Penegakan Perda Anjal Belum Maksimal

220

AKTIVIS senior bidang anak Yayasan Setara Semarang, Yuli Sulistiyanto, menilai, kondisi ekonomi keluarga yang kerap menjadi sebab para orang tua “memaksa” anaknya yang masih di bawah umur turun ke jalan untuk mencari uang, baik menjadi pengemis, pengamen, hingga berjualan koran.

Relawan Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) ini juga menilai penegakan peraturan daerah (perda) tentang penanganan anak jalanan (anjal) di Kota Semarang belum maksimal. “Perda harus dijalankan melalui proses dan mekanismenya yang tepat. Seharusnya negara, baik itu pemerintah, DPR, dan penegak hukum bisa saling bersinergi, membuat terobosan program pencegahan deteksi dan penanganan terkait implementasi perda, serta mendorong partisipasi masyarakat,”katanya.

Yuli mengaku, yayasannya pernah mendampingi anak jalanan di Kampung Gunungsari Tandang, Kuningan, Bugangan, Karang Tempel, Tambak Lorok, sekitar Pasar Johar,  dan Gunung Brintik Randusari. Dari pantauannya, rata-rata anak dieksploitasi secara ekonomi dengan mempekerjakan di jalanan.     “Mulai disuruh jualan koran, mengemis, mengamen, jual, asongan, pemandu karaoke, dan banyak lagi. Mereka berada di perempatan, pasar, ruang publik, mal, dan sebagainya,”ujarnya.

Atas permasalahan itu, pihaknya mulai mengembangkan jaringan perlindungan anak di beberapa kelurahan di Kota Semarang dan mengembangkan forum anak. Pihaknya juga mulai mengembangkan sekolah ramah anak di berbagai sekolah, serta mengembangkan sanggar belajar di kampung-kampung bersama kelompok anak.  “Setara juga mendorong kebijakan dan membantu memberikan gambaran yang bisa dikembangkan pemerintah. Kami rutin mengampanyekan pemajuan hak anak dan perlindungan anak,”katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here