Agamawan Kutuk Kekerasan di Myanmar

  • Bagikan
PRIHATIN: Zainuddin (paling kanan) memberikan paparan dalam kegiatan silaturahmi Dialog Center UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dengan aktivis Agamawan Muda Lintas Iman (Kita Famili) (IST).
PRIHATIN: Zainuddin (paling kanan) memberikan paparan dalam kegiatan silaturahmi Dialog Center UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dengan aktivis Agamawan Muda Lintas Iman (Kita Famili) (IST).

SALATIGA – Belasan aktivis Forum Agamawan Lintas Iman (Kita Famili) Kota Salatiga mengutuk keras aksi kekerasan berlatar belakang agama yang menimpa penduduk Rohingya di Myanmar. Mereka juga menggelar doa bersama agar para warga yang selamat mendapatkan kekuatan dan bisa bertahan.

“Tentu sebagai agamawan muda, kita sangat mengutuk keras kekerasan yang terjadi di Myanmar, apalagi jika mengatasnamakan agama. Karena agama itu mengedepankan kebersamaan dan persaudaraan,” jelas Ketua Kita Famili Muh Hanif sebelum acara silaturahmi dengan Dialog Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta, Sabtu (2/9).

Sementara itu, Ketua Dialog Centre UIN Sunan Kalijaga Zainuddin menandaskan, seluruh masyarakat sangat prihatin dengan kejadian di Myanmar. Pihaknya hanya bisa prihatin dan berdoa bersama agar kekerasan yang menimpa penduduk Rohingya segera selesai dan ada solusi terbaik.

“Kami sangat prihatin dan khawatir dengan kejadian yang terjadi. Kasus kekerasan di Myanmar itu harus bisa diantisipasi karena dikhawatirkan bisa mengganggu stabilitas di Indonesia. Paling tidak, kita harus mengeluarkan petisi yang menentang kekerasan tersebut,” jelas Zainuddin.

Ia mengibaratkan jika kebakaran yang terjadi di Myanmar namun asapnya sampai ke Indonesia sehingga bisa mengganggu kondisi kemasyarakatan.

Kita Famili beranggotakan para agamawan muda dari seluruh agama yang ada di Indonesia. Berbagai kegiatan telah dilakukan selama ini, misalnya inter youth camp (kemah anggota muda) di Tekhelan, Getasan kemudian buka bersama dan pembagian takjil di gereja Santo Paulus Miki dan berbagai kegiatan lainnya.

Zainuddin menambahkan, pertemuan ini merupakan bagian dari monitoring pasca-kegiatan interfaith live in yang telah dilakukan setahun silam. “Para agamawan muda di sini beda dari kota lain. Di sini banyak aktivis sehingga aktif dalam diskusi dan kegiatan sosial lainnya,” imbuh dia.

Lebih jauh dijelaskan dia, kedepan ada wacana untuk mengadakan penelitian aliran kepercayaan di Purwokerto yang jumlahnya mencapai tujuh aliran. Penelitian dilakukan dengan dasar harmonisasi dan perspektif kebhinekaan. (sas/ton)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *