32 C
Semarang
Kamis, 19 November 2020

Niet Mijn Naam, Maar Mijn Werk Zij Gedacht

Johannes Van der Steur, Rawat Kaum Papa dengan Kasih

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Di antara deretan ruko, riuh pejalan kaki, dan lalu lalang kendaraan bermotor di Jalan Ikhlas Kota Magelang, bersemayam jasad sesosok berkebangsaan Belanda yang sangat welas asih kepada sesama: Johannes Van der Steur.

DARI luar, makam Johannes Van der Steur sulit untuk dilihat. Menelusuri  Jalan Ikhlas, hanya tampak deretan ruko yang menawarkan aneka barang dagangan. Nah, di antara deretan ruko itu—tepatnya di dalam salah satu ruko—terdapat makam Johannes Van der Steur.

Tetenger makam sama sekali tidak mencolok. Hanya terbuat dari papan kayu bercat hitam, bertuliskan: Komplek Pa vander STEUR. Memang terdengar seperti makam di dalam ruko. Padahal, dulu ruko-ruko itulah kerkhof alias makam orang-orang Eropa di Magelang.  Tetenger lain yang masih tersisa, hanya pintu masuk kerkhof, berupa gerbang kokoh berarsitektur khas Eropa. Letaknya di seberang deretan ruko. Setelah pintu rolling door ruko terbuka, maka akan  tampak beberapa makam Belanda. Salah satunya, makam Johannes Van Der Steur. Ia lahir pada 10 Juli 1865 dan meninggal  pada 16 September 1945.

Salah satu ahli waris penjaga makam Van der Steur adalah Veronika Tatik, 58. Tatik mengenang, Pa—panggilan intim Johannes Van der Steur— mengabdikan diri untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anak asuhnya. “Pa selalu berpesan kepada anak asuhnya, selama hidup di dunia, haruslah berbuat untuk sesama,” ucap Tatik. Kata Tatik, di akhir hidupnya, Pa kondisinya sakit-sakitan, karena ditahan tentara Jepang. “Setelah Jepang pergi dari Indonesia, Pa dibebaskan dalam kondisi sakit-sakitan di penjara. Kesehatan Pa semakin memburuk. Pada akhirnya, tanggal 16 September 1945, Pa meninggal.”

Johannes Van der Steur atau lebih dikenal dengan nama Pa Van der Steur  adalah seorang misionaris. Sejak muda, Pa tumbuh dengan jiwa sosial tinggi. Rasa berbaginya besar. Itulah yang kemudian membuat Pa, pada akhirnya, memilih jalan hidup sebagai misionaris. Pa lahir di Harleem, Belanda pada 10 Juli 1865 silam. Pada 10 September 1892—saat berusia  27 tahun—Pa Van der Steur berlayar ke Hindia Belanda, dengan kapal Conrad. Tugas Pa, mengurus rumah para serdadu Belanda di Kota Magelang.

Apa yang dilihatnya selama di Kota Magelang, membuat hati Pa iba. Ia miris sekaligus prihatin melihat anak-anak telantar, hidup berkesusahan. Sebagian di antaranya merupakan anak-anak Indo, hasil pernikahan orang-orang Belanda dengan perempuan pribumi. Perempuan yang digundik orang-orang Belanda, rata-rata hidup melarat. Sebaliknya, Pa juga iba melihat banyak anak pribumi yang tidak mendapatkan kasih sayang, karena orang tuanya menjadi korban perang. Perang Belanda melawan pribumi, banyak memakan korban jiwa. Ribuan anak kehilangan bapaknya. Melihat anak-anak  menjadi korban perang, hati Pa semakin tersentuh. Ia lantas  mendirikan yayasan sosial dan panti asuhan untuk menampung anak-anak telantar dan korban perang.

Mulanya, Pa Van der Steur mengasuh empat anak terlantar. Baru pada 28 Desember 1896, berdiri sebuah panti. Namanya: Vereeniging tot bevordering van Christelijk leven en Onderling Hulpbetoon. Seiring berjalannya waktu, panti milik Pa berganti nama, menjadi: Vereeniging Christeljik opveodingsgestichten oranje Nassau, pada 1920. Setelah berganti nama, anak-anak yang ditampung Pa semakin banyak.

