32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Teori Bumi Datar : Upaya Cuci Otak atau Fakta yang Tertunda?

Melihat data Google Trends yang dilangsir hingga awal tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara terbanyak yang melakukan pencarian terkait teori bumi datar. Hal itu menunjukan bahwa warga Indonesia memiliki antusiasme tinggi terhadap munculnya teori bumi datar.

Fenomena munculnya teori ini bukan baru kali ini saja terjadi. Bangsa Yunani pada abad ke-8 sebelum Masehi juga meyakini bahwa bumi kita berbentuk piringan. Begitu pula dengan bangsa kuno lain seperti India, Norwegia, Jerman dan China yang kala itu belum muncul teori bumi bulat juga meyakini hal tersebut.

Kemudian adalah Galileo Galilei seorang astronom dari Pisa yang membuat pernyataan bahwa bumi itu berbentuk bulat dan matahari adalah pusat tata surya. Teori itu lah yang diyakini hingga saat ini.

Tahun 1956 oleh Samuel Shenton, teori bumi datar kembali terdengar. Beliau mendirikan Internasional Flat Earth Research Society yang lebih dikenal dengan Flat Earth Society namun sempat mati suri karena terbentur oleh dana dan kematian salah satu pendirinya. Dan pada tahun 2004 Flat Earth Society kembali bangkit dan menjadi lebih kuat hingga hari ini.

Kemunculan mereka di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi berhasil menggelitik para netizen untuk ikut menelaah dan mengamati opini apa yang coba mereka bangun untuk masyarakat dunia. Banyak pertanyaan yang muncul dari masyarakat, tidak sedikit pula yang menghujat Flat Earth Society. Banyak netizen yang kontra terhadap teori bumi datar berpendapat bahwa teori bumi datar hanyalah upaya cuci otak, dan melontarkan banyak pertanyaan konfirmasi terhadap bagaimana dengan teori yang mereka tahu dan dianggap benar selama ini.

“Jika bumi datar maka ujungnya sebelah mana?” “Jika bumi datar bagaimana terjadinya siang dan malam?” “Jika bumi datar bagaimana dengan gambar bumi bulat yang selama ini
kita ketahui bersama?” “Jika bumi datar bagaimana tayangan ISS yang dibuat NASA?”

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering terlontar dari para netizen Flat Earth Society. Namun hingga hari ini, Indonesia sendiri telah memiliki banyak blogger dan juga youtuber yang menyediakan konten untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tentu mereka mencoba menjawab serasional mungkin, bahkan dengan berbagai eksperimen dan dalil keagamaan.

Terlepas bagaimana bentuk bumi yang sebenarnya, kita sebagai makhluk sosial yang dianugerahi kemampuan berpikir janganlah lantas menghakimi mereka yang meyakini apa yang tidak kita yakini. Jangan sampai dua teori yang bertolak belakang ini memecah belahkan kita. Jika penasaran maka cari tahulah. Jika belum yakin bertanyalah dengan baik. Jika tidak percaya, hormatilah.
Penulis adalah penerima beasiswa unggulan Kemendikbud, Program Studi Game Technology
Unika Soegijapranata.

Latest news

Related news

2 KOMENTAR

  1. Jika ada yang berani seperti para penjelajah ; Marcopolo, Magel Haens, Christophorus Colombus, untk membuktikan bahwa bumi bulat bisa dilakukan kok, tidak usah ada pertentangan pendapat. Chritophorus Colombus sudah lakukan hal itu, sehingga ia menemukan Bahama, dan benua Amerika, hanya dengan berlayar ke arah barat, dan kemudian kembali ke Spanyol tempat ia mengawali penjelajahaanya. Colombus melakukan penjelajahannya karena ia mempertahankan pendapatnya (menginkuti pendapat Galileo Galilei) untuk membuktikan bahwa bumi bulat. Kalau ada yang berani mempertahankan pendapat bahwa bumi datar, berani tidak ia/mereka melakukan pembuktian seperti halnya Colombus saat itu? Apa lagi sekarang zaman modern, dengan peralatan super canggih, akan sangat membantu/memudahkan upaya pembuktiannya, tanpa harus berdebat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here