33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Puasa Merubah Takdir Sosial Kemanusiaan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

PERUBAHAN dalam hidup adalah niscaya. Yang tetap dalam kehidupan adalah perubahan itu sendiri. Namun kata perubahan sering diperlakukan secara sederhana dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Alih-alih, perubahan memakan korban lebih banyak. Orang kebanyakan memandang perubahan sebagai sikap anarkis, brutal dan mencemaskan. Padahal sejatinya perubahan adalah mengubah cara manusia dalam berfikir dan berperilaku.

Ramadan sesungguhnya telah mengajarkan nilai-nilai perubahan sosial yang radikal, fundamental dan revolusioner setiap tahun sekali selama tidak lebih 30 hari. Bagaimana masyarakat bergerak bersama sejak mulai sahur sampai berbuka puasa. Tak hanya itu, Ramadlan pun juga mengolah batin kita untuk mengeluarkan sebagian harta sebagai “modal sosial” agar takdir negara menjadi damai, tentram dan sejahtera. Seperti berbagi takjil, zakat, dan lain-lain.

Indonesia memiliki banyak tradisi yang merekatkan nilai sosial di bulan Ramadan ini. Tak heran apabila kegiatan Ramadlan umat Islam di Indonesia menjadi sorotan dunia.  Misalnya tradisi ater-ater, tradisi ini saling memberi makanan yang dimasak sendiri sebagai simbol kesalingpedulian antar sesama, bahkan kepada yang non-muslim sekalipun.

Tradisi kita yang banyak ini seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus paska Ramadlan. Seperti berkreasi membuat even-even yang mengandung nilai saling silaturrahmi, baik silaturrahmi organisasi ataupun silaturrahmi pemikiran dan gagasan sehingga diantara kita saling mengenal, bukan curiga mencurigai antar sesama. Mengingat, isu-isu di media sosial mudah menjadi api yang siap kapan pun untuk disulut guna membakar persaudaraan kita agar tercerai belai dan karut marut.

Sungguh, sangat banyak kejadian sosial yang tidak seharusnya terjadi apabila masing-masing diri kita mau berkomitmen bersama untuk menentukan takdir NKRI hari ini dan esok. Ramadlan inilah saat baik untuk merubah paradigma berfikir dan cara pandang hidup kita sebagai warga negara dan umat beragama yang bertanggungjawab atas kelestarian hidup. Sebagai warga negara, kita sepatutnya menjaga lingkungan kita baik nyata ataupun lingkungan maya (seperti grup Facebook, grup WA, grup BBM dan lain-lain) dari ujaran kebencian yang akan menyulut konflik, karena Islam memiliki konsep tabayun (klarifikasi/ mediasi) yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan penuh rasa keadilan. Sebagai umat Islam, sepatutnya melakukan da’wah dengan menggunakan retorika sosial yang selaras dimana masyarakat berada, hal ini penting karena negara kita kaya tradisi, kaya nilai, kaya bahasa, dan kaya keluhuran.

Puasa seharusnya merubah. Merubah takdir kenestapaan menjadi mulia. Kenestapaan akibat lemahnya akses, kenestapaan akibat minimnya sumber daya, kenestapaan akibat korupsi para elit, kenestapaan akibat para cukong berhati durja. Pusa seharusnya bisa membalik keadaan tersebut.

Puasa seharusnya merubah. Merubah takdir kemiskinan menjadi kesejahteraan. Kemiskinan akibat kekurangan modal, kemiskinan akibat kebijakan yang timpang, kemiskinan akibat konflik, kemiskinan akibat minimnya infra struktur, kemiskinan akibat hidup boros, dan lain-lain. Puasa seharusnya bisa membalik keadaan itu.

Puasa seharusnya merubah. Merubah takdir ketimpangan menjadi berkeadilan. Merubah takdir kekerasan menjadi kasih sayang. Baik kekerasan akibat ujaran kebencian, kekerasan akibat kesenjangan sosial, kekerasan akibat lemahnya moral, kekerasan akibat isu yang dimainkan para elit politik, dan lain-lain. Puasa seharusnya bisa membalik keadaan ini.

Puasa seharusnya merubah. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, patut dipertanyakan. Apakah nilai-nilai perubahan sosial Ramadan dari masing-masing kita telah terkubur oleh keserakahan kita?. Jika iya, seberapa dalam ia mengubur Ramadan kita? Kalau reguleritas waktunya seperti itu, untuk apa kita berjumpa Ramadan dan merindukannya kembali di tahun mendatang?

Apa yang menjamin takdir sosial kemanusiaan kita berubah saat nanti selepas Ramadan?. Satu jawabnya, ibadah yang menggerakkan sosial. Yakni salat Ju’at. Ya, salat jumat. Salat jumat menjadi garansi kita, di mana setiap minggunya kita bertemu tatap muka sesama saudara. Apakah ibadah shalat jum’at kita mampu dan seberapa kuat mengelola potensi ukhuwah Islamiyah untuk melerai persoalan sosial yang semakin hari kian meninggi. Sepakatkah kita menjadi muslim yang ramah? Sediakah kita menjadi muslim yang bukan pemarah, tetapi bertabayun? Dan, sadarkah kita bahwa takdir sosial kemanusiaan kita ditentukan dari ucap tutur dan laku sikap kita dalam merespon setiap persoalan hidup.

Sadar akan itu, kita semua berkewajiban untuk senantiasa memelihara rumah ibadah kita agar terhindar dari fitnah besar. Fitnah yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga Ramamdlan tahun ini dapat memberi kemampumpuan kita untuk menggaransi takdir sosial kemanusiaan Indonesia pada masa mendatang. (*/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kementan Terjunkan Tim Khusus Tangani Antraks

UNGARAN–Kementerian Pertanian (Kementan) menerjunkan tim khusus sebagai langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus antraks ke daerah lain. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan saat...

Maret, Blangko E-KTP Didistribusikan

UNGARAN–Blangko E-KTP diperkirakan mulai tersedia pada bulan Maret 2017. Itupun jika lelang blanko di tingkat pemerintah pusat lancar. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil)...

Naik Bus

Oleh: Dahlan Iskan Saya putuskan naik bus saja. Dari Konya ke Afyon. Lima jam. Menempuh jalan perbukitan. Pegunungan. Masuk ke pedalaman. Saya sudah biasa naik bus...

Pesisir Demak Darurat Rob

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Bencana rob kembali melanda pesisir utara Demak. Selain jalan akses penghubung antar desa, banjir rob juga merendam ratusan rumah warga yang...

Kondisi Fisik Jadi Perhatian

SEMARANG - Penyelenggaraan Popnas yang sudah di depan mata, membuat pelatih tim senam ritmik Popnas Jateng Elly Puji Kusumawati memfokuskan latihan untuk mematangkan koreografi...

Pemanfaatan Media WhatsApp Grouping dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

RADARSEMARANG.COM - SIAPA tidak tahu WhatsApp atau WA? Media sosial ini sudah sangat popular dan familiar bagi anak-anak maupun orang tua. Juag semua kalangan:...