Musthofa Genjot Popularitas dan Elektabilitas

163
OPTIMISTIS: Bupati Kudus Musthofa (kiri) saat menghadiri pertemuan bacagub, bacawagub, dan tiga pilar partai di Panti Marhen, Selasa (30/8) malam (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
OPTIMISTIS: Bupati Kudus Musthofa (kiri) saat menghadiri pertemuan bacagub, bacawagub, dan tiga pilar partai di Panti Marhen, Selasa (30/8) malam (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG- Sebanyak 6 bakal calon gubernur (bacagub) dan 19 bakal calon wakil gubernur (bacawagub) lewat Partai Demokrasi Indoesia Perjuangan (PDIP) diminta untuk segera melakukan sosialisasi untuk meningkatkan polularitas dan elektabilitas. Sebab, dua faktor tersebut punya pengaruh besar bagi bakal calon mendapatkan tiket maju ke Pilgub Jateng, 2018 mendatang.

Salah satu bacagub sekaligus Bupati Kudus, Musthofa, mengaku siap menggenjot sosialisasi. Dia mengaku sudah punya strategi menggempur popularitas dan elektabilitas dirinya. Maklum, dia sudah punya pengalaman mengikuti pemilihan langsung.

“Saya sudah ikut (pemilihan) empat kali. Di DPRD provinsi pernah. Pilkada 2003 juga pernah dan gagal. Setelah itu berhasil di Pilkada, dua periode,” ucapnya ketika ditemui setelah menghadiri pertemuan bacagub, bacawagub, dan tiga pilar partai di Panti Marhen, Kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jateng, Selasa (30/8) malam.

Mulai hari ini, Musthofa akan langsung bergerak sosialisasi lebih terbuka sebagai bacagub. “Mulai detik ini, sudah diperbolehkan melakukan sosialisasi atas nama partai,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Musthofa juga menampik soal isu mahar yang harus dibayarkan ke DPP PDIP demi mendapatkan rekomendasi dari ketua umum. Sebab, tiga kali dia mendapatkan rekomendasi mengikuti pilkada tidak ada istilah mahar.  “Nggak ada mahar politik. Saya tiga kali mendapat rekomendasi, tidak ada yang namanya mahar. Itu saya nglakoni sendiri, bukan katanya,” tegasnya.

Menurutnya, ketua umum pasti punya alasan matang mengenai sosok yang berhak mendapatkan rekomendasi. Musthofa pun siap menerima apapun keputusan partai.

“Sepanjang Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan yang memerintahkan, jadi apapun siap. Termasuk jika disuruh balik kanan (tidak mendapat rekomendasi, Red) tetap setia kepada PDI Perjuangan,” ujarnya.

Mengenai acara silaturahmi malam itu, Musthofa menilai sangat baik. Menjadi ajang perkenalan setiap bacagub dan bacawagub kepada seluruh kader partai. Terlebih, nyaris semua kepala daerah dari PDIP dan pengurus inti DPD dan DPC PDIP se Jateng, juga menghadiri acara tersebut.

“Yang menarik, semua lapisan, dari kepala desa sampai gubernur, nyalon semua. Artinya, PDIP ini terbuka ‘byak’. Tak hanya terbuka, tapi sampai ‘byak’,” ujarnya.

Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto, mendorong semua bakal calon untuk menggelar sosialisasi di seluruh daerah di Jateng. Sebab, dari survei yang dilakukannya, beberapa waktu lalu, masih banyak bakal calon yang belum punya angka. “Makanya saya menegaskan untuk segera sosialisasi guna meningkatkan elektabilitas. Soalnya, tak kenal maka tak sayang,” katanya.

Dia mengakui, hasil survei memang belum bisa dijadikan patokan. Sebab, menjelang Pilgub 2013 lalu, angka survei elektabilitas Ganjar juga masih satu digit. Sementara Bibit Waluyo yang saat itu berstatus incumbent, menduduki peringkat pertama.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) 4-5 Agustus lalu, banyak warga yang belum menentukan pilihan.
Direktur LPSI Muchamad Yulianto mengatakan, fenomena itu menggambarkan peluang yang hampir sama antar calon yang muncul saat ini. “Dari hasil survei itu, mayoritas swing voters 55,1 persen juga belum menjatuhkan pilihan,” ucapnya.

Menurutnya, top of mind yang menunjukkan persepsi positif dan respons tertinggi sebagai hasil sosialisasi di PDI Perjuangan. Yakni ada  Ganjar Pranowo dan Bupati Kudus Musthofa.
Survei yang dilakukannya itu mengambil sampel sebanyak tiga ribu responden di 35 kabupaten/kota di Jateng. (amh/lil/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here