Pasar Unggas Kini Bersih dan Rapi

1146
TINJAU PASAR UNGGAS : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, berdialog dengan pedagang unggas di Pasar Unggas Kedungwuni yang saja diresmikan, Minggu (18/6) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINJAU PASAR UNGGAS : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, berdialog dengan pedagang unggas di Pasar Unggas Kedungwuni yang saja diresmikan, Minggu (18/6) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN – Pasar unggas yang semula kumuh, kotor dan semrawut, kini terlihat bersih, tertata rapi dan memiliki parkir kendaraan yang luas. Fasilitas umum seperti MCK (Mandi Cuci Kakus), tempat parkir luas dan musala melengkapi bangunan Pasar Unggas seluas 1.242 meter persegi dengan 45 kios yang ditempati pedagang. Hanya dengan membayar kebersihan sehari Rp 200 dan sewa kios sebesar Rp 2.850 per hari, pedagang bisa ikut menggelar dagangannya di lapak seluas 9 x 45 meter di Pasar Unggas tersebut.

Itulah Pasar Unggas di lingkungan Pasar Kedungwuni di Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan yang Minggu (18/6) kemarin diresmikan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. “Tujuan pembangunan Pasar Unggas Kedungwuni ini, agar pasar terlihat bersih, aman, nyaman dan tertib. Sehingga dapat meningkatkan jumlah pembeli hingga 3 kali lipat,” kata bupati.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Diperindagkop UMKM), Teguh Isdaryanto, mengatakan bahwa Pasar Unggas sudah berdiri sejak tahun 1990-an dan ditempati lebih dari 200-an pedagang dari berbagai daerah. Kala itu, belum ada bangunan pasar unggas, sehingga para pedagang menjual unggas di tempat terbuka, sehingga pasar menjadi kumuh dan kotor. Tapi kini pasar lebih tertata rapi dan bersih setelah dilakukan pembangunan yang anggarannya bersumber dari APBD Kabupaten Pekalongan Tahun 2016 sebesar Rp 1,2 miliar. “Luas bangunan Pasar Unggas ini 1.242m2 dengan 45 unit kios dan los akan ditempati kantor UPT pasar dan pedagang umum,” kata Teguh Isdaryanto.

Suroso, 54, pedagang ayam kampung, warga Desa Dororejo, Kecamatan Doro, mengungkapkan bahwa selama ini, Pasar Unggas Kedungwuni terkenal kumuh, karena berdekatan dengaan tampat pembuangan akhir (TPA) sampah sementara. Namun sejak TPA dipindah dan bangunan pasar unggas dibangun, banyak pengunjung dari luar kota yang datang, meski hanya melihat-lihat saja. “Sekarang pasarnya mulai ramai. Mungkin karena bangunannya baru dan pasarnya bersih,” ungkap Suroso.

Sementara itu, Bupati Asip juga menuturkan bahwa pada tahun 2017 akan dibangun lagi pasar becekan atau basahan, dengan nilai Rp 6 miliar dengan anggaran dari APBN. Pada tahun 2018 akan dibangun lagi Pasar Kedungwuni dengan total dana Rp 90 miliar.

“Kebersihan Pasar Unggas menjadi ruh utama yang mendatangkan kenyamanan para pembeli. Ini menjadi ikhtiar lahiriah yaitu membuat sarana yang bagus, bersih, parkir aman dan semua bergerak untuk kemakmuran pasar. Namun tak lupa ikhtiar batin yaitu berdoa kepada Allah SWT agar apa yang diinginkan kita diijabahi dan diberkahi,” tutur Bupati. (thd/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here