Ikhtiat Mengelola Zakat Untuk Kaum Papa

826
Muhammad Nur Mukhayya (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang)
Muhammad Nur Mukhayya (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang)

Islam merupakan agama yang mengajak seperangkat norma untuk beribadah dan bekerja secara maksimal dan sungguh-sungguh. Norma Islam selalu bercirikan pada dua aspek, yaitu yaitu mencapaihidup paripurna dengan penuhkebahagiaan hidup di dunia dan hidup di akhirat. Salah satu syariat agama yang menuntun menuju kebahagiaan itu adalah praktek zakat. Mengeluarkan sebagaian harta yang telah memenuhi batasan (nishab) untukl diberikan kepada para mustahiq atau orang yang berhak menerima zakat dalam rangka keadilan dan keseimbangan kehidupan. Selain itu, zakat tidak hanya untuk menjadi wahana pensucian harta dan kebersihan jiwa, akan tetapi juga ikhtiar mengentaskan kemiskinan yang menjadi probem kamanusiaan dewasa ini.

Zakat adalah salah satu instrumen keberpihakan dan kepedulian sosial. Banyak cara menjadikan seseorang mempunyai perhatian dan empati kepada sesama. Dengan memiliki perhatian khusus kepada kaum papa melaui zakatm, maka sekaligus hal ini meneguhkan koimitmen untuk melaksanakan firman Allah. Dalam surat at-Taubah ayat 103 disebutkan “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang berdimensi keadilan sosialkemasyarakatan. Secara etiomologi zakat berarti suci, baik, tumbuh, bersih danberkembang. Sementara secara terminologi zakat adalah sejumlah harta yang diwajibkan oleh Allah diambil dari harta orang-orang tertentu aghniyā’untukdiberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.Esensi dari zakat adalah pengelolaan dana yang diambil dariaghniyā’untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dan bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan sosial kemasyarakatan umatIslam.Hal tersebut setidaknya tercermin dari firman-firman Allah yang berkaitan dengan perintah zakat.

Sehubungan dengan hal itu, maka zakat dapat berfungsi sebagai salah satu sumber
dana sosial-ekonomi bagi umat Islam. Artinya pendayagunaan zakat yang dikelola oleh
Badan Amil Zakat tidak hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan tertentu saja yang
berdasarkan pada orientasi konvensional, tetapi dapat pula dimanfaatkan untuk kegiatan-
kegiatan ekonomi umat, seperti dalam program pengentasan kemiskinan dan
pengangguran dengan memberikan zakat produktif kepada mereka yang memerlukan
sebagaimodalusaha.Zakat memiliki peranan yang sangat strategis dalam upaya pengentasan
kemiskinan atau pembangunan ekonomi. Berbeda dengan sumber keuangan untuk
pembangunan yang lain, zakat tidak memiliki dampak balik apapun kecuali ridha dan
mengharap pahala dari Allah semata. Namun demikian, bukan berarti mekanisme zakat
tidak ada sistem kontrolnya.

Nilai strategis zakat dapat dilihat melalui: Pertama, zakat
merupakan panggilan agama. Ia merupakan cerminan dari keimanan seseorang. Kedua,
sumber keuangan zakat tidak akan pernah berhenti. Artinya orang yang membayar zakat,
tidak akan pernah habis dan yang telah membayar setiap tahun atau periode waktu yang
lain akan terus membayar. Ketiga, zakat secara empirik dapat menghapus kesenjangan
sosial dan sebaliknya dapat menciptakan redistribusi aset dan pemerataan pembangunan.
Pengembangan zakat bersifat produktif dengan cara dijadikannya dana zakat
sebagai modal usaha, untuk pemberdayaan ekonomi penerimanya, dan supaya fakir
miskin dapat menjalankan atau membiayai kehidupannya secara konsisten. Dengan dana
zakat tersebut fakir miskin akan mendapatkan penghasilan tetap, meningkatkan usaha,
mengembangkan usaha serta mereka dapat menyisihkan penghasilannya untuk
menabung.

Untuk menciptakan pengelolaan yang baik dan profesional diperlukan kualifikasi-kualifikasi sebagai berikut: (a) perlu adanya penyuluhan terhadap masyarakat tentang ketentuan-ketentuan zakat, sehingga mereka sadar akan makna, tujuan, dan hikmah dari zakat tersebut. (b) Menginventarisir orang-orang yang wajib zakat dan orang-orang yang berhak menerima zakat serta mendeteksi mustahik zakat yang lebih membutuhkannya. (c) Amil zakat benar-benar orang terpercaya, karena zakat adalah masalah yang sensitif. Oleh karenanya dibutuhkan kejujuran dan keikhlasan amil zakat untuk menumbuhkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap amil zakat.(d) Perlu adanya perencanaan dan pengawasan atas pelaksanaan dan pemungutan zakat yang baik.

Di dalam pelaksanaan pengumpulan, pemeliharaan dan pembagian zakat agar betul-betul dapat dilakukan seoptimal mungkin, sehingga tidak terjadi penyelewengan. Dalam peraturan asnaf yang delapan itu, benar-benar sudah dapat dibahas sektor-sektor mana yang lebih diprioritaskan mendapat pembagian yang lebih besar dari lainnya, sehingga dapat diaplikasikan azas manfaat yang sebesar-besarnya dan prinsip efektifitas dan efisiensi kerja di dalam pengelolaan zakat.

Mengenai pemanfaatan hasil zakat akan lebih baik apabila dapat dipertimbangkan pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan pemenuhan jangka panjang bagi fakir miskin. Misalnya sebagian dari hasil pemungutan zakat itu dijadikan modal suatu usaha atau koperasi dimana fakir miskin yang berhak menjadi pemegang saham. Dengan demikian hasil zakat tidak semata-mata dikonsumir tetapi juga diproduksikan. Akhirnya, marilah di akhir bulan Ramadan ini, kita jadikan wasilah untuk meningkatkan ibadah kita, dengan mengeluarkan zakat untuk kepentimngan sosial dan meminimalkan kesenjangan yang terjadi di tengah masyarakat.[*/zal]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here