Chusna Pradipta Ekiyani (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
Chusna Pradipta Ekiyani (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

BAGI Chusna Pradipta Ekiyani, antara organisasi dan menyelesaikan tugas akademik harus seimbang. Pasalnya, keberhasilan dalam bidang akademik sangat penting bagi setiap pelajar maupun mahasiswa, karena itulah yang akan menjadi bekal di masa depan. Selain itu, sebagai wujud tanggung jawab terhadap orang tua untuk meningkatkan kualitas diri dan membentuk karakter diri.

Sedangkan pentingnya organisasi bagi mahasiswi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang lahir di Pemalang, 25 Februari 1996 ini, tidak bisa diukur dengan nilai, tapi bisa dirasakan. Terbukti, dirinya yang dulu pemalu, pendiam, jarang berkomunikasi dan kerap merasa cemas saat berbicara di depan umum, semua teratasi setelah mengikuti organisasi.

“Sekarang bisa tenang berbicara di depan umum, terutama saat presentasi di depan kelas. Kini, lebih bisa melakukan interaksi sosial dari sebelumnya. Selain itu, mampu melatih kemampuan kepemimpinan,” kata gadis yang akrab disapa Eky kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Tak mengherankan, anak pertama dari 4 bersaudara dari pasangan suami istri Alwi Sibromalisi dan Sri Khayati ini memiliki segudang pengalaman di berbagai organisasi kampus. Mulai menjadi Sekretaris Bidang Advokasi dan Relasi hingga menjadi Ketua Umum pada HIMA Prodi BK UPGRIS. Selain itu, staf Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa UPGRIS.

Dia juga dipercaya sebagai staf bidang akademi dan profesi pada IMABKIN PD Jateng, kemudian Sekjen Partai Mahasiswa PSBK dan saat ini menduduki Staf Komisi B Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) di UPGRIS. “Organisasi bisa sebagai wadah meningkatkan potensi, dan mencari prestasi di luar akademik. Pembelajaran tersebut jarang bisa diperoleh di dalam kelas,” ungkapnya.

Terkait membagi waktu, Eki sangat ketat. Waktunya kuliah digunakan untuk kuliah, sedangkan saat di organisasi untuk organisasi. “Kuliah diutamakan dan organisasi dinomorsatukan, sehingga semua bisa berjalan beriringan. Nilai akademik harus ditonjolkan, agar bisa membuktikan bahwa mahasiswa aktifis juga memiliki kemampuan yang sama dengan mahasiswa non aktifis,” ujarnya. (jks/ida)