33 C
Semarang
Minggu, 7 Juni 2020

Isu SARA Sulit Dibawa ke Jateng

Another

Didi Kempot Itu Nganggo Rasa dalam Memilih Kata (17)

Didi Kempot berperan penting melambungkan musik campursari serta meluaskan pemakaian bahasa Jawa, khususnya ngoko. ”Koder” dalam Sekonyong-konyong Koder contoh...

Didi Kempot: Bisa Tampil di Acaranya Mahasiswa Saja Saya Sudah Senang (16)

Di Jogjakarta, Didi Kempot berkonser, berkolaborasi, dan bertemu anak muda Papua yang fasih menyanyikan lagu-lagunya. Artis besar yang sama...

Kenangan dan Kesan Tak Terlupa Bekerja Bareng sang Legenda

Yuni Shara antusias saat ditawari berduet dengan Didi Kempot meski akhirnya tak sempat bertemu sampai selesai rekaman. Soimah juga...

SEMARANG – Isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) yang sempat menyelimuti Pilgub DKI Jakarta, dikhawatirkan bakal merambat pada Pilgub Jateng, 2018 mendatang. Dari hasil survei Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) mengenai pemetaan perilaku pemilih, 46,6 persen masih sensitif dengan keyakinan dan agama dalam pilihan politik.

Direktur LPSI, M Yulianto mengatakan, kekhawatiran mengenai isu SARA itu merupakan dampak atmosfer politik saat Pilkada DKI. Sebab jika menengok proses Pilkada selama ini, tidak pernah ada persinggungan mengenai keyakinan. “Pilkada DKI kemarin membunuh moral demokrasi. Sebab mengesampingkan integritas, kompetensi, seseorang dengan kepercayaan,” katanya.

Meski begitu, akademisi  dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menilai isu SARA akan sulit dibawa ke Jateng. Terlebih jika melihat nama-nama figur yang kini muncul ke publik, baik untuk bakal calon gubernur maupun bakal calon wakil gubernur, memiliki keyakinan yang sama.

Dia berharap, jika para calon memang ingin mempopulerkan dirinya dalam kontestasi Pilgub Jateng 2018, sebaiknya membawa isu lain. Seperti mengenai persoalan lingkungan, infrastruktur publik, dan kemiskinan. “Jangan soal SARA,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, berharap proses Pilkada serentak tahun 2018 di Jateng berjalan dengan lancar dan damai. Terlebih secara budaya, masyarakat di Jateng berbeda dengan daerah lain. “Mudah-mudahan sih tidak ada. terutama mereka yang trauma dengan di Jakarta. Kalau di sini, mau apa yang ingin dikembangkan SARA-nya,” katanya.

Dia pun bersyukur, sindikat penyebar meme dan konten tulisan berbau SARA dan ujaran kebencian telah berhasil diringkus aparat kepolisian. Hal itu menurut Ganjar, dapat memberi pemahaman ke masyarakat bahwa sebenarnya konten ujaran kebencian, fitnah, SARA, ada yang memproduksi. “Saracen tertangkap membuka mata masyarakat bahwa fitnah ternyata ada yang memproduksi,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng, Joko Purnomo mengungkapkan, kekhawatiran adanya isu SARA di Jateng sebenarnya berlebihan, sebab Jateng bukan Jakarta. Namun demikian, KPU akan mendesain Pilgub Jateng dengan mengedepankan toleransi yang tinggi.

“Selain membuat iklan layanan masyarakat, kita akan menggandeng seluruh elemen masyarakat dan tokoh agama, bahkan nanti kita juga koordinasi kelembagaan dari provinsi sampai kabupaten dan kota,” katanya. (amh/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Didi Kempot Itu Nganggo Rasa dalam Memilih Kata (17)

Didi Kempot berperan penting melambungkan musik campursari serta meluaskan pemakaian bahasa Jawa, khususnya ngoko. ”Koder” dalam Sekonyong-konyong Koder contoh...

Didi Kempot: Bisa Tampil di Acaranya Mahasiswa Saja Saya Sudah Senang (16)

Di Jogjakarta, Didi Kempot berkonser, berkolaborasi, dan bertemu anak muda Papua yang fasih menyanyikan lagu-lagunya. Artis besar yang sama sekali nggak ”ngartis”. ANA R.D.-LATIFA N.,...

Kenangan dan Kesan Tak Terlupa Bekerja Bareng sang Legenda

Yuni Shara antusias saat ditawari berduet dengan Didi Kempot meski akhirnya tak sempat bertemu sampai selesai rekaman. Soimah juga terus ingat satu nasihat dari...

Didi Kempot Berkawan dengan Berbagai Kalangan (14)

Karya-karyanya yang sukses melewati semua demarkasi pendengar musik mengantarkan Didi Kempot pada persahabatan yang tak pandang bulu. Dari pengamen sampai presiden. T.M. BAYUAJI-K. ULUM, BAYU...

Setan Sembunyi

Surabaya tidak lagi hanya merah. Tapi merah kehitaman. Pertanda wabah Covid-19 kian mengkhawatirkan. Apalagi ada berita medsos yang agak ngawur sebelumnya: Surabaya bisa seperti Wuhan....

More Articles Like This

Must Read

Berpotensi Tsunami, Simulasi Bencana

PURWOREJO—Bertempat di Desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, akhir pekan lalu, berlangsung simulasi penanggulangan bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo menyampaikan, simulasi untuk...

Dapat Ilmu Pede dari PR

RADARSEMARANG.COM - PROFESI Public Relation atau PR dinilai mampu memberikan ilmu-ilmu baru. Salah satunya, ilmu pede atau percaya diri. Hal inilah yang membuat Afra...

Hendi Warning Pejabat

SEMARANG - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberi warning keras kepada para pejabat di jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang coba-coba ’bermain’ atau memotong...

Wujudkan Temanggung Sebagai Surganya Kopi 

TEMANGGUNG—Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Cabang Temanggung akan menggelar Festival Kopi pada  20-22 Oktober 2017. Agenda rutin tahunan ini masuk tahun ke-3. Rencananya, kegiatan...

Jasa Bersihkan Bulu Hewan Kurban Panen

SEMARANG—Jasa membersihkan bulu hewan kurban di Jalan Bustaman RT 5 RW III, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, pada hari raya Idul Adha ini banjir...

Waspadai Tiga Titik Pasar Tumpah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sebanyak 52 pasar tradisional di Kota Semarang mendekati Lebaran terus dilakukan pemantauan. Dinas Perdagangan Kota Semarang menerjunkan sebanyak 40 personel keamanan dan ketertiban...