26 C
Semarang
Rabu, 9 Juni 2021

Ekonomi Sulit Jadi Penyemangat, Selalu Dapat Beasiswa Sejak SD

Lebih Dekat Dengan Dokter Mokhammad Sunardi, Anak Seorang Penggali Kubur

Latar belakang ekonomi tak menjadi penghalang Mukhammad Sunardi, anak seorang penggali kubur bisa sukses meraih sebagai seorang dokter. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Kendal

Bagi Sunardi, keterbatasan ekonomi orang tua  bukanlah penghalang untuk dirinya untuk dapat menggapai impian dan cita-citanya. Sebaliknya, justru dengan keterbatasan itu menjadi cambuk semangat bagi dirinya untuk meraih cita-cita.

Sunardi mengaku, dirinya selalu mendapatkan beasiswa, baik saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga ia menempuh gelar sarjana kedokteran di perguruan tinggi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Bahkan kini, melalui program kerjasama (University to University) kini ia mampu meraih beasiswa doktor di Kobe University  Jepang.  “Kita harus punya semangat berjuang.Jangan sampai dalam diri kita punya sifat rasa inferior (rendah diri). Sebab  tanpa kita sadari, rasa inferior ini akan terbawa dalam alam sadar kita. Makanya, rasa optimis harus selalu kita tumbuhkan  dalam diri kita. Tentu harus dibarengi usaha dan doa,” katanya, kemarin saat memberikan motivasi kepada siswa SMA 1 Pegandon.

Sunadri merupakan anak ke tujuh dari pasangan Moh Jazuli dan Masrofah. Pria kelahiran Lahir pada 22 April 1991 ayahnya adalah seorang penggali kubur di desanya. Sedangkan ibunya pedagang gorengan di pasar pegandon.

Tanpa rasa canggung ataupun malu, Sunardi mengajak kedua orang tuanya ke SMA 1 Pegandon. Sekolah tersebut baginya spesial, karena ia  merupakan alumni SMA 1 Pegandon. Sunardi mengaku, ia ingin menumbuhkan rasa optimisme kepada adik-adik kelasnya yang kini belajar di SMA 1 Pegandon.

Sunardi bercerita kini ia bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara Polda DI Jogjakarta sebagai dokter IGD. Dia juga bekerja sebagai asisten bidang publikasi ilmiah di bagian Bedah RSUP DR. Sardjito. Selain itu, pada tiap periode ujian kelulusan dokter (UKMPPD) , ia juga menjadi asisten pengajar untuk bimbingan persiapan menghadapi ujian kelulusan dokter bagi mahasiswa tahap profesi dokter yang telah menyelesaikan tahap profesi (koas).

Ia mengaku tak jauh beda dengan teman-temannya saat bermain. Namun untuk belajar, Sunardi selama masa kuliah Sunardi selalu membiasakan tidur awal malam. Kemudian bangun dini hari mengerjakan sholat malam dan belajar mata kuliah.

“Tipe dan gaya belajar masing-masing orang berbeda-beda. Saran dari saya jika masih mengalami kesulitan dalam menentukan bagaimana gaya belajar yang tepat, coba eksplorasi berbagai macam gaya belajar. Kemudian pilih dari sekian model yang membuat ada merasa nyaman dan efektif dalam belajar,”  jelasnya.

Cita-cita menjadi dokter, diakuinya sudah tumbuh sejak kecil. Namun setiap ditanya cita-cita, Sunardi mengaku selalu menyembunyikan.  Sebab ia tahu bahwa biaya pendidikan untuk menjadi seorang dokter sangatlah mahal. “Makanya saat kelas II SMA, saya sudah mulai usaha berbagai cara untuk bisa beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Saya buat daftar berbagai perguruan tinggi terbaik yang memberikan beasiswa,” tandasnya.

Bukan mimpi, ternyata Sunardi mampu meraih bea siswa yang dia inginkan itu. 2013 silam ia mampu menyelesaikan pendidikannya dan resmi menyandang gelar dokter, melalui program Beasiswa Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM Yogyakarta.

“September  ini, rencananya saya akan terbang ke Jepang melanjutkan studi doktoral saya di Kobe University Japan. Alhamdulillah, saya mendapat beasiswa Monbukagakhuso dari pemerintahan Jepang untuk menempuh pendidikan doktoral, tambah Sunardi.

Bagi kedua orangtua M Sunardi, M Jazuli dan Masrofah mengaku bersyukur semua anak-anaknya bisa menjadi orang sukses. Dari delapan anaknya, salah satunya adalah M Sunardi yang kini mendapatkan selalu mendapatkan beasiswa sejak SD hingga S3 di Kobe University ini.

Jazuli mengaku tidak ada amalan khusus yang dilakukannya untuk dapat menghantarkan keberhasilan anak-anaknya meraih sukses. Bahkan empat dari delapan anaknya, salah satunya M Sunardi juga mendapatkan beasiswa pada saat masih belajar.

“Amalan khusus tidak ada. Cuman, ibunda (Asrofah) memang sering lakukan puasa Senin-Kamis. Selain itu juga setiap salat berdoa minta pada Allah SWT agar anak-anak diberikan kesuksesan,” kata M Jazuli.

Kepala Diskominfo Kendal, Muryono mengatakan, dengan kehadiran dokter Sunardi ini bisa memberikan inspirasi bagi masyarakat Kendal. Karena sukses itu akumulasi dari pretasi, doa restu orang tua, dan daya  juang yang tinggi. “Sosok Sunardi bisa sukses karena prestasi akademik dan non akademiknya bagus. Jadi latar belakang keluarga bukanlah penghalang.” Katanya. (*/bas)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here