33 C
Semarang
Rabu, 21 Oktober 2020

Rawat Lansia yang Hatinya Teraniaya

Rumah Pemulihan Anak Bangsa

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

Tidak banyak yang tahu bahwa rumah sederhana di ujung Jalan Pahlawan, di Kampung Boton, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, itu, merupakan penampungan bagi lansia yang tidak mendapatkan kenyamanan hidup di tengah keluarganya sendiri.

RUMAH sederhana bercat biru putih itu, dari luar, tampak biasa saja. Tidak ada yang spesial. Tapi, begitu tahu penghuni di dalamnya, kita tentu sepakat menilai bahwa pengelola rumah ini memiliki jiwa sosial tinggi.

Baca Juga :

Ya, rumah ini menampung para lansia yang tidak mendapatkan kedamaian di tengah keluarganya sendiri. Rumah ini juga menampung orang-orang yang memiliki sisi kejiwaan labil. Sudah ada ratusan orang menghuni rumah ini. Datang silih berganti. Keluar masuk. Itulah Rumah Pemulihan Anak Bangsa (RPAB).

Ketua Pengurus Rumah Pemulihan Anak Bangsa Kota Magelang, Ari Windarto mengklaim, sudah ratusan orang pernah singgah di Rumah Pemulihan Anak Bangsa. Mereka mendapatkan ketenangan jiwa; serta mendapat jaminan cukup pangan memadai selama tinggal di RPAB.

Selama pendampingan, pengurus tidak mengutip biaya jasa. Visi mereka sungguh mulia. Tulus dan sepenuh hati merawat mereka yang singgah. Mendampingi mereka yang butuh pendampingan. Rata-rata para lansia yang tidak lagi dipedulikan oleh keluarganya. Bahkan, oleh anaknya sendiri.

Ari Windarto mengatakan, sebelum RPAB berdiri pada 30 Oktober 2016 dan menjadi yayasan berbadan hukum, ia door to door mendatangi orang-orang yang terlihat labil kejiwaannya. “Saya pernah menjadi pendamping atau tempat konsultasi lansia yang ditinggal oleh anaknya. Saya merasa iba. Karena kok ada anak yang tega, tidak peduli pada orangtuanya sendiri,” jelas Ari.

Mantan pengusaha rental mobil terbesar di Kota Magelang ini bercerita, ia sangat merasa iba dengan kasus-kasus kejiwaan yang mengakibatkan para perempuan, anak-anak, dan lansia terpinggirkan. Sehingga mereka harus hidup di jalanan.

“Panggilan hati saya, ternyata sejalan dengan pemikiran dua orang lain yang sama-sama terpanggil. Setelah menemukan tempat yang cocok, kami membuat semacam rumah untuk mendampingi dan memulihkan para korban ini,” urai Ari. Sebab, lanjut Ari, masalah kejiwaan tidak mudah untuk dipulihkan dalam waktu sekejap. “Selain memulihkan kejiwaan mereka, kami juga harus menjamin kehidupan mereka, sehingga kejiwaan mereka pulih dan siap kembali ke tengah masyarakat.

Beberapa kasus yang pernah ditangani pengelola Rumah Pemulihan Anak Bangsa, sebagian besar perempuan yang ditinggal begitu saja oleh suaminya. Anak-anak yang tidak diurus oleh bapak-ibunya. Juga, lansia yang tidak lagi dipedulikan oleh anak-anaknya. Mereka yang masuk di Rumah Pemulihan Anak Bangsa, tutur pria bersahaja ini, dipilah berdasarkan kasus kejiwaan yang dihadapi.

Bagi yang kasus kejiwaannya tergolong berat, akan mendapat pendampingan kontinyu. Juga diawasi terus-menerus. Sebisa mungkin, pendamping akan selalu hadir mendengarkan keluh-kesah para korban. Tidak jarang, para pendamping harus menjadi gila untuk menyelami para korban.

Toh, Ari juga mengaku pernah kena tipu. Ia tertipu aksi ibu dan anak yang menumpang hidup di Rumah Pemulihan Anak Bangsa hingga empat bulan lamanya. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk lebih selektif menerima pasien kejiwaan. Terlebih, Dinsos pernah menegur bahwa rumah pemulihan harus menerapkan rumah singgah. Atau hanya sementara tinggal untuk para korban.

“Kami akhirnya mulai menyeleksi orang-orang yang memang ingin mendapatkan pemulihan jiwa di tempat kami. Kami mengecek latar belakangnya, menghubungi keluarganya, serta berkoordinasi dengan Dinsos setempat. Kami juga melakukan pendampingan lebih intens kepada korban yang masuk kategori kejiwaan berat.”

Rumah Pemulihan Anak Bangsa menyediakan pendamping dan keterjaminan pangan untuk para penghuninya. Syarat lain, keluarga mengizinkan kerabat atau familinya dirawat serta tinggal di Rumah Pemulihan Anak Bangsa. Pendampingan tidak hanya diisi dengan berbagi cerita atau menemani aktivitas harian saja. Beberapa pendamping khusus, fokus membangun kepercayaan diri para korban.

“Terus terang, dalam memberikan jaminan pangan, kami memakai dana pribadi. Para pendamping juga tidak dibayar. Karena di rumah singgah ini, para pengurusnya orang-orang yang merasa terpanggil untuk memanusiakan manusia. Kami tidak pernah meminta sumbangan dalam bentuk proposal kepada siapa pun. Karena niat kami tulus, murni panggilan hati.” (agus.hadianto/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...

Properti di Awal Tahun Lesu

SEMARANG – Pasar properti di awal tahun masih belum terlalu bergairah. DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng mencatat hasil penjualan properti pada pameran awal...