Isu SARA Sulit Dibawa ke Jateng

219
Yulianto Prabowo (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Yulianto Prabowo (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) yang sempat menyelimuti Pilgub DKI Jakarta, dikhawatirkan bakal merambat pada Pilgub Jateng, 2018 mendatang. Dari hasil survei Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) mengenai pemetaan perilaku pemilih, 46,6 persen masih sensitif dengan keyakinan dan agama dalam pilihan politik.

Direktur LPSI, M Yulianto mengatakan, kekhawatiran mengenai isu SARA itu merupakan dampak atmosfer politik saat Pilkada DKI. Sebab jika menengok proses Pilkada selama ini, tidak pernah ada persinggungan mengenai keyakinan. “Pilkada DKI kemarin membunuh moral demokrasi. Sebab mengesampingkan integritas, kompetensi, seseorang dengan kepercayaan,” katanya.

Meski begitu, akademisi  dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menilai isu SARA akan sulit dibawa ke Jateng. Terlebih jika melihat nama-nama figur yang kini muncul ke publik, baik untuk bakal calon gubernur maupun bakal calon wakil gubernur, memiliki keyakinan yang sama.

Dia berharap, jika para calon memang ingin mempopulerkan dirinya dalam kontestasi Pilgub Jateng 2018, sebaiknya membawa isu lain. Seperti mengenai persoalan lingkungan, infrastruktur publik, dan kemiskinan. “Jangan soal SARA,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, berharap proses Pilkada serentak tahun 2018 di Jateng berjalan dengan lancar dan damai. Terlebih secara budaya, masyarakat di Jateng berbeda dengan daerah lain. “Mudah-mudahan sih tidak ada. terutama mereka yang trauma dengan di Jakarta. Kalau di sini, mau apa yang ingin dikembangkan SARA-nya,” katanya.

Dia pun bersyukur, sindikat penyebar meme dan konten tulisan berbau SARA dan ujaran kebencian telah berhasil diringkus aparat kepolisian. Hal itu menurut Ganjar, dapat memberi pemahaman ke masyarakat bahwa sebenarnya konten ujaran kebencian, fitnah, SARA, ada yang memproduksi. “Saracen tertangkap membuka mata masyarakat bahwa fitnah ternyata ada yang memproduksi,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng, Joko Purnomo mengungkapkan, kekhawatiran adanya isu SARA di Jateng sebenarnya berlebihan, sebab Jateng bukan Jakarta. Namun demikian, KPU akan mendesain Pilgub Jateng dengan mengedepankan toleransi yang tinggi.

“Selain membuat iklan layanan masyarakat, kita akan menggandeng seluruh elemen masyarakat dan tokoh agama, bahkan nanti kita juga koordinasi kelembagaan dari provinsi sampai kabupaten dan kota,” katanya. (amh/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here