Beranda Berita Aboge Lebaran 27 Juni

Aboge Lebaran 27 Juni

Others

WONOSOBO – Penganut aliran Kepercayaan Kejawen Aboge (Alif Rabu Wage) asal Wonosobo, pada tahun ini akan merayakan Lebaran pada Selasa Pon 27 Juni 2017. Perayaan Lebaran versi Aboge ini selisih dua hari dari penghitungan kalender hijriyah yang diperkirakan akan jatuh pada Minggu, 25 Juni 2017.

Menurut Pimpinan Aliran Kepercayaan Aboge Wonosobo Sarno Kusnandar, Aboge memiliki rumus tersendiri dalam penghitungan kalender. Termasuk dalam penentuan tanggal 1 Syawal ini, mendasarkan pada 1 Suro di mana tahun ini jatuh pada Selasa Pahing. Maka 1 Syawal jatuh pada pasaran Selasa Pon, yakni 27 Juni 2017. “Dasar penghitungan kami bertumpu pada hari pasaran 1 Suro,” ujarnya.

Dalam kepercayaan Aboge, kata Kusnandar, penentuan tanggal 1 Syawal menggunakan rumus Waljiro yang merupakan akronim dari sasi syawal dinane ajek pasarane maju loro. Yang berarti bulan Syawal harinya tetap dihitung dari 1 Suro yakni Selasa. Sedangkan hari pasaran maju dua, dari Pahing ke Pon.

“Rumus ini yang selalu kami gunakan dalam penentuan syawal, selalu merujuk pada hari 1 Suro,” katanya.

Disebutkan dia, sistem penghitungan kalenderisasi aliran Aboge mendasarkan pada tahun Alif satu Suro Rabu Wage (Aboge). Hal ini menjadi peletak dasar penghitungan kalender. Rumus ini berbeda dengan sistem penghitungan umat muslim secara umum yang menentukan kalenderisasi hijriyah di mana penghitungannya dimulai dari hijrahnya (perpindahan ) Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dengan pendekatan sistem qomariyah atau peredaran rembulan.

“Tiap tahun, dalam penentuan Syawal kami memang selalu selisih antara 1 sampai 2 hari dari penghitungan hijriyah,” ujarnya.

Dengan penentuan Lebaran ini, kata Kusnadar, maka para penganut aliran kepercayaan Aboge akan menjalani ibadah puasa hingga Senin (26/6) mendatang. Perayaan Lebaran Aboge akan dipusatkan di Dusun Binangun Desa Mudal Kecamatan Mojotengah.

Ditambahkan dia, rangkaian acara akan dimulai sejak Minggu malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Prosesinya para penganut aliran kepercayaan menggelar semedi (bertapa) hingga larut malam. Keesokan harinya akan dilakukan syukuran. Warga membawa makanan ke masjid dan menggelar doa bersama kemudian dinikmati makanan bersama keluarga.

“Sebagai acara puncak kita lakukan salaman warga dari anak-anak hingga kalangan tua untuk saling memaafkan. Biasanya diterbangkan balon tradisional sebagai ungkapan kegembiraan atas nikmat yang diberikan Yang Maha Kuasa, namun terkait larangan oleh pemerintah, kami akan taati, ” jelasnya. (ali/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

12,298FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Tesla Halmahera

Related News