Tlogopucang Alami Kekeringan Terparah

192
BANTUAN AIR BERSIH: Ketua Bhayangkari Cabang Temanggung Ny Sukma Maesa didampingi Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwo saat memberikan bantuan air bersih di Dusun Kedopoan, Desa Tlogopocang, Kecamatan Kandangan, Rabu (30/8) kemarin (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).
BANTUAN AIR BERSIH: Ketua Bhayangkari Cabang Temanggung Ny Sukma Maesa didampingi Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwo saat memberikan bantuan air bersih di Dusun Kedopoan, Desa Tlogopocang, Kecamatan Kandangan, Rabu (30/8) kemarin (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).

TEMANGGUNG—Sejumlah wilayah di Temanggung mengalami kekeringan. Dari sembilan kecamatan, salah satunya wilayah Kandangan. Di kecamatan itu, desa yang mengalami kekeringan terparah adalah Tlogopucang. Tlogopucang sendiri terdiri atas 9 dusun. Dari 9 dusun, 7 dusun rawan kekeringan.

“Belakangan ini, Desa Tlogopucang tengah booming pariwisatanya. Namun saat musim kemarau tiba, masyarakat kesulitan mencari air bersih,” kata Camat Kandangan Samsul Hadi.

Samsul menjelaskan, meski sudah ada Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi ( Pamsimas), namun belum bisa bisa menjangkau semua dusun. Karenanya, jika musim kemarau tiba, sumber air menipis, sehingga menyebabkan kekeringan. “Pak Bupati juga tengah mengusulkan adanya alat saluran air bersih yang diambil dari Sigandul Tlahap. Semoga usulan Pak Bupati, direspons positif oleh pemerintah pusat.”

Sulimah, 65, warga Dusun Kedopoan, Desa Tlogopocang, menuturkan, warganya mengalami kekurangan air bersih sejak dua bulan terakhir.

Untuk memenuhi kebutuhan air, warga harus ngangsu (mengambil) ke desa lain. Salah satunya, ke sumber air Pikatan. “Warga sini banyak yang mengambil air dari Pikatan, dengan membayar Rp 80 ribu secara rombongan. Bagi yang tidak bisa ikut, bisa membeli air per jeriken seharga 2.500 ribu.”

Selain mengambil air ke wilayah lain, sejak satu tahun terakhir ini, warga menyedot air melalui paralon dari sumber air Watulumbung desa setempat. Jaraknya sekitar 2 kilometer.

Sulimah menyampaikan, ada 42 kepala keluarga (KK) yang ikut program tersebut. Caranya, membayar administrasi biaya pasang Rp 1.250.000. Juga membayar iuran bulanan rata-rata Rp 50 ribu/KK. “Meski ikut program tersebut, air juga tak selalu mengalir setiap saat. Bisa mengalir biasanya saat malam dan siang hari.”

Kepala BPBD Temanggung Agus Sudaryono, menyampaikan, berdasarkan pemetaan BPBD Temanggung, ada 9 kecamatan yang tengah dilanda kekeringan. Namun, yang baru melapor atau minta dropping air bersih baru 6 kecamatan. Yakni, Pringsurat, Kaloran, Kandangan, Kranggan, Selopampang, dan Bejen. Tiga yang belum melapor adalah Jumo, Wonoboyo dan Tlogomulyo.

“Sejauh ini, kami telah melakukan dropping air bersih sebanyak 50 tangki. Per tangki berisi 5000 liter. Kita masih punya persediaan air bersih 350 tangki. Diperkirakan masih mencukupi sampai Oktober mendatang.”

Terpisah, kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Temanggung pada musim kemarau tahun ini, menjadi perhatian serius Polres setempat. Maka, dalam rangka menyambut HUT ke-69 Polwan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKBG) ke-65, Polres menyalurkan air bersih di dusun yang mengalami kekeringan.

Salah satunya, Dusun Kedopoan, Desa Tlogopocang, Kecamatan Kandangan. Untuk kegiatan ini, Polres menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Temanggung.

Selain dropping air bersih, Polres juga memberikan bantuan tandon air dan alat pompa air kepada warga Desa Tlogopucang. Bantuan tandon dan pompa air juga diberikan kepada warga Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, yang dilanda kekeringan.

“Kita berikan bantuan alat tersebut, dengan harapan ke depan warga tidak lagi kekurangan air bersih,” kata Kapolres AKBP Maesa Soegriwo di sela dropping air bersih.

Maesa melanjutkan, kegiatan yang dilakukan pihaknya bagian dari program Promoter (Profesional, Modern, dan Terpercaya) Kapolri. “Tidak ada niatan yang aneh-aneh. Kita membantu tulus ikhlas, Polri ingin dekat dengan masyarakat.” (san/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here