AZ Diketahui Jarang di Rumah

Polisi Kembali Geledah Rumah Terduga Teroris

140
MASIH KAGET: Kakak ipar AZ, Ahmad Taufik (tengah) dan mertua AZ, Ronjani (kanan) saat memberikan keterangan kepada Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Dwi Haryadi (kiri) di rumahnya, Desa Bonjor Kecamatan Tretep, kemarin. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)
MASIH KAGET: Kakak ipar AZ, Ahmad Taufik (tengah) dan mertua AZ, Ronjani (kanan) saat memberikan keterangan kepada Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Dwi Haryadi (kiri) di rumahnya, Desa Bonjor Kecamatan Tretep, kemarin. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)

TEMANGGUNG–Petugas kepolisian kembali menggeledah rumah terduga teroris berinisial AZ (bukan AS seperti diberitakan kemarin, red) alias Fauzan alias Fauzan Mubarok yang ditangkap satuan Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88, Minggu (18/6) pagi. Kemarin (19/6), puluhan petugas Polres Temanggung kembali mendatangi rumah AZ di Dusun Kalitengah Desa Bonjor Kecamatan Tretep.

Suasana rumah berdinding kayu yang berada di lereng Gunung Prau itu tampak sepi. Meski dari luar kelihatan sepi, namun istri, kedua putri AZ, mertua serta keluarga tetap berada dalam rumah. Istri AZ yang bercadar tampak masih shock dan enggan berbicara.

Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Dwi Hayadi menuturkan, penggeledahan ulang dilakukan untuk mencari beberapa alat bukti pendukung atau penguat. Sebelum ini, Densus 88 telah mengamankan beberapa alat bukti dan AZ.

“Setelah kita lakukan penggeledahan, kita tidak menemukan alat-alat atau barang yang mengarah untuk dijadikan barang bukti,” ucap Dwi, kemarin.

Untuk diketahui, barang bukti yang sudah diamankan Densus 88 diantaranya satu buah laptop merek Acer, satu buah laptop merek HP, satu buah ponsel merek Asus, satu buah ponsel merek Lenovo, satu buah ponsel Asia Phone warna putih, empat flasdisk, dua buah pisau potong tembakau dan beberapa buku keagamaan.

Taufik, 30, kakak ipar AZ mengaku kaget atas peristiwa Minggu lalu. Dia tidak menaruh curiga sedikitpun jika saudaranya itu diduga terlibat aktivitas teroris. AZ selama di rumah beraktivitas seperti biasa, membantu orang tua ke kebun, ikut menanam cabai dan lainnya. Kegiatan lainnya hanya mengikuti pengajian.

“Jujur, kami (keluarga, red) sangat kaget, tiba-tiba ada petugas kepolisian membawa saudara kami. Kami berharap kepada petugas, jika saudara AZ tidak terbukti jadi teroris, mohon untuk dikembalikan,” harapnya.

Kepala Desa (Kades) Bonjor, Mughni menuturkan, berdasarkan pantauannya, selama ini AZ jarang di rumah. “(AZ) kalau hari Senin sampai Jumat di Semarang, kalau Sabtu-Minggu baru di rumah. Dia ngajar di Semarang, lembaga pendidikanya mana saya kurang tahu persis, info yang saya peroleh, tempat ngajarnya dekat Simpanglima,” jelas Mughni.

Mughni melanjutkan, selama ini AZ kurang bersosialisasi dengan warga. Dia terkesan tertutup, kurang ramah. “Jauh sebelum ada penangkapan ini, banyak warga yang kurang suka dengan sikap AZ,” ucapnya.

AZ diketahui berasal dari Poso Sulawesi Tengah. Ia menikah dengan salah seorang warga Bonjor.

Sementara itu, untuk mengantisipasi potensi teror di Temanggung, Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwo akan mempertebal pengamanan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Tretep dan Wonoboyo. Menurut Maesa, kewaspadaan di dua kecamatan tersebut ditingkatkan lantaran kondisi geografis di lereng Gunung Prau tersebut amat sukar dijangkau masyarakat, sehingga rawan jadi sarang persembunyian teroris. Terbukti satu terduga teroris yakni AZ ditangkap di lokasi tersebut. Sebelum ini, salah satu warga Desa Bonjor, Muhsinin tewas dalam baku tembak dengan polisi di tuban Jawa Timur pada 8 April 2017. Warga Bonjor lainnya, Budi Utomo, pada 8 Mei 2013 ditangkap Densus 88 di Kebumen karena merampok sejumlah toko dan bank untuk mengumpulkan dana terkait aksi terorisme. Budi telah dijatuhi vonis 10 tahun penjara.

“Itu lokasinya sangat jauh dan sukar dijangkau, lebih dekat dari Semarang sebenarnya. Nanti kita pertebal penjagaan dan pengamanan di pos-pos polisi dan kepolisian sektor (Polsek) di daerah itu untuk antisipasi teror. Apalagi ini menjelang Hari Raya Idul Fitri, jadi perlu pengamanan ekstra,” ujar Maesa.

Maesa menyebut, biasanya di pos-pos polisi yang ada di dua kecamatan itu hanya ada sekitar 25 anggota. Saat ini pengamanan di pos-pos polisi dua kecamatan itu dipertebal dengan penambahan satu peleton anggota polisi. “Kita tempatkan di daerah yang rawan-rawan saja, seperti di Tretep dan Wonoboyo,” ujar Maesa.

Maesa meminta kepada masyarakat Temanggung tetap jangan panik dan takut. “Silakan lakukan aktivitas seperti biasanya, bekerja seperti biasanya. Apalagi ini mau menjelang Lebaran, sambut saja Lebaran tanpa rasa takut dan cemas,” pinta Maesa. (san/ton)

Tinggalkan Komentar: