BERI WAWASAN : Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Komaruddin Hidayat, memberikan pengarahan wawasan kebangsaan, bela negara, dan semangat belajar di Auditorium Universitas Tidar (Untidar), Selasa (29/8) (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
BERI WAWASAN : Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Komaruddin Hidayat, memberikan pengarahan wawasan kebangsaan, bela negara, dan semangat belajar di Auditorium Universitas Tidar (Untidar), Selasa (29/8) (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

MAGELANG– Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Komaruddin Hidayat, berpendapat, pluralisme di bumi Indonesia tidak bisa dibantah. Menentang keberagaman sama saja dengan menentang kehendak Tuhan YME. Pun, Bhinneka Tunggal Ika menjadi jati diri bangsa yang tidak bisa ditawar lagi oleh generasi masa kini dan masa depan.

Hal itu ditegaskan Prof Dr Komaruddin Hidayat kepada ratusan mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) dalam pengarahan wawasan kebangsaan, bela negara, dan semangat belajar di Auditorium Untidar, Selasa (29/8).

“Indonesia terdiri atas banyak suku, etnis, dan agama yang saling menyangga satu sama lain untuk keutuhan NKRI. Suku itu ibarat kaki yang mengakar kuat ke bawah, dengan berbagai budaya berbeda dan menjadi penyangga kepala bernama Indonesia,” kata profesor kelahiran Magelang ini

Komaruddin mengatakan, keberagaman juga sudah menjadi sunnatullah atau kehendak Allah SWT bagi keyakinan umat Islam. Allah SWT atau Tuhan Yang Maha Esa, menurut Komaruddin, bisa saja menciptakan makhluknya sama satu sama lain.

“Tapi, ternyata tidak, Allah justru menciptakan makhluknya berbeda-beda. Maka, bagi yang menentang keberagaman, sama saja dengan menentang kehendak Tuhan YME,” ucap alumni Pondok Pesantren Pabelan Magelang, itu.

Komaruddin mengungkapkan, para pendiri Indonesia sangat cerdas. Sebab, selain menciptakan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, juga menentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

“Banyak sekali bahasa di Indonesia dari Jawa, Sunda, Betawi, Bali, hingga Melayu. Kalau mau sombong, Bahasa Jawa bisa jadi bahasa nasional, karena paling banyak. Tapi, justru dipilih bahasa Melayu, karena lebih egaliter dan tidak menimbulkan kecemburuan pada bahasa lain.”

Para pendiri, menurut Komaruddin, memiliki pemikiran bahwa bahasa Melayu juga merupakan bahasa perdagangan yang mudah diterima oleh semua pihak. “Padahal, bahasa Melayu itu diambil dari kelompok terkecil, yang saat itu penuturnya hanya berkisar 400 ribuan. Tapi, kemudian semua pihak sepakat memilihnya sebagai bahasa nasional.”

Pada kesempatan itu, Komaruddin juga membakar dan mendorong semangat belajar mahasiswa agar dapat menguasai skill lebih. Harapannya, agar mampu bersaing setelah lulus.

“Kuliah tidak cukup hanya mengejar IPK, tapi skill. Percuma IPK tinggi, kalau skill tidak ada. Untuk menjadi Indonesia dan pemimpin bangsa, mulailah dari sekarang, bergaul dengan siapapun. Jika perlu pergilah ke luar negeri untuk belajar dan tambah wawasan.”

Rektor Untidar, Prof Dr Cahyo Yusuf MPd mengaku antusias atas kesediaan Prof Komaruddin mengisi wawasan kebangsaan dan bela negara di kampus Untidar. Terlebih, menurut Cahyo, Prof Komaruddin juga terlibat dalam upaya penegerian kampus yang berpusat di Kota Magelang ini.

“Saya berharap, para mahasiswa dapat mengambil ilmu dan wawasan dari yang disampaikan profesor. Sehingga mahasiswa ke depan mampu menjadi pemimpin bangsa.” (cr3/isk)