32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Underpass Macet, Gombel Baru Searah Lagi

SEMARANG-Baru beberapa hari diujicoba, underpass Jatingaleh ternyata masih menimbulkan kemacetan. Hal itu membuat Forum Lalu Lintas Kota Semarang yang merupakan gabungan dari Dinas Perhubungan (Dishub), Satuan Kerja (Satker) Metro, dan Satlantas Polrestabes Semarang, harus mengubah strategi penataan arus lalu lintas.

Dari hasil evaluasi, kemacetan yang masih terjadi di underpass Jatingaleh disebabkan arus lalu lintas dari arah Kaliwiru terdapat empat lajur. Sampai di tanjakan Gombel Baru, berubah atau menyempit menjadi dua lajur. Berubahnya dua jalur tersebut lantaran Gombel Baru selama masa ujicoba digunakan dua arah. Sehingga hal itu mengakibatkan terjadinya penumpukan arus lalu lintas yang cukup panjang hingga terjadi kemacetan.

“Gombel Baru ini kan kemarin dijadikan dua arah. Mulai siang ini (2 September), kami kembalikan menjadi satu arah. Ini mengingat evaluasi dari ujicoba dari tanggal 30 Agustus hingga 2 September, masih terjadi kemacetan (di underpass Jatingaleh),” kata Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Semarang, Kusnadir kepada Jawa Pos Radar Semarang usai melakukan penataan jalur di Gombel Baru, Sabtu (2/9).

Dikatakannya, pengubahan jalur Gombel Baru menjadi satu arah tersebut berdasarkan hasil rapat evaluasi bersama Forum Lalu Lintas Kota Semarang. “Kami lakukan rekayasa arus yang sedang berada di Gombel Baru. Kaitannya dengan jalur dari arah Kaliwiru menuju Banyumanik, melewati underpass Jatingaleh, kemudian naik Gombel Baru selama uji coba digunakan dua arah. Saat ini kami ubah menjadi satu arah,” terangnya.

Kemudian pengendara yang berasal dari arah Banyumanik menuju Kaliwiru, melewati turunan Gombel Lama.

“Setelah sampai di underpass ada pilihan jalur, bisa melewati underpass (atas) atau memilih jalur lurus (bawah), terutama pengendara yang ingin menuju jalur tol melewati jalur bawah,” jelasnya.

Selain itu, petugas gabungan tersebut juga melakukan pembongkaran beton dan akan melengkapi rambu-rambu. Berdasarkan hasil rapat, lanjut Kusnadir, masih ada beberapa rambu-rambu yang belum terpasang. Misalnya, rambu dilarang berbelok, rambu penunjuk arah, dan Rambu Pendahulu Petunjuk Jalan (RPPJ).

“Rambu yang belum ada ini akan kami penuhi. Sebetulnya fasilitas rambu ini termasuk bagian dari paket proyek underpass di bawah kewenangan Satker Metro. Tapi ini karena sifatnya mendesak, maka Dishub Kota Semarang menambah rambu-rambu yang diperlukan,” katanya.

Wakasatlantas Polrestabes Semarang, Kompol Sumiarta, mengatakan, penataan lalu lintas ini menindaklanjuti setelah pembangunan underpass diujicoba beberapa waktu lalu.

“Saat kemarin Gombel Baru dikembalikan dua arah. Ternyata setelah kami kaji, terjadi kemacetan dari bawah cukup panjang. Sebab, terjadi bottlenext pada sisi yang saat ini direkayasa ini. Terjadinya kemacetan tersebut banyak warga mengeluh, sehingga dilakukan rapat. Setelah itu, kami lakukan survei, sehingga ini kami kembalikan menjadi satu arah,” ujarnya.

Dikatakannya, penyebab kemacetan tersebut karena terjadi bottlenext, yakni dari arah Kaliwiru terdapat empat lajur, tetapi setelah sampai di tanjakan Gombel Baru pindah dua lajur. Hal itu menyebabkan terjadinya penumpukan arus.

“Arus lalu lintas tidak bisa lancar, sebagaimana kita kehendaki. Sehingga kami kembalikan menjadi satu arah menggunakan empat lajur. Saat ini, sudah lancar,” katanya.

Sampai kapan perubahan jalur satu arah tersebut diberlakukan? Sumiarta menjelaskan hal itu akan terus dikaji dan dilakukan evaluasi. “Apabila memerlukan perubahan, nanti akan kami ubah. Tetapi kalau ini sudah tidak ada masalah, Insya’Allah perubahan ini untuk seterusnya ke depan,” ujarnya.

Sepi Pembeli

Sementara itu, setelah underpass Jatingaleh dibuka, sejumlah pelaku usaha di sekitar underpass mengeluh sepi pembeli. Sebab, kawasan tersebut kini menjadi jalur cepat. Selain itu, sejumlah tempat usaha kini tak memiliki lahan parkir bagi kendaraan pengunjung, khususnya roda empat.

Hendri, 48, pemilik rumah makan padang di Jalan Teuku Umar mengaku, pembangunan underpass tersebut berimbas langsung pada bisnis rumah makannya. “Problem utamanya itu di lahan parkir, saya jadi tidak punya lahan parkir untuk pelanggan, dan hal itu yang sebenarnya secara langsung memengaruhi omzet pemasukan bisnis saya,” keluhnya.

Ia mengaku, omzetnya menurun drastis sejak ada proyek yang bertujuan untuk mengurangi kemacetan itu. “Saya bisa katakan omzet menurun sampai 80 persen dari sebelum ada itu (underpass). Dulu sehari bisa Rp 7 juta-Rp 8 juta, sekarang sehari dapat Rp 2 juta saja sudah bagus,” katanya.

Hendri sendiri sudah mengepras bagian depan warungnya sebagai lahan parkir. Namun hanya cukup untuk parkir sepeda motor. Itu pun ia memanfaatkan trotoar jalan, yang tentunya melanggar aturan. “Kalau ada pengunjung naik mobil bingung mau parkir di mana. Praktis, sekarang pengunjung bermobil sudah jarang, apalagi lalu lintas di sini cukup padat dan cenderung melaju kencang,” ujar pria yang membuka usaha kuliner sejak 1992 itu. (amu/mg43/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here