Mulanya, Pa Van der Steur mengasuh 350 anak. Anak-anak itu berasal dari latarbelakang yang berbeda. Beda suku, bangsa, dan keluarga.  Pa tidak membeda-bedakan. Baginya, semua manusia sama. Anak-anak asuh Pa ada yang berasal dari Belanda, Indo, Ambon, Jawa, dan Manado.

Pengurus Yayasan Mayu Dharma Putra,  YYD. Pariury, 68,  menuturkan, Van der Steur tidak hanya mengasuh. Tapi juga mendidik. “Pa melakukannya dengan senang hati dan tanpa beban.” Bahkan, kenang  Pariury, tiada hari dilalui Pa Van der Steur tanpa nasihat untuk anak-anaknya. Fasilitas di panti milik Pa, tergolong lengkap. Ada gymnastiekzaal untuk tempat bermain, ibadah, bahkan gereja (gestichts kerk).  “Pa  orang yang disiplin. Itu yang diajarkan Pa kepada setiap anaknya.”

Disiplin yang dilakukan Pa, bisa terlihat dari tersedianya kamar isolasi. Ruangan itu khusus untuk menghukum anak asuhnya yang nakal. Meski begitu, tidak seperti layaknya penjara. Ruangan yang dimaksud  hanya untuk mengajarkan anak asuhnya berdisiplin. “Pa orangnya disiplin. Mendidik anaknya juga seperti itu, bahkan seperti pendidikan militer. Seperti apel, jam makan, jam belajar, semuanya harus dilakukan tepat waktu. Hati Pa welas asih, tapi disiplin dan cepat iba.”

Pariury menjelaskan, pada 1907, Pa Van der Steur menikah dengan Anna Maria Zwager. Meski menikah, kata Pariury, Pa dan istri sepakat tidak memiliki anak. “Papa dan mother, sepakat tidak melakukan hubungan suami istri. Karena Papa berkeyakinan, jika melakukan hubungan tersebut, maka akan mengurangi ketulusan terhadap kasih sayang kepada anak asuh. Karena itu, hingga saat ini, tidak ada keturunan dari Pa Van der Steur. Yang ada hanya anak asuhnya yang meneruskan jiwa dan pandangan Pa Van der Steur.”

Pariury bercerita,  pada 1942, ada 1.100 anak asuh Pa Van der Steur yang lantas berkembang menjadi hampir sekitar 7.000-an anak. Jumlah tersebut, menurut Pariury, pada akhirnya menyusut karena penjajahan Jepang. Ketika Jepang masuk ke Kota Magelang pada 8 Maret 1942-1945, Pa Van der Steur dimasukan ke penjara Cimahi. Di sana, Pa diurus oleh Lutters, anak asuh yang kebetulan juga dipenjara.

.“Salah satu anak asuhnya, Bram Bernard kemudian membawa Pa ke Batavia beserta seluruh catatan, sertifikat tanah yayasan di Kota Magelang. Di sana, Bram membuka Yayasan Pa Van der Steur di Batavia hingga sekarang. Sedangkan anak asuh lainnya, JJD. Salmon, meneruskan jejak Pa Van der Steur di Magelang.”

Reginald Mustamu, seorang alumni Panti Asuhan Pa Van der Steur tahun 1965-1974 menulis, “Saya bersyukur pernah dididik dan dibesarkan di Panti Asuhan Pa van der Steur. Alumni Pa Van der Steur yang pernah dididik dan dibesarkan oleh Opa Van der Steur dulu banyak tersebar di Belanda dan negara-negara lainnya.”

Pa Van der Steur sudah tiada. Namun, namanya akan selalu diingat, sebagai sosok pahlawan yang welas asih. Pa berjuang dengan sisi kemanusiaannya. Senjata yang dipakai Pa  adalah welas asih dan pendidikan. Mungkin Pa Van der Steur akan terlupa. Tapi, tidak bagi mereka yang mengenangnya. Seperti kata–kata yang tertulis pada pusaranya: Niet mijn naam, maar mijn werk zij gedacht (jangan kenang nama saya tetapi kenanglah pikiran dan kerja saya). (agus.hadianto/dari berbagai sumber/isk)

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...