32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Bangun Komunikasi Terbuka Dengan Karyawan

Albert Andy Santoso, Pemimpin Perusahaan Sirup Kartika

Menjadi seorang pemimpin tidak harus bersikap otoriter. Membesarkan sebuah perusahaan dengan sistem komunikasi terbuka dan humanis akan bisa lebih diterima bawahan. Cara inilah yang dilakukan oleh Albert Andy Santoso, Pemimpin Perusahaan Sirup Kartika dalam membesarkan perusahaan.

FAKTOR utama dalam membesarkan perusahaan, menurut laki-laki yang akrab disapa Andy adalah membuat karyawan merasa happy dengan pekerjaan. Selain itu, pihaknya juga membuat target yang jelas sehingga berdampak positif dalam penjualan produk yang dibuat.

“Kalau target jelas, mereka happy dan memiliki motivasi yang lebih, otomatis ini akan berdampak juga penjualan kita. Jadi bagi saya kualitas kerja dilingkungan kerja penting,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang kemarin (2/9).

Bahkan yang tak kalah penting, seorang pemimpin juga harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan bawahan, serta tidak semena-mena dalam melakukan tindakan. Oleh karena itu, Andy melakukan upaya dengan membuat forum diskusi dengan karyawan.

“Kita buat sistem komunikasi yang terbuka, apalagi ada tehnologi komunikasi juga. Kita buat buat semacam forum diskusi diantara mereka. Supaya segala macam keluhan atau hal lain bisa disampaikan. Kendala tehnis dilapangan juga disampaikan supaya kita tahu solusinya,” ujarnya.

Perusahaan Sirup Kartika yang dipegang Andy telah berdiri sejak tahun 1975, dan sejak awal berlokasi di Kelurahan Gubug, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Kali pertama perusahaan didirikan oleh orangtuanya yaitu Rindri Astutik dan Santoso Hidayat.

“Jadi saya ini generasi ke dua, sejak tahun 2008 silam. Jadi disini ada dua orang manajemen, saya dan kakak kandung saya yang nomor dua, Hindarko Santoso. Saya anak keempat dari empat bersaudara. Kalau yang pertama sudah meninggal dan yang nomor tiga ada pekerjaan lain, diluar Kartika,” katanya.

Perusahaan tersebut, sekarang memiliki karyawan sekitar 200 orang. Mayoritas adalah warga sekitar pabrik Sirup Kartika. Kepercayaan ini sangat menjadi tanggung jawab besar baginya dalam mengembangkan perusahaan.”Kami menganggap karyawan adalah aset utama. Jadi setiap tahun melakukan pembaharuan-pembaharuan, untuk meningkatkan kualitas dan SDM,” katanya.

Tak kalah penting, dalam membesarkan perusahaan, Andy rajin melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar. Karena masyarakat sekitar juga dinilainya adalah konsumen. Sehingga pendekatan ini dilakukan tidak hanya untuk target penjualan saja.

“Namun perusahaan hadir untuk mereka disaat ada kebutuhan perorangan ataupun lainya.
Jadi kita tidak melulu penjualan saja, disaat mereka ada kegiatan, kita juga ikut berkontribusi kepada mereka. Jadi kita mendekatkan diri ke konsumen kita untuk membangun loyalitas,” tegasnya.

Sistem pengelolaan perusahaan tersebut menurut Andy terbukti ampuh membesarkan perusahaan yang peredaran produknya tak hanya di wilayah Jawa Tengah saja tapi sudah masuk wilayah edar DI Jogjakarta dan Jawa Timur.

“Kalau kendalanya ya hampir sama seperti pada umumnya misalnya arus lalulintas, bahan baku.  Kendala semacam itu wajar, dan itu juga dialami oleh perusahaan-perusahaan lain. Tinggal gimana pinter-pinternya kita mencari celah supaya bisa terus berkembang,” katanya.

Andy mengakui, sebelum dipercaya memegang perusahaan ini, ia juga terjun dilapangan terlebih dahulu. Sehingga tidak semata-mata langsung memegang begitu saja. Ia harus blusukan ke pemasaran-pemasaran menemui konsumen.

“Proses pembelajaran, awal-awalnya kita observasi dulu, supaya kita lebih tahu. Sehingga kalau kita sudah terjun lapangan sudah ada gambaran, bisnisnya ini seperti apa. Jadi kita tidak hanya tau dari segi laporan saja,” ujarnya.

Menurutnya, banyak pengalaman dalam terjun dilapangan sebelum menjadi pemimpin perusahaan. Mulai dari dicueki sampai harus menunggu lama-lama untuk bisa bertemu konsumen. Namun demikian, hal ini tidak membuat ciut nyalinya dan bahkan terus dikembangkan.”Namanya orang berbeda-beda, seperti kita mau ketemu, menunggu lama, dicueki sama sekali juga ada. Ada yang galak ada yang halus, ya macam-macam,” pungkasnya. (M Hariyanto/bas)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here