Beri Pelatihan Keterampilan Obat

135
PEDULI: Tiga dosen Prodi Farmasi UM Magelang saat memberikan penyuluhan pemiilihan obat kepada masyarakat di Pucanganom, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, kemarin (HUMAS UM MAGELANG UNTUK JP RADAR KEDU).
PEDULI: Tiga dosen Prodi Farmasi UM Magelang saat memberikan penyuluhan pemiilihan obat kepada masyarakat di Pucanganom, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, kemarin (HUMAS UM MAGELANG UNTUK JP RADAR KEDU).

MUNGKID—Persepsi masyarakat membeli obat di warung-warung, masih sangat tinggi. Padahal, obat yang dibeli, belum tentu sesuai dengan penyakit yang diderita.

Hal itu menarik minat tiga dosen Prodi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UM Magelang untuk melakukan salah satu dharma perguruan tinggi. Yakni, pengabdian pada masyarakat yang dituangkan dalam proposal berjudul Pemberdayaan PKK Desa Pucanganom Dalam Rangka Peningkatan Penggunaan Obat Rasional dengan Metoda CBIA.

Proposal tersebut berhasil mendapatkan pendanaan dari LP3M UM Magelang skema pendanaan Program Kemitraan Universitas (PKU) Tahun 2017. Tahun ini, UM Magelang melalui LP3M UM Magelang, mendanai tujuh proposal pengabdian kepada masyarakat.

Tiga dosen Farmasi yang melakukan kegiatan pengabdian adalah Heni Lutfiyati, M.Sc, Apt, Fitriana Yuliastuti M.Sc, dan Puspita Septie D, MPH., Apt. Kegiatan dipusatkan di Desa Pucanganom, Kecamatan Srumbung.

Heni Lutfiyati selaku ketua tim mengatakan, langkah awal yang dilakukan adalah melakukan survei pendahuluan. Tujuannya, untuk mengetahui penggunaan obat.

Kesimpulannya, kata Heni, berdasarkan hasil survei, permasalahan yang dihadapi masyarakat Pucanganom adalah banyaknya penggunaan obat–obat sendiri (swamedikasi) yang dilakukan oleh warganya. Padahal, tingkat pengetahuan masyarakat terkait penggunaan obat–obatan masih sangat rendah.

Tahap selanjutnya adalah memberdayakan PKK Desa Pucanganom yang beranggotakan 50 perempuan. Dari 50 anggota PKK, 35 anggota aktif mengikuti kegiatan.

Terkait hal itu, pihaknya memberikan pelatihan keterampilan memilih obat untuk swamedikasi. Sehingga menjadi penggerak masyarakat dalam penggunaan obat yang rasional.

“Metode yang digunakan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat adalah model pemberdayaan masyarakat partisipatif atau Participatory Rural Apraisal (PRA). Metode ini dipilih karena keterlibatan masyarakat dirasakan sangat penting untuk menyelesaikan masalah,” imbuh Heni.

Kepala Prodi D3 Farmasi itu menyampaikan, output kegiatan adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam memilih obat. Hasilnya, peserta antusias mengikuti kegiatan pelatihan.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Pucangano, Sri Widayati berterima kasih karena ia dan warganya telah mendapatkan pencerahan setelah mengikuti pelatihan tentang penggunaan obat yang rasional. “Setelah mengikuti pelatihan, kami menjadi paham tentang aturan meminum obat serta cara menyimpan obat yang baik dan benar.” (sct/vie/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here