33 C
Semarang
Minggu, 27 September 2020

Modal Uang Saku, Kini Kelola Dua Koperasi

Dewi Nurcahya Ningsih, Pendiri Koperasi Anak Jalanan Gunung Brintik

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

Eksperimen Dewi Nurcahya Ningsih di luar kebiasaan anak muda. Ia nekat terjun langsung di dunia anak jalanan. Dewi mendirikan koperasi anak jalanan di dua kota, yakni Semarang dan Jogja. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PERJUANGAN Dewi Nurcahya Ningsih merintis koperasi anak jalanan benar-benar dari nol. Ia memulai saat masih duduk di kelas 1 SMA Negeri 3 Semarang pada 2011. Koperasi tersebut tidak sekadar koperasi biasa. Tetapi koperasi yang menjadi muara bisnis berbasis kegiatan sosial. Tentu hal ini tidak mudah. Ia memiliki perjalanan dan pengalaman panjang tentang seputar anak jalanan. “Awalnya 2011, saat itu saya masih kelas 1 SMAN 3 Semarang.  Saya sering melihat banyak anak jalanan di Tugu Muda. Saya berpikir, bagaimana caranya agar para anak jalanan itu bisa dapat uang, tapi tidak dengan cara mengamen,” kata Dewi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Akhirnya, dia berusaha melacak di mana tempat tinggal para anak jalanan tersebut menetap. Langkah pertama, Dewi mengajak salah satu temannya untuk pergi ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang. “Saya menilai Dinsos pasti tahu tentang informasi anak-anak jalanan. Akhirnya, saya mendapat informasi anak-anak jalanan tersebut menetap di daerah Gunung Brintik (sekarang Kampung Pelangi Semarang). Ternyata mereka beranak pinak di situ,” ujarnya.

Dia berupaya mendekati keluarga pengamen yang tinggal di daerah Gunung Brintik. “Saya temui tokoh masyarakat namanya Bu Prapto, beliau pernah jadi anak jalanan juga, tapi orangnya peduli. Saya dibantu diperkenalkan ke beberapa orang. Saya janjian ketemu dengan anak jalanan. Saya ikut ngamen dua minggu. Pulang sekolah sore hari, ganti baju, langsung ikut ngamen bersama mereka agar dapat hati mereka,” katanya.

Setelah akrab, lanjut Dewi, sedikit demi sedikit ia tawarkan kepada mereka soal koperasi dan memerkenalkan bisnis sederhana. Ia mengajarkan bagaimana agar uangnya bertambah. “Mereka awalnya juga males, hanya ada dua orang pengamen yang ikut. Saya ikut ngamen 10 orang, yang ikut koperasi hanya 2 orang. Tapi lama-kelamaan, begitu tahu koperasi bisa bertahan dan berkembang, teman-teman mereka tertarik, hingga 12 anak jalanan ikut koperasi,” kenangnya.

Dia perkenalkan konsep koperasi, mulai adanya simpanan pokok, simpanan wajib, sukarela, dan seterusnya. “Saya juga ikut iuran. Modal pertama hanya Rp 15 ribu, uang saku saya sekolah. Uang modal tersebut kemudian ‘diputar’ untuk menjalankan bisnis jualan gorengan. Saya ajak anak-anak jalanan di Tugu Muda untuk jualan gorengan. Uang keuntungan tidak dibagi semuanya, melainkan disisihkan keuntungannya untuk ditabung setiap hari. Sebagian dibagi untuk kebutuhan setiap hari,” katanya.

Baru dua minggu berjalan, lanjutnya, ternyata uang modal Rp 15 ribu tersebut bisa berkembang menjadi Rp 300 ribu. “Saya berpikir, ternyata bisnis itu tidak harus modal banyak, tapi niat dan prihatin. Duit yang ada tidak dihabisin, tapi dibuat modal. Itu berhasil mengurangi intensitas mereka mengamen, sekaligus mengajari kemandirian berbisnis,” ujarnya.

Ketika 2013 itu, dia masuk kuliah di Undip mendirikan program kreativitas mahasiswa. Ini juga menjadi pengembangan koperasi anak jalanan yang didirikan 2011. Program itu diberi nama dynamic learning. “Selain memberdayakan anak-anak jalanan, kali ini kami juga harus memberdayakan orang tuanya juga. Karena kalau hanya anak-anaknya aja yang dididik di rumah singgah, ternyata tidak efektif untuk mengurangi jumlah anak jalanan. Jadi perlu melibatkan orang tuanya yang menyuruh anaknya turun ke jalan. Maka kami bikinkan online shop untuk orang tuanya,” katanya.

Kegiatan itu berkembang, selain di Kota Semarang, didirikan koperasi anak jalanan di Sleman Jogja. “Kalau di Semarang berkantor di Gunung Brintik, sedangkan di Jogja tepatnya di Caturharjo Sleman. Di sana ada anak-anak putus sekolah. Selama ini konsep ini berhasil diterapkan di masyarakat marginal. Selain itu kami juga melebarkan sayap bagi orang pasca rehabilitasi pengguna narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN),” kata dara kelahiran Semarang, 24 Juli 1995 ini. Saat ini ada 57 anak jalanan, 12 ibu orang tua anak jalanan, 10 anak putus sekolah, dan 20 orang pasca rehabilitasi narkoba.(*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Jateng Bantu Rohingya Rp 256 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemprov Jateng menyerahkan bantuan yang dihimpun dari masyarakat dan berbagai lembaga di Jateng, untuk masyarakat Rohingya Myanmar. Yakni, berupa uang tunai sebesar Rp...