Tanpa Rayonisasi, Orangtua Lega

PANTAU JURNAL : Salah satu orang tua dan calon peserta didik memantau jurnal PPBD hari pertama di SMP Negeri 1 Magelang. Sudah ada sekitar 90 calon peserta didik yang langsung mendaftar. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PANTAU JURNAL : Salah satu orang tua dan calon peserta didik memantau jurnal PPBD hari pertama di SMP Negeri 1 Magelang. Sudah ada sekitar 90 calon peserta didik yang langsung mendaftar. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMP/MTs Negeri di Kota Magelang tidak perlu menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Calon siswa dari keluarga miskin cukup memakai Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau kartu sejenis. Selain itu, untuk jenjang SMP/MTs Negeri tidak diberlakukan sistem rayonisasi.

Belum berlakunya sistem rayonisasi dalam proses PPDB, disambut baik oleh SMP-SMP negeri di Kota Magelang. Para pengelola juga tidak waswas, mengingat kuota yang disediakan dipastikan mudah terpenuhi.

Kepala SMPN 1 Magelang Nurwiyono SN mengatakan, sekolahnya tidak merasa khawatir akan kekurangan murid. Namun akan berbeda sebaliknya jika diterapkan rayonisasi, maka akan terjadi kasus seperti yang dialami SMA-SMA negeri yang kekurangan murid sampai batas akhir PPDB.

“Bersyukur sistem rayonisasi belum diterapkan, meskipun sebenarnya sudah diamanatkan dalam Permendikbud No 17 tahun 2017 tentang PPDB. Namun melihat kondisi yang ada, Kota Magelang belum tepat memberlakukan rayonisasi,” tandas Nurwiyono di kantornya, Senin (19/6).

Nurwiyono mengatakan, Kota Magelang memang belum siap menerapkan sistem rayonisasi di tingkat SMP. Alasan mendasarnya, karena terjadi ketimpangan antara jumlah lulusan sekolah dasar (SD) dan daya tampung SMP di Kota Magelang.

“Lebih banyak SMP-nya dibanding lulusan SD-nya. Apalagi, ada satu kecamatan yang jumlah SMP-nya cukup banyak, tetapi lulusan SD-nya sedikit. Otomatis, masih ada sekolah yang tidak kebagian murid,” kata Nurwiyono.

Selain tanpa rayonisasi, para orang tua murid diberi kemudahan lain. Proses PPDB tahun ini mengakomodasi banyak anak yang berprestasi hingga anak dari keluarga kurang mampu. Orang tua diberi tiga pilihan untuk tempat sekolah anak-anaknya. “Sementara tahun sebelumnya hanya dua pilihan. Kemudian berlaku pula sistem poin tambahan dari domisili, keluarga kurang mampu, hingga prestasi. Khusus keluarga kurang mampu juga terseleksi. Tidak boleh ada pendaftar yang membawa surat keterangan tidak mampu (SKTM) baru. Cukup membawa Kartu Indonesia Pintar (KIP)/Program Indonesia Pintar (PIP)/Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan sejenisnya sudah bisa,” jelas Nurwiyono.

Untuk PPDB tahun ini, SMPN 1 Magelang memiliki daya tampung sebanyak 240 dengan 8 rombongan belajar (rombel). Kuota sebanyak 20 persen diberikan untuk siswa dari keluarga kurang mampu. “Dengan proses ini, kami optimistis bisa mendapat siswa berkualitas bagus dan mampu mempertahankan aneka prestasi yang sudah diraih sebelumnya. Kami juga akan berupaya keras untuk melayani semua murid dengan baik serta memperkuat pendidikan karakter dan spiritual,” papar Nurwiyono.

Humas Panitia PPDB SMP Negeri 1 Magelang Tohirin menjelaskan, hingga siang kemarin sudah ada 250 pendaftar dalam kota yang mengambil formulir. Sedangkan pendaftar luar kota ada 153 orang. “Kalau hari pertama itu banyak yang mengambil formulir untuk diisi di rumah, dan sampai siang sudah ada 90 anak yang mendaftar sekaligus,” jelasnya.

Sementara itu, Nur Samiah, 40, salah satu orang tua siswa mengaku senang karena sistem rayonisasi belum diterapkan. Samiah sebelumnya merasa khawatir, masalah yang terjadi di tingkat SMA juga bisa terjadi di tingkat SMP ketika rayonisasi diberlakukan.“Kasihan anak kalau tidak diterima di sekolah pilihannya. Dengan sistem biasa ini, kan kami orang tua jadi lebih tenang. Apalagi, tahun ini diberikan tiga pilihan sekolah, sehingga memudahkan kami,” ungkap Nur saat mengantarkan anaknya yang lulusan SD Tidar 1 mendaftar di SMP 1 Magelang.

Sutrisno, ayah dari Nurul Ardila Puspaningrum mengaku tertarik menyekolahkan anaknya ke SMPN 1 Magelang karena catatan prestasi sekolah tersebut selalu bertengger di nomor satu. Ia ingin anaknya juga memiliki prestasi di akademik, maupun nonakademik yang baik. “Anaknya juga ingin sekolah di sini, semoga diterima, karena nilainya cukup bagus,” imbuh warga Wates, Magelang Utara itu.

Belum diterapkannya sistem rayonisasi di Kota Magelang karena lulusan SD tak sebanding dengan daya tampung 13 SMP negeri. Tahun ini, total daya tampung SMP negeri mencapai 2.896 siswa sementara lulusannya hanya 2.410 siswa.

“Selain itu, penyebaran sekolah di masing-masing kecamatan tidak merata, contohnya di Kecamatan Magelang Utara jumlah SMP-nya lebih banyak di banding jumlah lulusan yang dari Utara,” kata Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Agus Sujito mewakili Kepala Dinas P dan K Kota Magelang Taufiq Nurbakin, kemarin.

Menurutnya, PPDB tahun ini sedikit beda dengan sebelumnya. Para lulusan SD bisa memilih atau mendaftar tiga sekolahan sekaligus. “Supaya kesempatannya lebih banyak, dan tidak perlu mencabut berkas,” imbuhnya. (cr3/put/ton)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here