Lailatul Qadar dan Tanggungjawab Kebangsaan

777
Oleh: Arikhah*)
Oleh: Arikhah*)

PUASA dikenal sebagai ibadah yang sangat personal, tidak ada orang lain mengetahui hakekat dan kualitasnya kecuali Allah. Apalagi jika dilihat dari aspek moral sebagai pengejawantahan pengendalian diri, puasa benar-benar ikhtiar mengelola nafsu untuk menjadi manusia yang unggul, sosok yang dicita-citakan al-Qur’an sebagai muttaqin, sosok unggul dan berkualitas. Berpuasa berarti mengelola diri sendiri, mengalahkan keinginan diri sendiri yang sesungguhnya lebih sulit daripada menundukkan orang lain. Maka, ketika Nabi menyebut melalui sebuah hadis seusai Perang Badar. “Kita baru menyelesaikan jihad kecil untuk menuju jihad besar, jihad melawan hawa nafsu.” Kemampuan mengelola hawa nafsu inilah yang pada gilirannya mengantarkan seseorang menggapai lailaltul qadar.

Sering orang menyebut lailatul qadar sebagai malam kemuliaan, sebagai malam yang agung karena malam diturunkannya al-Quran, juga malam yang lebih utama daripada seribu bulan, yang dipenuhi rahmat dan keberkahan hingga terbit fajar. Semua orang Islam mendambakan berjumpa dengan maloam yang memiliki lompatan kebaikan berlipat yang tak terhingga ini. Hal ini sangat wajar mengingat perjumpaan dengannya berkualitas ibadah yang lebih baik dari 83 tahun beribadah biasa. Beribadah dan beramal saleh pada malam kemuliaan pahalanya jauh lebih besar dan lebih baik daripada beribadah dan beramal saleh dalam seribu bulan yang tidak menjumpai lailatul qadar.

Menjadi orang yang berkualitas adalah sebuah proses panjang, yang melalui tahapan-tahapan ritual dan penghayatan yang berkualitas pula. Demikian pula untuk mendapatkan kemuliaan tidak dapat diperoleh dengan spontan tanpa kekuatan andasan dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan bekal menjalani kehidupan di akhirat. Dengan melaksanakan praktik-praktik ibadah secara maksimal di bulan Ramadan, sesungguhnya seseorang telah memulai mencapaian lailatul qadar. Karena mempersiapkan diri menjadi insan yang unggul dengan kualitas yang berlipat.

Setidaknya ada empat aspek yang menggambarkan manusia berkualitas, yang disarikan dari pemaknaan terhadap al-Qur’an. Empat hal itu adalah kualitas iman, ilmu pengetahuan, kualitas amal saleh, dan kualitas sosial. Seseorang yang memiliki kualitas iman yang unggul, akan memperlihatkan kualitas perilaku, kualitas wawasan, kualitas amal salah, dan kualitas sosialnya dengan penuh ketulusan dalam setiap ranah kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakat luas. Manusia akan berperilaku, bekerja, dan bermasyarakat sesuai dengan fitrah kejadiannya yang condong kepada kebenaran dan kedamaian. Manusia berkualitas akan berjuang melawan penindasan, tirani, dan tidak membiarkan kediktatoran atau tindakan sewenang-wenang. Karena imam memberikan pula kedamaian jiwa, kedaimaian berperilaku, dan kedamaian amal saleh.

Makna lailatul qadar dalam realitas keseharian adalah menghadirkan pribadi yang berkualitas dengan juga mengorientasikan ibadah hanya kepada Allah dan melakukannya dengan prinsip-prinsip kerja sistematis, terencana, cerdas, yang menggabungkan olah pikir, olah raga dan olah jiwa. Seseorang yang bekerja misalnya, mulai dari nol bekerja keras setiap hari berangkat pagi pulang sore bahkan malam, bekerja bertahun-tahun, ia akan mendapatkan hasil dari kerjanya. Namun, dengan semangat lailatul qadar, satu malam lebih baik dari seribu bulan, ia akan melakukan pekerjaannya dengan stategi, semangat dan komitmen lompatan hasil pekerjaan untuk hasil yang lebih produktif dan berkualitas. Dalam hal belajar, semangat lailatul qadar dapat memompa rasa ingin tahu yang mendalam terhadap ilmu, berdoa dengan penuh keyakinan dan iktiar dengan tenaga dan pikir maksimal, tentu akan mendapatkan oengetahuan, wawasan, skill dan hasil yang lebih optimal.

Mendapat lailatul qadar bagi putra dan putri negeri ini berarti adanya perubahan sikap dan perilaku, khususnya dalam membangun bangsa dn menghisinya dengan tindakan dan program-program yang maslahah, menjaga kerukunan hidup beragama dengan landasan etika al-Qu’ran. Lailatul qadar merupakan proses menjadi (becoming), menjadi lebih baik, lebih rukun, lebih santun, lebih damai dan lebih positif dalam mengelola utrusan-urusan masyarakat dan negara. Lailatul Qadar juga sebagai media belajar umat Islam membentuk diri menjadi manusia utuh, sadar, kebersamaan dan tercerahkan dalam bertingkah laku positif, khususnya dalam konteks kebangsaan yang identik dengan beragam perbedaan. Sikap menjaga bersama dan saling mengawal NKRI sebagai negara-bangsa menjadi komitmen kuat memperjuangkan kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan di bumi Indonesia. (*/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here