33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Sempat Vacum, Kini Kerap Tampil di Acara Kampus

Lebih Dekat dengan Komunitas Karawitan Dosen UIN Walisongo Semarang

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Sejumlah dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang melestarikan kesenian tradisional dengan membentuk komunitas karawitan dosen. Seperti apa?

AYUK FITRIANA PL-WARDAH HAMRA

KOMUNITAS Karawitan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang terbentuk sejak 2004 silam. Sekarang komunitas ini beranggotakan 21 dosen dari berbagai jurusan.

“Dulu awal terbentuk anggotanya dosen, karyawan dan dharma wanita FDK. Sempat vakum beberapa waktu, karena dosen dan dharma wanitanya pindah fakultas. Kemudian kita bentuk lagi, semua anggotanya dosen Fakultas Dakwah namun non struktural,” ungkap Siti Solichati, salah satu dosen yang mengelola komunitas karawitan ini.

Bermula dari obrolan beberapa dosen yang memiliki ketertarikan di bidang karawitan, akhirnya komunitas ini terbentuk. Dipilih karawitan, karena kesenian Jawa ini dulu digunakan oleh para wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

“Awalnya kita cuma ngobrol-ngobrol lalu menyadari bahwa universitas ini bernama Walisongo, sedangkan Walisongo sendiri menggunakan karawitan melalui akulturasi budaya Jawa untuk berdakwah. Setelah ngobrol-ngobrol akhirnya terbentuk,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat kali pertama terbentuk, Komunitas Karawitan Dosen ini berlatih dari mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Seni Kampus (KSK) Wadas yang terlebih dahulu sudah belajar seni karawitan. Selain itu agar bisa tampil maksimal, para dosen mengundang pelatih dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

“Waktu awal-awal latihan kita masih dibantu mahasiswa dari Wadas. Saat itu, kita belum mandiri, masih belajarlah. Sehingga untuk alat-alat tertentu yang kita belum bisa, banyak dibantu oleh mahasiswa. Namun pelatihnya sama, Pak Tanto,” ungkap dosen yang juga Alumni UIN (dulu IAIN) Walisongo Semarang ini.

Komunitas Karawitan Dosen ini kerap tampil di acara yang diselenggarakan kampus, seperti pengukuhan profesor, Annual Conference dan Dies Natalis UIN Walisongo. Selain itu, komunitas ini pernah diundang tampil untuk mengisi acara Pasar Imlek Semawis di kawasan Pecinan.

Setelah sempat vakum beberapa waktu, Siti Solichati berinisiatif kembali mengajak para dosen berlatih setiap Jumat pagi. Di jam tersebut, para dosen tidak diberi jadwal untuk mengajar agar latihan berjalan lancar dan semua anggota lengkap.

“Di jadwal sudah diatur, yang ikut karawitan tidak mengajar di hari Jumat pagi. Dan sudah nego pada fakultas untuk menggunakan Laboratorium Dakwah sebagai tempat latihan,” terang wanita yang juga Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam ini.

Dikatakan, komunitas karawitan ini menjadi ajang refreshing dan interaksi yang lebih intens bagi para dosen di luar pekerjaan mereka. Selain itu, juga agar bisa melestarikan seni karawitan yang hampir dilupakan generasi muda saat ini.

Ulin Nihayah, anggota Komunitas Karawitan Dosen yang baru bergabung satu tahun terakhir mengaku, saat kali pertama berlatih, dirinya menemui sedikit kesulitan. Ia membutuhkan waktu 2 bulan untuk menyelaraskan musik yang dimainkan.

“Kesulitannya bagaimana menyamakan nada gong dengan bonang, kenong dan  bagaimana bisa bersamaan membentuk irama. Membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk belajar notasi dan menyelaraskan irama dengan musik lain. Kalau misalnya ketukannya  tidak pas, sinden tidak bisa menyanyikan susuai irama,” jelas dosen Manajeman Dakwah ini.

Usfiyatul Marfu’ah, juga anggota komunitas ini berpesan kepada mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk menggunakan musik karawitan sebagai identitas. “Mahasiswa dakwah harusnya bangga  punya musik karawitan sebagai identitas. Jadi, tugas kita bersama selain mempelajari juga harus nguri-uri,” harapnya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Latihan Dengan Peralatan Seadanya

SEMARANG- Tim panahan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) Jateng terus mengoptimalkan persiapan, meski menggunakan peralatan seadanya. Heri Febriyanto, salah seorang asisten pelatih cabang panahan mengatakan...

Gus Yusuf Tunggu Putusan DPP

"Kami mengapresiasi tawaran tersebut. Artinya, ada perhatian pada PKB, bukan pribadi saya. Saya serahkan prosesnya kepada DPP." KH Yusuf Chudlori - Ketua DPW PKB Jateng RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Koalisi...

Kerajinan Decoupage Heny Craft, Unik dan Menarik

KAJEN - Pernahkah terpikirkan jika ada suatu kerajinan yang terbuat dari tisu? Padahal sifat tisu itu mudah rusak dan hancur. Tisu digunakan hanya sekali...

Sorogan, Tingkatkan Hafalan Quran Hadist

RADARSEMARANG.COM - KEAKTIFAN peserta didik diperlukan dalam proses pembelajaran. Meski zaman sudah beralih milenial, ternyata pembelajaran yang selama ini diterapkan masih zaman old. Metode...

Sekolah Minim Siswa Terancam Dimerger

MAGELANG–Sekolah-sekolah di Kota Magelang yang kekurangan siswa akan dilakukan regrouping alias dimerger. Untuk langkah awal, akan dilakukan kajian. "Rencana regrouping sekolah-sekolah yang siswanya di...

Akses Jalan Bodas-Klesem Bisa Dilalui

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Jalan yang menjadi akses penghubung Desa Bodas dan Desa Klesem akhirnya bisa dilalui kendaraan roda empat setelah sebelumnya terputus akibat longsor....