33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Kenalkan Kembali Permainan Tradisional Anak

Lebih Dekat dengan Komunitas Kampoeng Hompimpa

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Perilaku anak di beberapa kota saat ini cenderung individual. Kondisi tersebut, banyak dipengaruhi permainan digital, seperti game online dan sosial media. Karena itulah, Kampoeng Hompimpa, salah satu komunitas yang peduli terhadap perkembangan anak, berusaha mengenalkan kembali permainan tradisional. Seperti apa?

WARDAH HAMRA

PERMAINAN tradisional, kini sudah terasa asing. Seperti lompat tali, egrang, dinoboy, engklek, bakiak, gobak sodor, dan lainnya, sudah jarang ditemui, apalagi dimainkan oleh anak zaman modern saat ini. Tragisnya lagi, perilaku anak yang cenderung individual tersebut, tak hanya di kota-kota besar, tapi sudah merambah masyarakat pedesaan.

Muhammad Miftah, mahasiswa jurusan Technopreneurship, Surya University, Tangerang yang semula menjadikan fenomena tersebut untuk melakukan penelitian perilaku anak di beberapa kota, kini mendirikan Kampoeng Hompimpa (KH). Bahkan, sudah membentuk KH Regional Kota Semarang sejak 22 Desember 2016. “Melalui permainan tradisional ini, kami berharap bisa menjaga kearifan lokal serta sebagai media pembelajaran bagi kehidupan anak-anak,” kata Ketua KH Regional Semarang, Anita Safitri.

Mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini menjelaskan bahwa komunitas yang baru berumur hampir satu tahun ini, memiliki beberapa program utama yaitu #DolananYuk, Hompimpa ke Sekolah dan Festival Hompimpa.

Program #DolananYuk ini, merupakan kegiatan rutin mingguan, dengan melakukan permainan tradisional yang dilaksanakan setiap 2 minggu sekali di sekitar lingkungan masyarakat seperti Car Free Day, alun-alun, dan desa. Kemudian Hompimpa ke Sekolah merupakan agenda rutin bulanan. Dan terakhir, Festival Hompimpa merupakan agenda tahunan.

“Untuk yang Car Free Day, kami menyelenggarakan setiap 2 minggu sekali di Simpang Lima. Lokasinya di Jalan Pahlawan, depan Bank Mandiri. Sedangkan yang Hompimpa ke Sekolah agenda rutin bulanan, target peserta ya pelajar SD, SMP, dan Panti Asuhan. Terakhir, Festival Hompimpa, ini agenda tahunan dengan mengadakan lomba permainan tradisional serta memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI,” kata Anita yang didampingi Divisi Marketing KH Regional Semarang, Faris Zulfikar.

Terkait program Hompimpa ke Sekolah tahun 2017 ini, memiliki tema Play and Learn Together. Kegiatannya melakukan kunjungan langsung oleh Komunitas Kampoeng Hompimpa ke sekolah yang bersedia bekerjasama. Kegiatan ini diawali dengan edukasi atau presentasi oleh tim dan volunteer KH Regional Semarang tentang permainan tradisional meliputi pengertian, manfaat, sejarah, nilai moral, jenis-jenis permainan dan sebagainya.

Setelah sesi presentasi, peserta didik dikenalkan dan dijelaskan tentang beberapa permainan tradisional beserta cara mainnya. Selanjutnya, langsung dimainkan bersama-sama di halaman sekolah.

Usai bermain bersama, dilakukan juga sesi evaluasi oleh tim KH Regional Semarang kepada para peserta didik dengan kegiatan yang telah dilaksanakan. Sebagai bahan indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dari kegiatan Hompimpa ke Sekolah serta media sarana dan kritik untuk kegiatan Kampoeng Hompimpa Semarang ke depannya.

“Alhamdulillah, setiap acara yang kami gelar, antusias para pengunjung melebihi ekspektasi. Bahkan banyak request dari guru-guru untuk mengadakan festival dolanan tradisional di sekolah,” ungkap Anita.

Selain program tersebut, komunitas yang memiliki jargon “Bermain-Belajar-Lestarikan” ini memiliki program pendataan dan publikasi artikel tentang permainan tradisional yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia. “Kami berupaya memperkenalkan kembali dan menjaga keutuhan permainan tradisional sehingga bisa mencegah kepunahan,” tuturnya.

Komunitas Kampoeng Hompimpa yang berpusat di Kota Tangerang ini, sudah memiliki 3 regional, yakni Kampoeng Hompimpa Regional Semarang, Regional Pontianak, dan Regional Jogjakarta. “Di Semarang, komunitas ini berlokasi di Banaran RT 04/ RW 04 Gang Kantil No 50 C Sekaran Gunungpati, Semarang,” imbuh Faris mahasiswa mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Optimistis Target 2017 Tercapai

SEMARANG – Ditengah kondisi pasar property yang lesu, Bukit Semarang Baru (BSB City)  dan BSB Village mampu mengalami pertumbuhan cukup bagus. Bahkan penjualan rumah...

BJL 2000 Evaluasi Total

SEMARANG – Peluang tim BJL 2000 Semarang menembus babak final four ajang Pro Futsal League (PFL) 2017 sudah tertutup, menyusul hasil buruk dalam laga...

Yoyok Paparkan Sistem Pencegahan Korupsi

BATANG - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan memanggil Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo. Pemanggilan tersebut, dibenarkan Kabag Humas Kabupaten Batang Triossy Juniarto. Bahwa bupati...

Kekeringan di Demak Meluas

DEMAK- Musim kemarau menyebabkan kekeringan di Demak meluas. Di Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar misalnya, warga mengalami kesulitan air bersih lantaran sumur warga mengering. Untuk mengatasi...

Tingkatkan Eksistensi Produk Lokal

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Pemerintah Kota Semarang terus berupaya mendorong keberadaan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Salah satu rangsangan yang diberikan adalah melalui pameran...

Pasang 500 CCTV di Daerah Rawan

SEMARANG - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menargetkan 500 Closed Circuit Television (CCTV) terpasang di semua tempat umum, terutama taman-taman kota. Pemasangan CCTV ini...