31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Angka Kredit Macet Menurun

SEMARANG – Kredit macet Jawa Tengah semester satu tahun ini menurun bila dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Inflasi terus distabilkan guna menjaga angka kredit macet tersebut.

Deputi Bank Indonesia (BI) Kantor Wilayah Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra mengatakan, non performing loan (NPL) atau kredit macet bank umum pada Juni tahun ini sebesar 3,23 persen, turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,43 persen.

Namun begitu, berbeda pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang justru angka kredit macet naik. Yaitu dari 6,87 persen pada Juni tahun lalu menjadi 7,43 persen pada Juni tahun ini. “Pada periode Juni tahun ini pertumbuhan konsumsi tidak terlalu kuat, sehingga pemasukan UMKM bisa jadi kurang naik. Sehingga berpengaruh pada porsi kredit yang kurang lancar,” ujarnya, kemarin.

Namun demikian, secara keseluran angka kredit macet mengalami penurunan. Yaitu dari 3,69 persen pada Juni tahun sebelumnya menjadi 3,55 persen di Juni tahun ini. “Secara keseluruhan masih cukup aman, karena idealnya NPL di bawah 5 persen. Sedangkan Jateng untuk Juni berada di 3,55 persen,” ujarnya.

Begitu juga untuk jumlah penyaluran kredit yang mengalami pertumbuhan. Baik bank umum maupun Bank Perkreditan Rakyat pada Juni tahun ini mengalami peningkatan bila dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Untuk bank umum pada Juni tahun lalu penyaluran kredit sebesar Rp 226 miliar, meningkat 9,43 persen pada Juni tahun ini menjadi Rp 247 miliar.

Kemudian BPR Juni tahun lalu sebesar Rp 18 miliar meningkat 10,88 persen menjadi Rp 20 miliar di Juni tahun ini. Secara keseluruhan penyaluran kredit di Jawa Tengah tumbuh 9,54 persen, yaitu dari Rp 244 miliar pada Juni tahun lalu menjadi Rp 268 miliar pada Juni tahun ini.

Terkait hal ini, pihaknya berupaya terus menstabilkan inflasi dan mendorong pertumbuhan wirausaha dengan berbagai bidang yang potensial. Salah satunya adalah sektor pariwisata yang kini tengah digencarkan.

“Sektor pariwisata ini akan digenjot sebagai alternatif pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini mengingat ekspor yang belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, karena ekonomi negara tujuan ekspor juga belum terlalu membaik,” ujarnya. (dna/ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here