28 C
Semarang
Sabtu, 12 Juni 2021

Jarang Dipentaskan, Tari Wireng Terancam Punah

SEMARANG – Alunan suara gamelan terdengar merdu mengiringi lenggak-lenggok para penari cantik. Mereka melakukan gerakan yang atraktif dan energik. Di antara penari perempuan itu, ada yang berdandan ala Anoman. Ya, begitulah suasana Festival Tari Tradisional Wireng atau Pethilan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah di Museum Ranggawarsita, Selasa (18/7). Festival ini diikuti peserta dari Semarang, Kendal, Jepara, Batang, Rembang, Sukoharjo, Cilacap, Kebumen, Pekalongan, dan Magelang.

Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Mulyono, mengatakan, dipilihnya Tari Wireng bukan tanpa alasan. Sebab, jenis tarian klasik ini terancam punah, karena sudah jarang dipentaskan. Terlebih oleh generasi muda. ”Karena itu, festival ini kita jadikan momen untuk mengenalkan sesuatu yang pernah terkenal, namun sudah lama tak disebutkan, yakni Tari Wireng atau Tari Pethilan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Mulyono menjelaskan, gerakan Tari Wireng dipethil (diambil) dari kisah pewayangan Mahabarata dan Ramayana. Gerakannya cenderung cepat dan lincah, karena berlatar belakang perang antar tokoh pewayangan. ”Tari Wireng dikenal juga dengan nama Tari Bambang Cakil. Keburukan pasti kalah dengan kebaikan, itulah inti ceritanya,” ungkapnya.

Seniman dan Budayawan Jateng yang didaulat menjadi juri, Bambang Priyambodo, mengapresiasi terselenggaranya Festival Tari Wireng itu. Sama halnya dengan Mulyono, menurutnya hal-hal yang berbau kesenian dan tradisi sudah banyak ditinggalkan oleh generasi muda sekarang.

”Paling tidak Pemprov Jateng sudah memberikan ruang bagi generasi penerus. Event ini sekaligus momen untuk mengembalikan citra kesenian tradisional, dan kearifan lokal khas Jawa maupun bangsa Indonesia,” katanya.

Dikatakan, memudarnya kesenian antara lain disebabkan karena minimnya dukungan berbagai pihak, termasuk penggiat seni itu sendiri. ”Diakui, bergelut dengan seni itu memang tidak menjanjikan, makanya cenderung ditinggalkan. Tak hanya itu, konten-konten pendidikan berlandaskan kesenian kini juga jarang ditemukan. Intinya, jangan sampai kita tergeser oleh budaya asing, padahal mereka justru tertarik dengan budaya kita,” ungkapnya.

Tema Tari Wireng sendiri bisa Srikandhi Cakil, Bambangan Cakil, Anoman Kelaswara dan sebagainya. Ditya Yulendra Dewanti, penari asal Magelang, memilih Tari Srikandi Mustakaweni. ”Sulit tapi menantang. Apalagi festival berdekatan dengan pasca Lebaran, jadi agak kurang maksimal. Gendhing pengiringnya juga baru didapat sebelum pentas, jadinya agak kesulitan untuk mengimbangi gerakan dengan gendhing, namun semua berjalan lancar,” kata siswi SMA Tarakanita Magelang ini.

Teman Ditya, Sherly Melati Dewi, berpendapat, ada banyak sisi positif yang didapatkan dari belajar menari Wireng. Selain sebagai perwujudan cinta budaya sendiri, manfaat langsung adalah menjadikan seseorang lebih luwes dan peka dengan kondisi sekitar. ”Menghayati alunan musik gamelan misalnya, itu bukan perkara gampang. Ke depan saya ingin tampil hingga tingkat internasional,” ujar siswi kelas 1 SMPN 1 Magelang ini.

Dalam Festival Tari Wireng 2017, Kabupaten Sukoharjo meraih juara pertama, disusul Kota Semarang dan Kabupaten Pekalongan di urutan kedua dan ketiga. (aaw/aro/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here