33 C
Semarang
Minggu, 25 Oktober 2020

Tak Minta Royalti, Diterima Masyarakat Yoyok Bahagia

Karya Seniman Tari, Angkat Nama Kota Semarang

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

Para seniman Semarang punya andil untuk mengenalkan kota kelahirannya di kancah nasional. Salah satunya lewat karya. Sudah banyak tarian yang diciptakan, melekat di jagat seni nasional. Sebut saja Tari Denok Deblong, Warak Dugder, Kuntul, Batik Semarangan, dan masih banyak lagi. Seperti apa?

YOYOK Bambang Priyambodo boleh dibilang paling produktif soal menciptakan tarian khas Semarang. Tidak sedikit karyanya yang dinobatkan menjadi tarian khas Semarang. Denok Deblong merupakan satu master piece-nya. Tarian itu kerap dibawakan di luar Kota Semarang. Seperti Surakarta, Pekalongan, Jogja, bahkan pernah dibawakan penari luar negeri. Yakni Malaysia, Tiongkok, dan Jepang.

“Dulu saya kerap diundang daerah lain untuk jadi juri lomba tari. Ternyata yang dilombakan itu tari karya saya sendiri,” ucap pengasuh Sanggar Greget ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski ditiru banyak seniman yang kadang dijadikan tontonan komersial, Yoyok tidak meminta royalti. Menurutnya, sesama seniman, tidak harus saling ambil keuntungan. Jika tarian itu memang diterima di masyarakat, tidak masalah bagi Yoyok.

Tak hanya ditiru, Tari Denok Deblong yang menggunakan iringan musik Gambang Semarang ini kerap dijadikan bahan tesis atau skripsi mahasiswa seni. Mulai dari Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI), ISI Jogja, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Unnes, UNS, dan UKJ.

Maklum, tarian yang dibuat Yoyok tahun 1980-an itu memang rancak ketika ditampilkan. Penari berlenggak-lenggok sembari membawa kipas. Diiringi irama Gambang Semarang besutan Ki Nartho Sabdo, para penari lincah menari dengan gerakan yang menggambarkan orang Semarang asli.

Dijelaskan Yoyok, Denok Deblong merupakan sebutan khas masyarakat Semarang untuk remaja putri, sementara deblong berarti timangan dari sosok ibu kepada putrinya yang bermakna kecantikan, kepandaian, dan keanggunan.

Selain Denok Deblong, Tari Batik Semarangan, Tari Kuntul, dan Tari Topeng juga kerap menjadi perhatian seniman di luar Semarang. Bahkan, tarian tersebut didokumentasikan di Taman Budaya Surakarta (TBS). Selain untuk diskusi, juga menjadi bahan untuk belajar tari seniman di sana.

Tari Warak Dugder dan Tari Manggar Warak yang diciptakan Yoyok antara tahun 1989 dan 1990-an juga tidak kalah tersohor. Warak Dugder justru menjadi pertunjukan wajib ketika warga Semarang menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Biasanya, tari tersebut dibawakan sejumlah penari Sanggar Greget di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Yoyok mengaku, memang sengaja menciptakan tarian khas Semarangan. Baginya, itu wujud pengabdian terhadap kota kelahirannya. “Saya lahir di Semarang. Besar di Semarang. Makan juga dari Semarang. Lantas, apa yang saya berikan untuk Semarang?” katanya.

Pria berambut gondrong ini pun mencoba mengambil intisari dari tembang ciptaan Ki Narto Sabdho yang sudah diakui dunia sebagai seniman yang mengangkat nama Kota Semarang. Tembang itu menjadi kiblat Yoyok untuk menciptakan musik pengiring tari ciptaannya. Meski tidak semua menganut aliran Ki Narto Sabdho.

Soal gerakan tari, Yoyok terjun langsung ke tengah masyarakat untuk menggali kebiasaan warga Semarang. Bagaimana emosionalnya, cara menyikapi masalah, kearifan lokalnya, kebiasaan baik serta buruknya, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, Yoyok juga mengeksplorasi topografi Kota Semarang yang punya hampir seluruh unsur alam. Ada laut, dataran rendah, hingga pegunungan.

