Delapan Tahun Lebaran, Anik Susilo Wati Tetap Masuk Kerja

Suka Duka Para Perawat yang Tetap Kerja di Hari Libur Lebaran

239
IKHLAS: Anik Susilo Wati (kedua dari kiri) tetap bekerja merawat pasien dengan ikhlas meski sudah 8 tahun menikmati Lebaran di Rumah Sakit Tugurejo Semarang. (DOK PROBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
IKHLAS: Anik Susilo Wati (kedua dari kiri) tetap bekerja merawat pasien dengan ikhlas meski sudah 8 tahun menikmati Lebaran di Rumah Sakit Tugurejo Semarang. (DOK PROBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Momentum Lebaran menjadi hari paling sakral bagi umat Islam. Semua orang dalam kebahagiaan, baju baru, THR, aneka makanan lezat, menjadi semangat baru yang paling dinanti. Namun perawat adalah satu dari sekian pekerja yang tidak bisa menikmati momentum Lebaran seperti orang kebanyakan. Mereka tetap menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan. Bagaimana suka dukanya?

IDUL Fitri merupakan puncak tanda berakhirnya bulan suci Ramadan yang penuh pengampunan. Di Indonesia, tradisi unik ini bernama Mudik Lebaran. Berjuta-juta orang berbondong-bondong meninggalkan ibu kota untuk kembali ke kampung halaman. Mereka mengikuti tradisi para pendahulunya untuk napak tilas ke tanah kelahiran, sungkem kepada orang tua, ziarah kubur, bertemu sanak keluarga dan teman-teman semasa kecil.

Baca Juga :

Tradisi ini membuat pemerintah dan semua pihak sibuk mempersiapkan segala hal untuk sekadar menyambut mudik Lebaran. Bahkan semua lini, infrastruktur jalan, angkutan, hingga posko-posko pengamanan dipersiapkan untuk mengawal momen mudik Lebaran ini agar berjalan aman.

Tetapi di balik kemeriahan tradisi istimewa tersebut, tak bisa dinikmati sepenuhnya oleh Anik Susilo Wati, perawat di RSUD Tugurejo ini. Bahkan Lebaran 2017 ini, tetap menjalankan tugas merawat orang sakit. Bahkan ini merupakan tahun kedelapan, ia menikmati Lebaran di rumah sakit.

”Lebaran masuk kerja sudah terbiasa. Saya bekerja di RSUD Tugurejo sejak Maret 2010. Setiap tahun, jaga Lebaran,” kata ibu dua anak saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela-sela bekerja, Sabtu (17/6) kemarin.

Tidak bisa dimungkiri, secara manusiawi, Anik mengaku ingin pulang untuk menikmati Lebaran. Bisa berkumpul dengan keluarga dan seterusnya. Tetapi tugas dan tanggung jawab sebagai perawat sudah menjadi pilihannya. Maka risiko itu harus dilaksanakan dengan hati ikhlas. ”Kami bekerja memakai sistem,” katanya.

Meski mendapat jadwal jaga saat Lebaran, ia menjelaskan bahwa pembagian libur tetap dilakukan secara adil. Artinya, tetap ada hak libur. ”Walaupun ada senior-junior tetap disamakan. Nggak ada istilah yang senior libur lama, kemudian yang junior kerja terus kan enggak,” kata wanita kelahiran, Semarang, 14 Januari 1977, yang saat ini tinggal di Perumahan Graha Bringin Mas Utara II nomor 23 Semarang ini.

Selama bekerja di RSUD Tugurejo 2010, pertama tugas di Ruang Kenanga, kemudian Ruang Alamanda, dan sekarang di Ruang VIP. Penjadwalan piket jaga Lebaran telah diatur secara baik. ”Jadwal libur dibagi sebelum dan sesudah Lebaran. Misalnya ada yang libur 3 hari sebelum hari H dan libur sesudah Lebaran, liburnya 3 hari mulai hari kedua Lebaran,” terangnya.

Dijelaskan, untuk menentukan siapa yang libur sebelum dan sesudah Lebaran biasanya diundi. Misalnya di salah satu ruangan ada 6 perawat, berarti 3 perawat libur sebelum dan 3 perawat libur sesudah Lebaran. ”Diundi tujuannya ya agar tidak ada rasa meri-merinan,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, pihak keluarga mendukung. Suami dan anak-anak sudah memahami pekerjaan ibunya. ”Tidak protes karena memahami, kalau mamanya kerja 24 jam. Bisa masuk siang maupun malam, hari Minggu tidak pasti libur, mereka sudah tertanam seperti itu. Jadi kalau Lebaran tetap masuk kerja, mereka (anak-anak) tidak heran. Karena saking sudah terbiasa seperti itu,” katanya.

Karena kondisinya seperti itu, ia mengaku harus menyiasati sesuai jadwal. Misalnya momentum sungkem kepada orang tua, bisa disiasati sebelum berangkat kerja. ”Biasanya kalau bisa agak gasik, sungkeman dulu ke orang tua dan mertua. Tapi kalau enggak, ya setelah pulang kerja atau pas jadwal libur baru sungkeman,” katanya.

Ia mengaku tidak pernah jaga pas malam takbiran. Sebab, biasanya ada pengertian dari pekerja yang berstatus single untuk merelakan diri jaga malam takbiran. ”Terutama yang cowok. Apalagi yang bekerja di sini kan tidak muslim semua, sehingga saling menghargai. Yang nonmuslim bisa jaga malam saat malam takbiran. Sama halnya kalau Hari Raya Natal juga gitu, pekerja yang muslim bisa gantian jaga. Nggak ada sistem menang-menangan,” katanya.

Lebih lanjut, justru hal yang paling sering terjadi saat mendekati Lebaran adalah adanya pasien meminta ingin pulang. ”Kadang dalam kondisi masih sakit pun ada pasien minta pulang. Intinya mereka ingin Lebaran di rumah, minta setelah Lebaran masuk lagi. Sebenarnya dokter tidak mengizinkan, tapi mereka tapak asmo (tanda tangan) ada hitam di atas putih atas permintaan sendiri. Kalau ada apa-apa, bukan tanggung jawab kami karena belum saatnya pulang,” katanya.

Prinsipnya, ia mengaku menikmati bekerja secara ikhlas. Sehingga tugas yang menjadi tuntutan pekerjaan itu tidak menjadi beban. ”Kami kerja dan dinikmati aja. Lebaran kerja sudah biasa, nggak ada yang perlu ditakuti ataupun menjadi beban. Karena liburnya sudah diatur, jadi ya hak kita dinikmati saja. Sudah menjadi tanggung jawab, ya sudah,” katanya. (amu/ida/ce1)

Tetap Ada Hak Libur, tapi Diundi secara Adil

 

Tinggalkan Komentar: