Bekerja saat Lebaran Jadi Ladang Pahala

376
BANGUN PENGERTIAN: Surono yang sudah 20 tahun bertugas sebagai perawat saat Lebaran, berhasil meyakinkan orang tuanya tentang tanggung jawab profesinya. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANGUN PENGERTIAN: Surono yang sudah 20 tahun bertugas sebagai perawat saat Lebaran, berhasil meyakinkan orang tuanya tentang tanggung jawab profesinya. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BEKERJA sebagai perawat di Rumah Sakit (RS) Roemani Semarang, menjadi ladang pahala bagi Surono, 39. Dirinya sudah bekerja selama 20 tahun, sejak 1997. Selama itu pula, ia hanya pernah merasakan sekali nikmatnya berlebaran di kampung halaman. Itu pun dinikmatinya ketika Lebaran hari kedua, selang beberapa hari harus kembali bertugas di Semarang.

”Secara umum, saya dan teman-teman sudah memahami kondisi ini. Karena yang berasal dari luar kota masih bisa pulang kampung sesudah Lebaran. Hanya saja, tidak bisa tepat pada Hari Raya Idul Fitri. Saya sendiri sudah hampir 20 tahun tidak mudik ketika tepat Idul Fitri,” kata warga Jalan Syuhada Pedurungan Semarang ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakuinya, sebetulnya orang tuanya menginginkannya berada di rumah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama-sama. Terlebih Surono merupakan putra sulung dari dua bersaudara. Karena itulah, dirinya berusaha meyakinkan orang tuanya tentang tanggung jawab profesinya tersebut. Dia bersyukur, kini keluarganya dapat menerima seiring berjalannya waktu.

”Masih harus bekerja ketika Lebaran ya nyaman-nyaman saja. Saya menikmati seiring sudah lamanya bekerja. Walaupun orang tua mengharapkan pulang, tapi tetap bisa memahami tugasnya. Dan pasca Lebaran pasti mendapatkan cuti, saya gunakan untuk mudik,” kata ayah dua anak ini.

Surono tak sendirian, ia bertugas bersama rekan-rekannya dengan senang hati dan ikhlas. Dalam timnya berjumlah 4 orang, bertugas di ruang Sulaiman lantai 3 dan 4 untuk menjaga pasien di 38 kamar. Total terdapat 34 perawat, setiap satu orang perawat dalam satu shift bertugas menjaga 4-5 pasien.

”Tapi, biasanya kalau Lebaran jumlah pasien berkurang. Sehingga jumlah perawat dapat dikurangi, sebagian mendapat jadwal libur dan sebagian tetap dinas. Setiap tugas dapat dikondisikan. Jadi, kami tetap bisa mengatur waktu untuk berlebaran di kampung halaman meski waktunya sesudah hari raya,” jelasnya.

Apalagi istrinya, Mutamimah juga seorang perawat di RS lain di Semarang, sehingga sama-sama bertugas saat Lebaran. Karena itulah, pada saat hari H Lebaran, Surono lebih sering mengujungi rumah mertuanya di Kaliwungu, Kendal. Jarak Kota Semarang yang tidak jauh dengan Kendal, ia bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung setelah atau sebelum menjalankan tugasnya.

Setelah mendapatkan cuti pasca Lebaran, ia baru mudik ke Pacitan bersama keluarga. ”Iya kalau yang lainnya sudah pada arus balik, saya baru bisa mudik. Tapi pas jalanan tidak begitu ramai karena sudah arus balik,” ujarnya tersenyum kecil.

Jatah libur itu juga tidak lama, minimal 3 hari sudah harus kembali ke Semarang untuk bekerja kembali. Namun waktu ini, tetap dirasa cukup untuk mengobati kerinduan berlebaran di kampung halaman bersama keluarga tercinta. (dan/ida/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here