Menakar Kadar Kebahagiaan, Mungkinkah?

Oleh: Arikhah*)
Oleh: Arikhah*)

BEBERAPA bulan lalu, Jaringan Solusi Pembangunan Berkesinambungan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) merilis Laporan Kebahagiaan Dunia 2017 yang menempatkan Indonesia di urutan ke-81 dari 155 negara di dunia dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia di peringkat ke-113 dari 188 negara. IPM diukur berdasarkan tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Selain itu warga disebut paling bahagia adalah yang merasakan kemakmuran merata, memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi kepada pemerintah dan saling menghargai dinamika kemasyarakatan.

Berdasarkan kriteria tersebut diatas, Indonesia masuk kategori kurang menggembirakan. Apalagi jika  dilihat dari ketercapaian pengelola negara dalam mewujudkan kebahagiaan itu dalam kehidupan rakyat. Saat ini Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara kaya-miskin, desa-kota. Rata-rata pendidikan hanya 4,6 tahun dengan lima juta anak tidak mampu sekolah. Sekitar 140 juta orang berpenghasilan kurang dari Rp 20.000/hari, 19,4 juta orang kategori gizi buruk dan angka kematian ibu cukup besar, yaitu 305 per 100.000 kelahiran.

Dalam konteks kenegaraan, istilah kebahagiaan memang tidak dijumpai, apalagi sebagai salah satu target pengelolaan negara. Namun, Undang-undang Dasar 1945 menggunakan istilah kemakmuran dan kesejahteraan. Makmur berarti berkecukupan dalam berbagai hal, sejahtera artinya aman sentosa. Sejahtera dan makmur memiliki indikator yang jelas dan obyektif, yang dapat dipandang dan diukur secara bersama-sama dengan hasil yang sama.

Bahagia itu tidak hanya unsur obyektif dan nyata, akan tetapi juga unsur rasa yang subyektif. Seseorang yang sejahtera dan makmur dapat disimpulkan dari kriteria umum yang terukur, karena memang indikatornya telah disepakati dalam masyarakat, undang-undang atau kenyataan yang dipahami bersama.

Sementara bahagia, disamping unsur-unsur yang terlihat secara realitas, masih memerlukan syarat subyektif yang bersifat psikologis dan kebatinan. Intinya, kesejahteraan atau kemakmuran merupakan modal kebahagiaan, tetapi ia bukan kebahagiaan itu sendiri.

Seseorang yang hidup serba cukup, fasilitas tersedia, kemanan terjada dan kebutuhan materi terpenuhi, belum tentu memperoleh kebahagiaan, jika dia sombong, serakah dan tidak bersyukur. Namun, orang yang hidupnya kekurangan secara materi, miskin dan tidak berkecukupan, memenuhi kebutuhan dengan sederhana dan apa adanya, tentu akan sulit mendapat kebahagiaan, kecuali jika dia mampu menjalani hidup tersebut dengan sabar, syukur dan ikhlas.

Semua manusia menginginkan hidupnya bahagia, hanya saja tidak semua orang memahami hakekat hidup bahagia. Ada melihat bahagia sekedar hidup senang, cukup sandang pangan dan papan. Ada juga yang memaknainya dengan berinteraksi sosial secara sehat, mampu bekerja sama dengan baik, tidak menyakiti, tidak menebar kekerasan dan tidak membuat konflik. Islam sebanarnya mengajarkan konsep bahagia bukan hanya di dunia dan akherat saja, akan tapi juga terbebas dari siksa neraka.

Hidup bahagia, tidak lain adalah hidup yang memperoleh ridha Allah SWT dengan mampu memahami dan mewujudkan tujuan penciptaan dan eksistensi manusia di dunia ini, yaitu beribadah kepada-Nya secara maksimal. Segala sesuatu yang bersifat kebendaaan, baik berupa harta, jabatan, kekayaan, jejaring dan sejenisnya harus dijadikan sebagai perantara untuk semakin mendekatkan diri pada Allah  dan memberikan kebermanfaatan sebesar-besarnya kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, membuat jauh dan melupakan Tuhan Sang Maha Adil dan Penuh Kasih dan Sayang.

Beberapa indikator berikut merupakan ikhtiar menuju proses percepatan kebahagiaan, di antaranya: Pertama, berusaha untuk selalu menjalani hidup sesuai dengan aturan dan ajaran Tuhan, baik dalam hidup sebagai individu, bermasyarakat, maupun bernegara.  Kedua,  memaksimalkan potensi akan pikiran dalam memahami dan menghayati kehidupan.  Selalu melakukan muhasabah dan koreksi menuju kebaikan terhadap segala probem dan kendala yang dihadapinya. Hidup bahagia adalah hidup yang dijalani dengan senantiasa belajar, mengembangkan ilmu, memahami ayat-ayat Allah di dalam Alquran maupun dalam semesta raya.

Ketiga, melakukan kontrol dan kendali nafsu dengan melakukan pembersihan diri dengan cara mengikis habis potensi negatif seperti iri hati, dengki, pamer, ujub, rakus, dan sebagainya. Orang yang bahagia adalah orang terbebas keinginan dan sifat-sifat tercela, sebab jika tidakmampu membebaskan diri dari sifat-sifat buruk ini, hidupnya akan sengsara dan tidak memperoleh kedamaian.

Akhirnya, patut diperhatikan kembali QS. Al-A’la 14-15 yang artinya “Sesungguhnya telah menang (bahagia) orang yang membersihkan diri dan  dia ingat nama Tuhannya, lalu (segera) dia (melaksanakan) salat”.  Artinya, orang yang menyucikan diri adalah orang yang membersihkan diri dari kotoran dunia yang dapat mencegahnya dari mengingat dan menjauhi akhirat. Kebahagiaan hanya milik orang yang menyucikan dirinya dari segala kecintaan keterikatan terhadap urusan dunia. Menang dan bahagia hanya milik orang yang selalu ingat akan kebesaran Allah dan istiqamah dalam melaksanakan shalat. Bahagia bukan dengan memperkaya diri dengan ketergantungan terhadap urusan keduniaan, melainkan justru melalui kembali kepada diri kita sendiri, dengan membersihkannya dari kecintaan kepada dunia. (*/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here