31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Bupati Asip Motivasi Sekolah Terpencil

KAJEN – Pemkab Pekalongan ingin menghilangkan dikotomi pendidikan atau perbedaan pelayanan pendidikan antara daerah bawah atau perkotaan yang ada di Kecamatan Wiradesa, Bojong, Kedungwuni, Kajen, Tirto, Siwalan dan Wonoringgo, dengan daerah atas pegunungan seperti Kecamatan Petungkriono, Lebakbarang, Paninggaran, Doro dan Kandangserang. Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, secara kontinyu dan berkelanjutan memantau pelayanan pendidikan di daerah atas tersebut.

Bahkan untuk memastikan Ujian Nasional (UN) tingkat sekolah dasar berjalan dengan baik, Rabu (17/5) Asip Kholbihi, bersama dengan tim Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) terkait, menginap di Desa Simego, Kecamatan Petungkriono, Kabupaten Pekalongan. Yakni salah satu SD terpencil yang berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 2460 mdpl.

Bukan itu saja, Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Pekalongan, Hj. Munafah Asip Kholbihi turut memantau proses pembelajaran PAUD yang ada di Desa Simego, Kecamatan Petungkriono. Hj. Munafah juga sempat mengajar di PAUD Melati Simego untuk memastikan proses belajar mengajar anak sesuai dengan standarisasi yang telah ditetapkan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, mengungkapkan untuk menghilangkan dikotomi pendidikan daerah atas dan bawah, Pemda akan menyediakan akomodasi untuk para pengajar atau pendidik. Karena sebagian besar pengajar adalah guru yang berasal dari daerah bawah atau perkotaan. Dengan disediakannya akomodasi untuk pendidik yang layak, dan para pengajar bisa membawa keluarganya. Sehingga para pengajar bisa fokus mengajar di daerah atas atau tempatnya bekerja.

Bupati juga akan mewajibkan semua siswa yang lulus Sekolah Dasar di daerah atas, untuk melanjutkan pendidikan tingkat SMP dan SMA.

Hal itu dilakukan untuk menekan angka urbanisasi di daerah atas. Karena selama ini pemuda usia sekolah SMP dan SMA. Banyak yang bekerja di luar kota bahkan menjadi Tenaga Kerja di luar negeri, tanpa skill yang mumpuni.

Dengan meningkatnya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang berpendidikan tinggi di daerah atas, maka diharapkan para generasi muda tersebut akan mengisi lapangan pekerjaan di daerah atas. Mengingat Pemda Pekalongan saat ini sedang mengembangkan Kawasan Wisata Tekno Forestry Park Petungkriyono, dan pengembangan industri berbasis pertanian, seperti Kecamatan Petungkriono di Desa Gumelem dan Desa Simego, daerah penghasil kentang terbaik di Indonesia.

“Bagi orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya pada jenjang SMP atau SMA, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan akan melakukan pendekatan khusus, agar orang tua tersebut bersedia menyekolahkan anaknya. Bahkan Pemda akan memberikan bantuan khusus jika memang memungkinkan untuk dibantu,” ungkap Bupati Asip.

Pemda tidak hanya akan menyiapkan infrastruktur untuk pendidikan di daerah atas, namun juga akan mengirim pendidik-pendidik dan Kepala Sekolah terbaik dari daerah bawah, untuk mendidik dan menjadi kepala sekolah. Sehingga kualitas pendidikan antara daerah atas dan bawah tidak ada perbedaan.

Bahkan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, telah menyiapkan sejumlah program untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM) berbasis peta dan kebutuhan pendidikan, standarisasi metode proses pembelajaran akan mutu yang berkualitas, menjalin kerjasama dengan USAID Prioritas. Melakukan standarisasi manajemen berbasis baik pada sekolah maupun Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) terkait untuk mendukung proses pembelajaran.

Melakukan terobosan dengan membuat inovatif program pendidikan, dengan mengaplikasi dan memodifikasi model percontohan yang telah ada, untuk diterapkan pada sekolah di daerah atas, atau daerah lain yang grade pendidikannya dinilai kurang. Bahkan penilaian kualitas pendidikan dan evaluasi akan terus dilakukan, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dari sekolah yang sebelumnya grade C dipacu untuk menjadi B. Demikian juga untuk sekolah grade B menjadi A, dan A menjadi A plus.

“Jika stimulan ini kita lakukan secara terus menerus, dan fokus pada program yang telah ditetapkan, dan adanya dukungan sarana prasarana yang memadai. Maka pelayanan dan kualitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan menjadi baik, visi dari menghilangkan dikotomi pendidikan akan berjalan dengan baik pula,” jelasnya.

Karena banyak sekolah model dengan kualitas pelayanan dan pendidikan di Kabupaten Pekalongan sudah ada, seperti salah satunya SMP Negeri 1 Wiradesa, yakni salah satu sekolah yang menjadi rujukan dari sekolah lain luar Kabupaten Pekalongan. (thd/adv/ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here