33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Jarang Dipentaskan, Tari Wireng Terancam Punah

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG – Alunan suara gamelan terdengar merdu mengiringi lenggak-lenggok para penari cantik. Mereka melakukan gerakan yang atraktif dan energik. Di antara penari perempuan itu, ada yang berdandan ala Anoman. Ya, begitulah suasana Festival Tari Tradisional Wireng atau Pethilan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah di Museum Ranggawarsita, Selasa (18/7). Festival ini diikuti peserta dari Semarang, Kendal, Jepara, Batang, Rembang, Sukoharjo, Cilacap, Kebumen, Pekalongan, dan Magelang.

Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Mulyono, mengatakan, dipilihnya Tari Wireng bukan tanpa alasan. Sebab, jenis tarian klasik ini terancam punah, karena sudah jarang dipentaskan. Terlebih oleh generasi muda. ”Karena itu, festival ini kita jadikan momen untuk mengenalkan sesuatu yang pernah terkenal, namun sudah lama tak disebutkan, yakni Tari Wireng atau Tari Pethilan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Mulyono menjelaskan, gerakan Tari Wireng dipethil (diambil) dari kisah pewayangan Mahabarata dan Ramayana. Gerakannya cenderung cepat dan lincah, karena berlatar belakang perang antar tokoh pewayangan. ”Tari Wireng dikenal juga dengan nama Tari Bambang Cakil. Keburukan pasti kalah dengan kebaikan, itulah inti ceritanya,” ungkapnya.

Seniman dan Budayawan Jateng yang didaulat menjadi juri, Bambang Priyambodo, mengapresiasi terselenggaranya Festival Tari Wireng itu. Sama halnya dengan Mulyono, menurutnya hal-hal yang berbau kesenian dan tradisi sudah banyak ditinggalkan oleh generasi muda sekarang.

”Paling tidak Pemprov Jateng sudah memberikan ruang bagi generasi penerus. Event ini sekaligus momen untuk mengembalikan citra kesenian tradisional, dan kearifan lokal khas Jawa maupun bangsa Indonesia,” katanya.

Dikatakan, memudarnya kesenian antara lain disebabkan karena minimnya dukungan berbagai pihak, termasuk penggiat seni itu sendiri. ”Diakui, bergelut dengan seni itu memang tidak menjanjikan, makanya cenderung ditinggalkan. Tak hanya itu, konten-konten pendidikan berlandaskan kesenian kini juga jarang ditemukan. Intinya, jangan sampai kita tergeser oleh budaya asing, padahal mereka justru tertarik dengan budaya kita,” ungkapnya.

Tema Tari Wireng sendiri bisa Srikandhi Cakil, Bambangan Cakil, Anoman Kelaswara dan sebagainya. Ditya Yulendra Dewanti, penari asal Magelang, memilih Tari Srikandi Mustakaweni. ”Sulit tapi menantang. Apalagi festival berdekatan dengan pasca Lebaran, jadi agak kurang maksimal. Gendhing pengiringnya juga baru didapat sebelum pentas, jadinya agak kesulitan untuk mengimbangi gerakan dengan gendhing, namun semua berjalan lancar,” kata siswi SMA Tarakanita Magelang ini.

Teman Ditya, Sherly Melati Dewi, berpendapat, ada banyak sisi positif yang didapatkan dari belajar menari Wireng. Selain sebagai perwujudan cinta budaya sendiri, manfaat langsung adalah menjadikan seseorang lebih luwes dan peka dengan kondisi sekitar. ”Menghayati alunan musik gamelan misalnya, itu bukan perkara gampang. Ke depan saya ingin tampil hingga tingkat internasional,” ujar siswi kelas 1 SMPN 1 Magelang ini.

Dalam Festival Tari Wireng 2017, Kabupaten Sukoharjo meraih juara pertama, disusul Kota Semarang dan Kabupaten Pekalongan di urutan kedua dan ketiga. (aaw/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Tarif Ijazah SMA Rp 150 Juta, Sarjana Rp 200 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Tiga pelaku sindikat penipuan dengan modus menjanjikan masuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) diringkus aparat Polrestabes Semarang. Sebelum ditangkap, pelaku telah...

Ambil Untung Sedikit, Yang Penting Pembeli Banyak

Jelang lebaran menjadi berkah tersendiri bagi pelaku bisnis kue lebaran. Tak tanggung-tanggung, keuntungan yang diraup cukup besar. Dua hari jualan, bahkan mampu menarik ratusan...

Pasar Perdesaan Jadi Kebanggaan Warga Waru & Pendem

RADARSEMARANG.COM - DUA pasar kawasan perdesaan di Desa Waru, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak dan Desa Pendem, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, diresmikan, Selasa (23/1) kemarin....

Lebih Dekat dengan Wahyu Hariyono, Penyuka Vespa Antik Kongo

Motor Vespa jenis Kongo yang dimiliki Wahyu Hariyono bukan sembarang barang antik. Motor jadul keluaran 1960-an ini, tak pernah ketinggalan juara dalam kontes motor...

Durian Habis Dalam 5 Menit

RADARSEMARANG.COM - SEMARAK Festival Durian Kendal 2018 yang digelar di Lapangan Desa Singorojo benar-benar berlangsung sangat meriah, Sabtu (24/2) kemarin. Ribuan warga menghadiri helatan...

Orangtualogy Ajak Anak Belajar Padamkan Api

SEMARANG- Puluhan anak-anak terlihat antusias ketika mendapat pelatihan memadamkan api di markas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, akhir pekan lalu. Kegiatan tersebut digelar oleh...