“Itu saya potreti satu-satu. Kemudian disusun sesuai urutan. Setelah itu masuk ke pengendapan. Istilah Jawa kan ada yang namanya menep. Kalau orang sekarang mungkin bilangnya meditasi,” ucapnya.

Ketika masuk ke tahap pengendapan itu, Yoyok lebih bebas bermain dengan imajinasinya. Menerjemahkan semua hasil riset dan pengamatannya tentang Semarang, menjadi gerak tari yang bisa merangkum semuanya.

Dari pengalamannya, membuat satu tarian bisa sampai 1 tahun. Meski ada yang hanya hitungan bulan. Yoyok memberi gambaran, biasanya membuat lagu iringan tari bisa sampai tiga bulan. Begitu juga koreografinya. Berarti, sudah enam bulan. Tapi itu belum matang benar, karena harus melewati tahap klop dulu. Klop antara gerakan tari dan musik, atau antara musik dan gerakan tari. “Kadang musiknya yang diubah, kadang gerakannya. Kadang diubah semua,” bebernya.

Meski dirasa sudah klop, Yoyok tak langsung puas. Biasanya dia sajikan dulu di depan seniman-seniman Jateng yang memang punya bobot di dunia seni tari. Setelah itu, didiskusikan untuk menyempurnakan tari itu. “Kalau ada yang perlu diubah, ya diubah. Termasuk kostum tarinya,” katanya.

Belakangan, dia menciptakan Tari Pesona Semarang. Tarian itu dibuat secara kilat untuk menjadi tarian pembukaan gelaran Jateng Fair di PRPP Semarang, beberapa waktu lalu. Tarian itu menggambarkan kekayaan alam Jateng. Termasuk kearifan lokal gotong royong, tepo sliro, dan lain sebagainya.

Yoyok membeberkan, ketika melahirkan tari Semarangan ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Rambu itu menjadi patokan untuk disematkan di dalam kostum, rias, gerakan dan iringan musik khas Semarang. Untuk kostum dan rias, memang sengaja mengambil gaya orang Arab dan China karena budaya Semarang terpengaruh dengan budaya dua daerah tersebut. Seperti bentuk jambang dari China. Di kening ada riasan sogokkan‘, kain jarik dan kebaya corak Semarang, dan lain sebagainya.

Mengenai gerak, ada yang namanya unjal jolo. Gerakannya nyaris seperti nelayan ketika melempar jala. Ada juga yang namanya jinjit mentul. Gerakan itu menggambarkan watak orang Semarang yang halus, tapi punya sisi emosional yang menghentak-hentak. Tidak ketinggalan gerakan megol bokong (goyang pantat) endog remek. “Megol bokongnya berbentuk angka sembilan. Seperti konde orang Semarang kan bentuknya mirip angka delapan,” paparnya.

Meski bangga karyanya diakui Pemkot Semarang dan masyarakat menjadikan tarian khas Semarangan, Yoyok juga merasa prihatin. Sebab, dewasa ini, tidak ada sanggar atau seniman lain yang berniat menciptakan tari khas Semarangan. Padahal makin banyak tarian yang diciptakan, gairah seni tari di Semarang akan semakin berwarna. “Sebaiknya Pemkot juga ikut turun tangan. Minimal memfasilitasi teman-teman untuk berkarya,” harapnya.

Salah satunya adalah menjadikan tari Semarangan menjadi bahan ajar seni di dunia pendidikan. Anak-anak sekolah diajarkan tari Semarangan veri si A, si B, dan lain-lain. Dengan begitu, seniman atau sanggar akan punya motivasi untuk menciptakan tari. “Setidaknya Pemkot mengadakan workshop mengenai tari Semarangan. Kalau dibiarkan seperti ini, tidak ada inovasi lagi. Hanya itu-itu saja,” terangnya. (amh/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Properti di Awal Tahun Lesu

SEMARANG – Pasar properti di awal tahun masih belum terlalu bergairah. DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng mencatat hasil penjualan properti pada pameran awal...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...