32 C
Semarang
Rabu, 16 Juni 2021

Blog Edukasi Alihkan Hoax

ABAD 21 merupakan abad kebebasan informasi. Kecanggihan teknologi informasi menjadikan arus informasi susah untuk dibendung. Terlebih bagi generasi milenial (lahir setelah 1982) sebagai pengguna terbesar gadget dan smartphone saat ini. Mereka benar-benar larut dalam euforia kecanggihan lalulintas informasi. Satu dua kali sentuhan pada papan smartphone sudah mampu mengirim tulisan, suara, photo, video, meme, dan vlog kepada sesama teman di sosial media. Dalam dunia maya mereka bisa bertukar peran sebagai donor maupun resipien universal.

Kebebasan berpendapat di muka umum dilindungi oleh pasal 28 UUD 1945 dan pasal 29 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia. Namun akhir-akhir ini kita sering dihadapkan berita hoax (bohong), nyinyiran, ujaran kebencian, dan adu domba di sosial media. Berita yang demikian justru menciderai nilai luhur Pancasila dan UUD ‘45.

Dalam pandangan Soekamto (2009), berita hoax adalah sebuah pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu dan mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu. Karakteristik berita hoax antara lain tidak menyertakan link terpercaya, link sumber palsu dan tanpa laman landas, dipaksa untuk menyebarkan ulang informasi, tidak masuk akal, dan  tidak merespon pertanyaan (Nino, 2017).

Kecanggihan teknologi telah memicu lalu lintas berita hoax di media online kini kian tak terbendung. Imbasnya, pelajar sebagai generasi milineal semakin terbiasa menerima pesan-pesan hoax di jejaring internet. Berita palsu dapat menjadi salah satu pemicu munculnya perselisihan, keributan, dan juga menyebarkan kebencian. semua elemen bangsa diharapkan bisa mengambil peran sesuai dengan kapasitasnya di masyarakat. Termasuk sekolah sebagai garda terdepan dalam menebar nilai-nilai karakter bangsa.

Blog Edukasi

Sosialisasi dan pembuatan blog edukasi adalah solusi dalam mengantisipasi berita hoax. Blog edukasi adalah suatu web yang berisi tulisan, artikel, dan informasi bermanfaat yang diperbarui secara teratur dan diakses secara online, baik untuk umum maupun pribadi untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Blog edukasi juga mendukung GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Pembuatan blog edukasi dilakukan oleh tiga puluh enam responden dan tiga orang peneliti yang dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing berisi dua belas responden dan satu orang peneliti sebagai ketua kelompok, kemudian hasilnya dilombakan untuk memberi penghargaan kepada para responden, dan diharapkan responden akan selalu aktif mengisi blog dengan kegiatan sekolah, materi pelajaran dan materi tentang hoax serta memberi informasi positif bagi pengguna web.

Simpulan akhir diperoleh fakta adanya perubahan terhadap Hoaxer setiap kategori. Sosialisasi dan pembuatan blog untuk mengikis hoaxers di kalangan siswa di Kota Semarang sangat efektif. Hal ini ditunjukkan pada kategori tidak menyukai berita hoax mengalami kenaikan sebesar 86,67 persen, kategori cukup menyukai berita hoax mengalami penurunan sebesar 63,64 persen, kategori menyukai berita hoax mengalami penurunan sebesar 87,5 persen, dan kategori sangat menyukai berita hoax mengalami penurunan sebesar 83,3 persen. (*/aro)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here