Pernah Menangis, karena Tak Bisa Kumpul Keluarga

883
TANGGUNG JAWAB PROFESI: Elva Widya Pribadi tetap ikhlas menjalankan tugas sebagai perawat, meski kadang merasa sedih tak bisa kumpul keluarga. (NUR WAHID/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TANGGUNG JAWAB PROFESI: Elva Widya Pribadi tetap ikhlas menjalankan tugas sebagai perawat, meski kadang merasa sedih tak bisa kumpul keluarga. (NUR WAHID/JAWA POS RADAR SEMARANG)

HAL yang sama dirasakan juga perawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang. Adalah Elva Widya Pribadi, 29, warga Bledak Anggur Semarang yang sudah 7 tahun bekerja sebagai perawat, sering berjaga menjaga pasien di rumah sakit saat Lebaran.

”Sebenarnya bekerja saat Lebaran, itu hal biasa. Tetapi yang membuat menangis, karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Tetapi karena sudah menjadi risiko pekerjaan, tetap dijalankan walaupun merasa sedih,” tuturnya.

Elva mengaku kesedihan itu muncul karena saat berangkat kerja belum Lebaran. Begitu pulang dari tempat kerja, melihat warga berangkat ke masjid untuk salat Idul Fitri dan mengumandangkan takbir. ”Dari situlah perasaan sedih menggelayut sampai meneteskan air mata. Kadang sambil berjalan, sambil mengusap air mata,” tuturnya sedih.

Apalagi Elva telah dikaruniai anak berusia 3,5 tahun. Kalau dirinya bekerja, sang anak terpaksa dititipkan kepada orang tuanya. Tetapi, kalau orang tua sedang bekerja, maka anak tersebut dititipkan kepada tantenya. ”Kalau pulang kerja, anak diambil lagi,” ungkap wanita lulusan Unimus ini.

Elva yang kini bertugas sebagai perawat di ruang rawat inap Firdaus lantai VIII ini, bekerja di RSI Sultan Agung sejak 2010. Namun sejak itu, setiap tahunnya selalu bertugas pada saat Lebaran.

”Meski kadang merasa sedih merasakan kegembiraan umat Islam merayakan Lebaran bersama keluarga, namun memiliki tanggung jawab yang lebih besar sebagai perawat dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada pasien. Sehingga harus dijalani dengan ikhlas,” tuturnya.

Diakuinya, pasien pada malam Lebaran biasanya berkurang. Namun tetap ada pasien yang memang harus dirawat saat Lebaran karena kondisinya. Biasanya yang tidak diperbolehkan pulang oleh dokter saat Lebaran adalah pasien korban kecelakaan yang mengalami cedera di kepala atau patah tulang.

”Jadi tergantung penyakitnya, sudah membaik atau belum. Kalau belum sembuh dan bisa membahayakan pasien, maka tidak diperbolehkan pulang. Tetapi kalau penyakitnya tidak membahayakan tentunya diperbolehkan pulang,” ungkapnya.

Selain itu bekerja saat Lebaran, menurutnya justru menambah persaudaraan yang semakin akrab. Pasalnya, ketika keluarga pasien datang untuk menjenguk, mereka membawa rantangan berisi nasi dan opor, kemudian ada satu rantang yang diberikan secara khusus kepada perawat.

”Lebaran kok jaga, ini saya bawakan opor dan lontong untuk dinikmati bersama keluarga,” kata Elva menirukan salah seorang anggota keluarga yang menjenguk saudaranya yang sakit.

Bahkan tidak sedikit pasien yang sudah sembuh ari sakit, silaturahmi tetap terjalin kuat. Kadang mereka mampir ke RS untuk berbagi cerita. Padahal, mereka (pasien, Red) berasal dari berbagai daerah seperti dari Kudus, Demak, Pati, bahkan Magelang kadang datang hanya sekadar untuk mengobrol dan menjalin tali silaturahmi. ”Bahkan mereka kerap mengajak kami, untuk main ke rumahnya. Tidak hanya itu, mereka terkadang telepon untuk menanyakan kabar,” imbuhnya.

SUDAH TERBIASA: Erwina Prasetyo semula merasa sedih saat bertugas di hari Lebaran, namun kini sudah terbiasa. (NUR WAHID/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUDAH TERBIASA: Erwina Prasetyo semula merasa sedih saat bertugas di hari Lebaran, namun kini sudah terbiasa. (NUR WAHID/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sedangkan perawat lainnya, Erwina Prasetyo, 29, mengaku bertugas selama 8 tahun di RSI Sultan Agung, mengaku semula ada perasaan yang lain setiap Lebaran, tapi dirinya tetap bekerja. ”Semula rasanya aneh, saat orang lain bisa berkumpul dengan keluarga, tetapi saya bekerja untuk merawat orang sakit. Tetapi sekarang hal itu sudah biasa. Jadi awal menjadi perawat, ada perasaan sedih,” katanya.

Alumnus Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Unissula ini mengaku sangat terkesan ketika dibawakan makanan keluarga pasien. Bahkan dirinya sempat ditawari menikah dengan anak pasien. ”Kebanyakan karena seringnya bertemu dan bergaul dengan pasien, jadi banyak tawaran dan kebahagiaan,” katanya.

Dengan menjadi perawat, diakuinya, kerap diperlihatkan kondisi pasien yang kritis bahkan sampai merasakan proses sakaratul maut, sebelum akhirnya pasien meninggal dunia. Dengan begitu, dirinya bisa mengambil hikmah bahwa yang hidup itu tidak selamanya hidup, akan meninggal dunia juga. ”Kalau melihat pasien yang sakaratul maut itu, paling hanya bisa bersabar. Kejadian itu dapat mengingatkan kita sebagai manusia, pasti akan meninggal dunia,” imbuhnya. (hid/ida/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here