33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Menentang Keberagaman = Menentang Kehendak Tuhan

Another

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

MAGELANG– Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Komaruddin Hidayat, berpendapat, pluralisme di bumi Indonesia tidak bisa dibantah. Menentang keberagaman sama saja dengan menentang kehendak Tuhan YME. Pun, Bhinneka Tunggal Ika menjadi jati diri bangsa yang tidak bisa ditawar lagi oleh generasi masa kini dan masa depan.

Hal itu ditegaskan Prof Dr Komaruddin Hidayat kepada ratusan mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) dalam pengarahan wawasan kebangsaan, bela negara, dan semangat belajar di Auditorium Untidar, Selasa (29/8).

“Indonesia terdiri atas banyak suku, etnis, dan agama yang saling menyangga satu sama lain untuk keutuhan NKRI. Suku itu ibarat kaki yang mengakar kuat ke bawah, dengan berbagai budaya berbeda dan menjadi penyangga kepala bernama Indonesia,” kata profesor kelahiran Magelang ini

Komaruddin mengatakan, keberagaman juga sudah menjadi sunnatullah atau kehendak Allah SWT bagi keyakinan umat Islam. Allah SWT atau Tuhan Yang Maha Esa, menurut Komaruddin, bisa saja menciptakan makhluknya sama satu sama lain.

“Tapi, ternyata tidak, Allah justru menciptakan makhluknya berbeda-beda. Maka, bagi yang menentang keberagaman, sama saja dengan menentang kehendak Tuhan YME,” ucap alumni Pondok Pesantren Pabelan Magelang, itu.

Komaruddin mengungkapkan, para pendiri Indonesia sangat cerdas. Sebab, selain menciptakan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, juga menentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

“Banyak sekali bahasa di Indonesia dari Jawa, Sunda, Betawi, Bali, hingga Melayu. Kalau mau sombong, Bahasa Jawa bisa jadi bahasa nasional, karena paling banyak. Tapi, justru dipilih bahasa Melayu, karena lebih egaliter dan tidak menimbulkan kecemburuan pada bahasa lain.”

Para pendiri, menurut Komaruddin, memiliki pemikiran bahwa bahasa Melayu juga merupakan bahasa perdagangan yang mudah diterima oleh semua pihak. “Padahal, bahasa Melayu itu diambil dari kelompok terkecil, yang saat itu penuturnya hanya berkisar 400 ribuan. Tapi, kemudian semua pihak sepakat memilihnya sebagai bahasa nasional.”

Pada kesempatan itu, Komaruddin juga membakar dan mendorong semangat belajar mahasiswa agar dapat menguasai skill lebih. Harapannya, agar mampu bersaing setelah lulus.

“Kuliah tidak cukup hanya mengejar IPK, tapi skill. Percuma IPK tinggi, kalau skill tidak ada. Untuk menjadi Indonesia dan pemimpin bangsa, mulailah dari sekarang, bergaul dengan siapapun. Jika perlu pergilah ke luar negeri untuk belajar dan tambah wawasan.”

Rektor Untidar, Prof Dr Cahyo Yusuf MPd mengaku antusias atas kesediaan Prof Komaruddin mengisi wawasan kebangsaan dan bela negara di kampus Untidar. Terlebih, menurut Cahyo, Prof Komaruddin juga terlibat dalam upaya penegerian kampus yang berpusat di Kota Magelang ini.

“Saya berharap, para mahasiswa dapat mengambil ilmu dan wawasan dari yang disampaikan profesor. Sehingga mahasiswa ke depan mampu menjadi pemimpin bangsa.” (cr3/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This

Must Read

Sopir Ugal-ugalan, Bus Lorena Terguling

KENDAL—Sebuah bus lintas Bali-Sumatera terguling setelah menabrak jembatan  di Jalur Pantura Kendal, ruas Desa Patebon, Kecamatan Patebon, Jumat (24/3) kemarin, sekitar pukul 04.00 dini hari....

Temukan  5 Juta KTP Pemilih Terindikasi Bodong

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Tim Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) telah menemukan indikasi sebanyak 5 juta KTP pemilih Pilgub Jateng bodong. Diantaranya, karena ada nama...

Terapkan Pilkades dengan Sistem E-Voting dan E-Verifikasi

RADARSEMARANG.COM - PEMKAB Pemalang telah melakukan kerjasama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dalam penerapan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik untuk Pemilihan Kepala...

Teh Hijau Premium Jadi Produk Unggulan

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Komoditas teh di Kecamatan Paninggaran yang merupakan eks Program PIR telah mulai diusahakan sejak 1986. Total lahan sekitar 511 hektare. Kini...

Ngganja, Dua Warga Malaysia Dibekuk

JOGJA—Dua warga negara asing (WNA) yang diduga mengonsumsi ganja dibekuk petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Yogyakarta. Salah satu tersangka adalah mahasiswa. Sedangkan seorang lagi,...

Cinta Lingkungan

PELAJAR asing ikut menanam mangrove di kawasan Trimulyo, Genuk, Semarang, Minggu (23/4). Penanaman mangrove bertema ”Menyentuh Bumi dengan Hati” tersebut diprakarsai Gereja St Theresia...