33 C
Semarang
Rabu, 15 Juli 2020

Nyonya Meneer Pailit, Tagihan Utang Capai Rp 7,4 Miliar

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

SEMARANG- Pabrik jamu legendaris asal Semarang, PT Nyonya Meneer (PT Njonja Meneer) yang dipimpin Presiden Direktur Charles Saerang, akhirnya dinyatakan pailit di tangan pengusaha Bank Jamu asal Turisari, Sukoharjo, Hendrianto Bambang Santoso. Ini setelah majelis hakim mengabulkan seluruh gugatannya sebagai pemohon dan kreditur konkuren dalam perkara permohonan pembatalan perdamaian di Pengadilan Niaga pada Pegadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (3/8/2017) kemarin.

“Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya dan menyatakan batal perjanjian perdamaian yang telah disepakati. Selain itu, menyatakan PT Nyonya Meneer dalam keadaan pailit,” kata majelis hakim yang dipimpin Nani Indrawati dalam amar putusannya.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim juga menyebutkan, yang menjadi persoalan adalah terkait permohonan pembatalan perdamaian dengan alasan termohon lalai melakukan pembayaran. Sedangkan termohon membantah karena telah menyelesaikan pembayaran perdamaian.

“Pembatalan perdamaian sebelumnya sudah diajukan berulang kali. Namun ditolak majelis hakim. Semestinya kalau konsisten termohon segera membayarkan, sehingga terkesan ada penundaan pembayaran,” ujar majelis hakim.

Ditemui usai sidang, kuasa hukum Hendrianto Bambang Santoso yakni, Eka Widhiarto dan Kuntowati Sri Haryani menyatakan, terkait putusan itu hak buruh harus diperjuangkan, termasuk semua kreditur harus terjamin pembayarannya. Pihaknya menyatakan, kalau tagihan yang belum terbayarkan kepada kliennya atau cicilan sesuai kesepakatan yang ditetapkan dalam proposal perdamaian mencapai Rp 7,4 miliar.

“Untuk tagihan Bank Jamu ke klien kami sampai Rp 7,4 miliar. Jadi, sejak perdamaian memang belum ada sama sekali dibayar oleh Nyonya Meneer. Bahkan klien kami sudah mencoba komunikasi dengan PT Nyonya Meneer, tapi nggak ada jawaban,” kata Eka kepada Jawa Pos Radar Semarang usai sidang. Tagihan Rp 7,4 miliar ini hanya milik satu kreditur yang menggugat, Hendrianto Bambang Santoso.

Pihaknya mengajukan pembatalan perdamaian tersebut karena PT Nyonya Meneer tidak memenuhi isi perjanjian, yakni tidak membayar cicilan setiap bulan, cek yang diberikan tidak bisa dicairkan, bahkan terakhir rekening sudah ditutup. Namun demikian ia mengaku pihak Nyonya Meneer pernah memberikan cek, akan tetapi ternyata cek tersebut tidak bisa dicairkan, bahkan akan ditarik kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Tiap 10 Tahun di Lubang Yang Sama

Oleh: Dahlan Iskan Mengapa setiap 10 tahun terjadi krisis ekonomi? Persis.  Setiap 10 tahun: 1988 (TMP), 1998 (Krismon), 2008 (Lehman Brothers/Bank Century) dan 2018 ini...

Maling Gasak Dua Motor

SALATIGA- Kejadian nahas menimpa Dian Arif Mahardi, 28, warga Perumahan  Permata Gunung Sari Blok A.14. Pasalnya, dua unit sepeda motor miliknya yaitu Honda CBR dan...

Pailit Simoplas Janggal, Edhie Minta PKY Pantau Sidang

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Salah satu direktur PT Simongan Plastik Factory (Simoplas), Edhie Tejopurnomo telah mengajukan pemohonan pemantauan sidang perkara pemberesan atas kepailitan perusahaan plastik kemasan Simoplas...

538 Pedagang Barito Bersikukuh Tolak Pindah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sedikitnya 538 pedagang di Jalan Barito Blok A-H, Kelurahan Karangtempel, Semarang Timur, bersikeras menolak direlokasi oleh Dinas Perdagangan  Kota Semarang. Alasannya, karena...

Akibat Keteledoran Pengawasan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Belakangan, banyak terjadi bangunan infrastruktur yang gagal. Roboh meski terbilang bangunan baru. Karena itu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi meminta agar...

Optimis Rampungkan 15 Raperda

SEMARANG – DPRD Jateng optimis bisa merampungkan 15 Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang sudah diajukan di 2017. Yakni lima raperda inisiatif DPRD Jateng, tiga...