Perbedaan Sebagai Penguat Bangsa

  • Bagikan
Sebanyak 6.815 mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (Unnes) membentuk mozaik Garuda Pancasila saat acara pembukaan Program Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (PPAK) di Lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unnes, kemarin (istimewa).
Sebanyak 6.815 mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (Unnes) membentuk mozaik Garuda Pancasila saat acara pembukaan Program Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (PPAK) di Lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unnes, kemarin (istimewa).

SEMARANG – Negara Indonesia merupakan komunitas karakter dan pengalaman sehingga terbentuk kehidupan ke-Bhinnekaan. Kemerdekaan yang diperoleh adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

“Kemerdekaan tersebut pun tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan yang kemudian mewariskan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ungkap Kasdam IV/Diponegoro Brigjen TNI M. Sabrar Fadhilah dalam seminar “Pemantapan Semangat Wawasan Kebangsaan NKRI Harga Mati” di Gedung Serbaguna Vihara Buddhagaya, Watugong. Kegiatan tersebut diselenggarakan Yayasan Buddhagaya dan Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia (FPBI), Minggu (20/8).

Seminar tersebut dihadiri berbagai lapisan masyarakat mulai dari TNI, Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM dan mahasiswa. Pembicara yang hadir KH. Nuril Arifin dan YM. Bhikku Jayameddho dengan moderator Harjanto Halim.

Terkait dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, Kasdam mengingatkan penggunaan teknologi khususnya media sosial. Karena dengañ kemajuan teknologi juga mempunyai dampak positif dan negatif. “Disadari atau tidak, paham dampak dari media sosial telah merasuk ke dalam kehidupan masyarakat, bahkan paham radikalisme bisa disebarkan melalui media tersebut,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sabrar mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus menularkan virus nasionalisme dari Sabang sampai Meurake untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Pembicara lainnya, KH Nuril Arifin atau Gus Nuril memandang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia harus dipahami sebagai kegotongroyongan antar sesama manusia. Tetapi banyak yang tidak paham tentang persatuan dan kesatuan, tetapi bertingkah seakan-akan tahu sehingga dapat memecah belah persatuan bangsa Indonesia.

“Banyak orang yang asal omong saja, tetapi omongannya tidak karuan sehingga dapat membahayakan. Selain itu banyak yang ingin memanfaatkan perbedaan negara Indonesia untuk menghancurkan Indonesia. Oleh karena itu saatnya untuk tampil bersama menjaga NKRI,” katanya.

Sementara itu Bhante Jayamedho mengatakan suatu kelompok yang terrdiri dari berbagai perbedaan-perbedaan. tetapi perbedaan itu tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling menguatkan satu dengan yang lain. “Sebagai sesama bangsa Indonesia, mari saling menghargai dan saling menghormati agar Indonesia menjadi kuat dan perbedaan itu tidak untuk dipertentangkan,” katanya. (hid/ric)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *