan monitoring yang dilakukan salah satunya adalah adanya sopir Trans Semarang yang terlalu grusa-grusu saat mengemudikan bus dan dinilai mengesampingkan keselamatan penumpang dan pengendara lainnya.  Ia  sudah meminta Kepala Dishub untuk terus memantau dan mengadakan pertemuan rutin dengan operator.

“Mereka (sopir,red) kan tidak mengejar setoran. Saya sudah memerintahkan Kepala Dishub untuk mengadakan pertemuan rutin terhadap operator dan dilakukan sosialiasi kepada awak dan crew bus agar bisa membawa penumpang dengan baik dan ramah sehingga menjadikan BRT sebagai transportasi yang nyaman,” tegasnya.

Disinggung terkait adanya kerterlambatan pembayaran crew bus Trans Semarang, menurut Hendi seharusnya masalah tersebut tidak terjadi. Apalagi Pemerintah Kota Semarang sudah menganggarkan dana operasional, hingga memberikan subsidi terhadap pengelola, dan sudah melakukan lelang sesuai kebutuhan yang ada.

“Hal ini akan saya cari tahu, kesalahannya ada dimana, dinas atau operator. Kalau di dinas, saya minta pembayaran gaji harus diselesaikan, namun kalau kesalahannya di operator tentu harus ada terguran tertulis, supaya mereka menepati pembayaran dan kesejahteraan karyawan,” tandasnya.

Sementara itu, terkait interval waktu kedatangan bus, Hendi menjelaskan jika Trans Semarang dengan Trans Jakarta beberbeda. Trans Jakarta memiliki jalur sendiri, sedangkan Trans Semarang menggunakan lalu lintas umum, praktis jika ada ketersendaatan lalu lintas dipastikan akan terjadi kemoloran interval waktu.

“Solusinya dibuatkan jalur sendiri, namun investasinya terlalu besar. Dari kajian yang ada, harus ada penambahan armada agar interval kedatangan bus tidak terlalu lama,” bebernya.

Sementara itu, Plt Kepala BLU Trans Semarang, Ade Bhakti mengatakan jika Trans Semarang terus melakukan perbaikan agar menjadi transportasi yang nyaman dan aman bagi masyarakat. Pihaknya juga membantah jika pemberian gaji telat sampai  3 bulan.

Dia menjelaskan, pembiayaan Non aparatur sipil negara (ASN)  Trans Semarang,  untuk gaji dan insentif atau tunjangan,  berasal dari pendapatan tiket. Ketika awal tahun 2017, bulan Januari-Maret sebelum operasional koridor V dan VI jumlah karyawan BRT ada sekiar 518 orang dengan penapatan Rp 1,9 miliar per bulan termasuk koridor I sekitar Rp 800 juta dan bisa mengcover gaji dan intensif karyawan. “Namun ketika operasional koridor V dan VI dimulai, kami harus menambah karyawan sekitar 115 orang. Otomatis beban penggajian karyawan semakin bertambah, namun pendapatan dua koridor tersebut belum maksmial karena ada berbagai masalah,” katanya. (den/zal)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here