Diduga Korupsi, Juru Timbang Bulog Ditahan

  • Bagikan
DIGELANDANG: Juru Timbang GBB Randugarut, Nurul Huda, saat digelandang tim Kejati Jateng memasuki mobil tahanan (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
DIGELANDANG: Juru Timbang GBB Randugarut, Nurul Huda, saat digelandang tim Kejati Jateng memasuki mobil tahanan (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG–Tersangka dugaan korupsi pengelolaan beras sebanyak 697,65 ton, Nurul Huda, digelandang ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Kedungpane Semarang. Juru timbang Gudang Bulog Baru (GBB) Randugarut Semarang ini  langsung ditahan usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik Kejaksaan Tinggi Jateng, Selasa (5/9).

Pemeriksaan dilakukan oleh penyidik Kejati Jateng bernama Judith S sejak pukul 09.00-16.45. Kasus tersebut bermula dari laporan kehilangan beras sebanyak 600 ton lebih di Gudang Bulog Randugarut, Semarang.

Setelah ditelusuri dari informasi karyawan di gudang Bulog, diduga hilangnya beras tersebut dilakukan oleh orang dalam Bulog. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti oleh Satuan Pengawas Internal (SPI) Bulog Divisi Regional Jateng.

Dari pemeriksaan SPI Bulog, diketahui pencurian beras itu dilakukan orang dalam. Temuan itu langsung dilaporkan ke Kejati Jateng. Diketahui, penyimpangan yang dilakukan itu terjadi pada periode Juni 2016- Juni 2017. Tindak pidana korupsi terungkap setelah terdapat selisih persediaan beras di gudang tersebut.

Asisten Intelejen Kejati Jateng, Jacob Hendrik Pattipeilohy, mengatakan, dugaan korupsi tersebut dilakukan dengan modus mengelabui tumpukan beras di bagian tengah. Atas kasus itu negara dirugikan mencapai Rp 6 miliar.

“Tumpukan beras di gudang itu tinggi. Oleh pelakunya di bagian tengah dikosongi. Agar tidak kelihatan, di sisi samping dan atas ditutupi karung-karung beras,” jelas Jacob usai menahan para tersangka.

Dalam kasus itu, diakui Jacob, pihaknya telah memeriksa lima orang sebagai saksi, dan dua di antaranya adalah kepala gudang serta juru timbang yang kini telah dinonaktifkan. Alasan pemeriksaan itu karena mereka yang menjadi penanggung jawab stok beras di gudang.

“Tersangka kita tahan selama 20 hari, terhitung sejak 5 September di Lapas Klas I Semarang. Dalam kasus ini pelaku tidak menyalurkan beras sesuai prosedur,”ujarnya.

Sebelumnya, kasus penyelewengan 885 ton beras pada 2015 di Gudang Bulog Baru Mangkang juga berhasil diungkap kejaksaan. Perkara tersebut telah menjerat Kepala Sub Divre Bulog Semarang tahun 2013-2015 Mustafa Kamal, mantan Kepala Gudang Bulog Baru Mangkang Sudarmono, serta juru timbang Agus Priyanto.

Dalam perkara itu, Mustafa akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan serta denda Rp 50 juta. Ia dinyatakan terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan sebagaimana pasal 3 jo pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 20/ 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Adapun Sudarmono dijatuhi hukuman 5 tahun penjara serta denda Rp 50 juta setara 1 bulan kurungan. Ia dinyatakan terbukti bersalah sesuai pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juga dikenakan hukuman membayar uang pengganti kerugian negara Rp 6,3 miliar. (jks/aro)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *