Doakan Leluhur lewat Ritual Cisuak

112
DOA BERSAMA: Para umat Kelenteng Tri Setia Bakti atau Kwan Sie Bio Jalan Tanggul Mas Raya, Semarang saat menggelar ritual cisuak yang dipimpin Suhu Thuan, kemarin. (bawah) Replika kapal berisi kertas doa para ahli waris dibakar bersama (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
DOA BERSAMA: Para umat Kelenteng Tri Setia Bakti atau Kwan Sie Bio Jalan Tanggul Mas Raya, Semarang saat menggelar ritual cisuak yang dipimpin Suhu Thuan, kemarin. (bawah) Replika kapal berisi kertas doa para ahli waris dibakar bersama (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG- Puluhan umat TITD Kelenteng Tri Setia Bakti atau Kwan Sie Bio Jalan Tanggul Mas Raya, Semarang, Rabu (30/8) kemarin, mengikuti ritual cisuak yang dipimpin oleh Suhu Thuan dari Gunung Kalong, Ungaran. Ritual yang diawali dengan pembacaan parita suci tersebut dilakukan di depan meja altar.

Dalam ritual cisuak tersebut, terdapat 10 meja altar. Yakni, 8 meja altar untuk leluhur yang mempunyai ahli waris, satu meja altar untuk yang tidak mempunyai ahli waris, serta satu meja altar untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah doa bersama, para ahli waris memasukkan kertas doa ke dalam replika kapal. Semua umat tampak bersemangat memasukkan kertas doa tersebut yang di sampingnya terdapat Tasieya yang merupakan dewa yang mengawal roh.

Ritual cisuak tersebut diakhiri dengan pembakaran replika kapal, yang tujuannya untuk membawa arwah menuju tempat yang layak, serta pembagian paket sembako kepada warga sekitar.

Ketua Yayasan Tri Setia Bakti, Prajito, mengatakan, kegiatan cisuak ini diikuti umat dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.  Mereka sengaja datang untuk mengikuti ritual yang telah dilakukan secara turun-temurun tersebut. Para umat membacakan doa-doa agar leluhur mereka bisa hidup tenang dan terhindar dari kesengsaraan.

“Mereka mendoakan leluhur dan mendoakan pemimpin negara Indonesia agar tetap sehat selalu. Sehingga bisa memimpin negeri ini dengan aman tanpa ada kesengsaraan,” katanya.

Suhu Thuan mengatakan, ritual ini sebagai bukti balas jasa kepada leluhur yang telah meninggal dunia dengan cara mendoakan agar hidupnya menjadi sejahtera.  “Dengan mengirimkan doa, harapannya para leluhur akan hidup sejahtera, dan tidak mengalami kekurangan apapun,” harapnya. (hid/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here