33 C
Semarang
Kamis, 24 September 2020

Puasa Merubah Takdir Sosial Kemanusiaan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

PERUBAHAN dalam hidup adalah niscaya. Yang tetap dalam kehidupan adalah perubahan itu sendiri. Namun kata perubahan sering diperlakukan secara sederhana dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Alih-alih, perubahan memakan korban lebih banyak. Orang kebanyakan memandang perubahan sebagai sikap anarkis, brutal dan mencemaskan. Padahal sejatinya perubahan adalah mengubah cara manusia dalam berfikir dan berperilaku.

Ramadan sesungguhnya telah mengajarkan nilai-nilai perubahan sosial yang radikal, fundamental dan revolusioner setiap tahun sekali selama tidak lebih 30 hari. Bagaimana masyarakat bergerak bersama sejak mulai sahur sampai berbuka puasa. Tak hanya itu, Ramadlan pun juga mengolah batin kita untuk mengeluarkan sebagian harta sebagai “modal sosial” agar takdir negara menjadi damai, tentram dan sejahtera. Seperti berbagi takjil, zakat, dan lain-lain.

Indonesia memiliki banyak tradisi yang merekatkan nilai sosial di bulan Ramadan ini. Tak heran apabila kegiatan Ramadlan umat Islam di Indonesia menjadi sorotan dunia.  Misalnya tradisi ater-ater, tradisi ini saling memberi makanan yang dimasak sendiri sebagai simbol kesalingpedulian antar sesama, bahkan kepada yang non-muslim sekalipun.

Tradisi kita yang banyak ini seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus paska Ramadlan. Seperti berkreasi membuat even-even yang mengandung nilai saling silaturrahmi, baik silaturrahmi organisasi ataupun silaturrahmi pemikiran dan gagasan sehingga diantara kita saling mengenal, bukan curiga mencurigai antar sesama. Mengingat, isu-isu di media sosial mudah menjadi api yang siap kapan pun untuk disulut guna membakar persaudaraan kita agar tercerai belai dan karut marut.

Sungguh, sangat banyak kejadian sosial yang tidak seharusnya terjadi apabila masing-masing diri kita mau berkomitmen bersama untuk menentukan takdir NKRI hari ini dan esok. Ramadlan inilah saat baik untuk merubah paradigma berfikir dan cara pandang hidup kita sebagai warga negara dan umat beragama yang bertanggungjawab atas kelestarian hidup. Sebagai warga negara, kita sepatutnya menjaga lingkungan kita baik nyata ataupun lingkungan maya (seperti grup Facebook, grup WA, grup BBM dan lain-lain) dari ujaran kebencian yang akan menyulut konflik, karena Islam memiliki konsep tabayun (klarifikasi/ mediasi) yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan penuh rasa keadilan. Sebagai umat Islam, sepatutnya melakukan da’wah dengan menggunakan retorika sosial yang selaras dimana masyarakat berada, hal ini penting karena negara kita kaya tradisi, kaya nilai, kaya bahasa, dan kaya keluhuran.

Puasa seharusnya merubah. Merubah takdir kenestapaan menjadi mulia. Kenestapaan akibat lemahnya akses, kenestapaan akibat minimnya sumber daya, kenestapaan akibat korupsi para elit, kenestapaan akibat para cukong berhati durja. Pusa seharusnya bisa membalik keadaan tersebut.

Puasa seharusnya merubah. Merubah takdir kemiskinan menjadi kesejahteraan. Kemiskinan akibat kekurangan modal, kemiskinan akibat kebijakan yang timpang, kemiskinan akibat konflik, kemiskinan akibat minimnya infra struktur, kemiskinan akibat hidup boros, dan lain-lain. Puasa seharusnya bisa membalik keadaan itu.

Puasa seharusnya merubah. Merubah takdir ketimpangan menjadi berkeadilan. Merubah takdir kekerasan menjadi kasih sayang. Baik kekerasan akibat ujaran kebencian, kekerasan akibat kesenjangan sosial, kekerasan akibat lemahnya moral, kekerasan akibat isu yang dimainkan para elit politik, dan lain-lain. Puasa seharusnya bisa membalik keadaan ini.

Puasa seharusnya merubah. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, patut dipertanyakan. Apakah nilai-nilai perubahan sosial Ramadan dari masing-masing kita telah terkubur oleh keserakahan kita?. Jika iya, seberapa dalam ia mengubur Ramadan kita? Kalau reguleritas waktunya seperti itu, untuk apa kita berjumpa Ramadan dan merindukannya kembali di tahun mendatang?

Apa yang menjamin takdir sosial kemanusiaan kita berubah saat nanti selepas Ramadan?. Satu jawabnya, ibadah yang menggerakkan sosial. Yakni salat Ju’at. Ya, salat jumat. Salat jumat menjadi garansi kita, di mana setiap minggunya kita bertemu tatap muka sesama saudara. Apakah ibadah shalat jum’at kita mampu dan seberapa kuat mengelola potensi ukhuwah Islamiyah untuk melerai persoalan sosial yang semakin hari kian meninggi. Sepakatkah kita menjadi muslim yang ramah? Sediakah kita menjadi muslim yang bukan pemarah, tetapi bertabayun? Dan, sadarkah kita bahwa takdir sosial kemanusiaan kita ditentukan dari ucap tutur dan laku sikap kita dalam merespon setiap persoalan hidup.

Sadar akan itu, kita semua berkewajiban untuk senantiasa memelihara rumah ibadah kita agar terhindar dari fitnah besar. Fitnah yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga Ramamdlan tahun ini dapat memberi kemampumpuan kita untuk menggaransi takdir sosial kemanusiaan Indonesia pada masa mendatang. (*/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kenang Perjuangan Pemuda Magelang Tempo Dulu

MAGELANG- Pengunjung Magelang Tempo Doeloe (MTD) antusias menonton drama Fragmen Perdjoeangan Kemerdekaan Repoeblik Indonesia yang dipentaskan Komunitas 'Magelang Kembali' di Alun-alun Kota Magelang, Minggu...

Dua Pembunuh Gagal Dituntut

SEMARANG-Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang gagal menuntut Alfredo Maulana Hafidh alias Aldo selaku terdakwa I dan Revandi Kukuh Listiyoaji terdakwa II yang telah...

Poles Seni Budaya Jadi Destinasi Wisata

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Kabupaten Batang gencar mengangkat potensi wisatanya, salah satunya dengan membuat banyak destinasi wisata baru. Seni dan budaya adalah salah satu sumber...

Lakukan Coklit Untuk Tentukan DPT

RADARSEMARANG.COM, KENDAL — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng akan melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) data terhadap daftar pemilih sementara di seluruh kabupaten/kota di Jateng,...

Belajarlah dari Bumi Pertiwi

RADARSEMARANG.COM - DUNIA selalu berubah. Kehidupan yang dulu primitif, kini berubah modern. Nilai-nilai kehidupan pun berubah, seiring perubahan zaman dan peradaban. Yang dulu hanya...

Puluhan Peraga Alat Kampanye Dicopot

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Sebanyak 52 alat peraga kampanye (APK) yang melanggar ketentuan dicopot Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Magelang bersama Panitia Pengawas Pemilihan...