33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

PNS pun Manfaatkan Tarif Buruh Rp 1.000

Trans Jateng Koridor I Tawang-Bawen

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG—Sejak diluncurkan awal Juli lalu, Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Koridor I Stasiun Tawang-Terminal Bawen telah memikat masyarakat. Hampir setiap hari selalu penuh penumpang. Maklum, tarif yang diberlakukan relatif murah. Hanya Rp 3.500 untuk penumpang umum, dan Rp 1.000 untuk pelajar dan buruh pabrik.

Koran ini pun mencoba naik BRT jalur aglomerasi setelah hampir 2 bulan beroperasi. Perjalanan menggunakan BRT Trans Jateng jauh dari kesan sumpek dan berjubel. Sebaliknya penumpang tampak nyaman dengan kondisi mesin pendingin (AC) yang masih prima.

Pramujasa BRT Trans Jateng, Raimah, mengatakan, untuk menjaga kenyamanan, maksimal penumpang BRT Trans Jateng tidak boleh lebih dari 34 orang. Menurutnya, itu sudah menjadi SOP dari pihak Dinas Pehubungan Provinsi Jateng. “Kapasitas kursi duduk 20 orang, maksimal penumpang 34 orang. Jika sudah penuh otomatis kami tidak bisa berhenti di shelter berikutnya,”katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meskipun begitu, lanjut Raimah, ia berulang kali kecolongan jika jumlah penumpang sedang membludak. “Contoh, kami terpaksa berhenti di shelter A yang sedang ada banyak calon penumpang karena memang ada penumpang yang hendak turun di shelter tersebut. Nah, biasanya di situ mereka main nyelonong masuk,”ujarnya.

Sopir BRT Trans Jateng, Arif Mulyono, menambahkan, trayek Stasiun Tawang-Terminal Bawen sepanjang 36,5 kilometer melewati 38 dan 43 titik shelter di kanan kiri jalan. Jumlah itu dinilai belum sebanding dengan jumlah calon penumpang.

“Kelihatan banyak, tapi tak sedikit penumpang mengeluh karena harus berhenti di tempat yang kurang strategis,”tuturnya.

Pramujasa BRT Trans Jateng nomor lambung 5, Prasetyo, mengatakan, jam padat penumpang rute Terminal Bawen ke Semarang cenderung terjadi di sore hari di mana penumpang didominasi buruh dan karyawan pabrik. “Jam 4 sore itu padat kalo ke arah Semarang, soalnya buruh yang kerja di Ungaran kan banyak,”katanya.

Prasetyo mengatakan, ada sejumlah temuan yang harus dievaluasi Dishub Provinsi Jateng. Pertama, tiga shelter yakni di Dominico Savio, Balai Kota, dan RS Elisabeth tidak bisa difungsikan bersama Trans Semarang. Kedua, tarif murah yang diperuntukkan buruh pabrik justru dimanfaatkan oleh sejumlah karyawan bahkan PNS.

“Bayar Rp 1.000 diperuntukkan kepada buruh dengan menunjukkan 3 persyaratan, yakni berseragam pabrik, serta menunjukkan kartu BPJS ketenagakerjaan dan ID card. Tapi di lapangan banyak pegawai di institusi tertentu memanfaatkan kebijakan tersebut. Bahkan, ada yang sekadar fotokopi  BPJS ketenagakerjaan dan dilaminating,”ujarnya.

Kepala Dishub Provinsi Jateng, Satriyo Hidayat, mengaku secara garis besar kehadiran BRT Trans Jateng sudah diterima oleh masyarakat. Bahkan, Dishub berencana menambah koridor baru pada 2018. “Untuk koridor baru (Semarang-Kendal) masih dibahas. Tapi kemungkinan trayeknya hanya  Cepiring-Mangkang,”katanya saat dihubungi melalui telepon.

Dikatakan, saat ini ada 18 armada yang telah dioperasikan di Koridor I dengan subsidi sebesar Rp 5,4 miliar dari Pemprov Jateng.

Satriyo menegaskan, ada banyak hal yang perlu dirujuk sebagai bahan evaluasi termasuk sejumlah keluhan dari masyarakat. “Tidak semua shelter bisa digunakan secara bersama. Kami sudah membangun shelter di Jalan Pemuda,” ujarnya.

Terkait kebocoran penumpang, pihaknya saat ini masih mencari formulasi yang tepat agar subsidi yang diberikan bisa tepat sasaran. “Sebenarnya itu sudah diprediksi dari awal, boleh dikata kebocoran mungkin 20 persen. Tapi saat itu kami lebih condong memikirkankan 80 persen ketimbang sisanya. Kami masih cari solusi termasuk rencana penggunaan kartu Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan),”ungkapnya. (aaw/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Untuk Jawa Tengah yang Lebih Oke

BERTEMA Amazing Jawa Tengah, gelaran Malam Anugerah Jawa Pos Radar Kedu-Radar Semarang 2017, Selasa (23/5) malam, berlangsung di Semanggi Ballrom Artos Hotel and Convention...

Cuti Usai, Petahana Rawan Gerilya

SEMARANG - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jateng, Abhan Misbach khawatir, masa tenang kampanye Pemilu 2017 justru dimanfaatkan petahana untuk bergerilya. Sebab, masa cuti...

Indahnya Berbagi Melalui Tulisan

RADARSEMARANG.COM - TERNYATA menulis di media massa bagi seorang guru, memiliki nilai ganda. Selain berefek positif mendapatkan nilai poin untuk keperluan kenaikan pangkat, menulis...

Ritual Ceng Beng Hormati Leluhur

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Puluhan warga Tionghoa yang tergabung dalam Yayasan Tjie Lam Tjay memperingati ritual Ceng Beng dengan mendatangi makam orang tua atau leluhur...

FKDM Soroti Menjamurnya Toko Modern

DEMAK- Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Demak menyoroti berbagai hal persoalan yang terjadi diwilayah Demak. Diantaranya, maraknya pendirian retail atau toko modern. Ketua FKDM Khoirul...

Alat Ukur 14 SPBU Ditera Ulang

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Setelah resmi memiliki lembaga Meterologi sendiri, Pemerintah Kota Pekalongan gencar menggelar tera ulang. Selain ingin melindungi konsumen dari kecurangan pada alat...