28 C
Semarang
Senin, 14 Juni 2021

14 Armada BRT Tak Laik Jalan

Operator BRT Ditegur

SEMARANG – Sebanyak 14 Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang dinyatakan tidak laik jalan karena tidak lolos uji emisi yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang di Jalan Pemuda Semarang, Jumat (16/6). Sejumlah armada BRT ditemukan memiliki kepekatan emisi mencapai 99,99 persen. Tentu ini menunjukkan bahwa operator BRT tersebut belum sepenuhnya memperhatikan kondisi armada BRT, sehingga kepekatan asap BRT belum ramah lingkungan.

”Hari ini (kemarin), kami memeriksa sebanyak 25 armada BRT dari koridor 1 hingga 5. Hasilnya, ditemukan 14 BRT tidak lolos uji emisi,” kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Ade Bhakti, Jumat (16/6).

Dari hasil pengecekan, kata Ade, di antaranya ditemukan armada BRT dengan kepekatan emisi mencapai 99,99 persen, yakni salah satu BRT koridor 2 nomor lambung 12.

Pengecekan ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang emisi gas buang kendaraan bermotor, yakni maksimal 70 persen.

”Mulai bus tahun 2010, batas maksimal uji emisi di angka 70 persen. Ada yang di bawah 70 persen, yakni 69 persen. Mereka lolos, tapi sangat tipis. Maka tetap kami sarankan kepada operator untuk memperbaiki mesin,” ujarnya.

Bahkan armada BRT Koridor 5, yang baru saja di-launching pada Maret lalu juga ditemukan memiliki kepekatan emisi gas buang mencapai 74 persen. Selain ditemukan sejumlah armada melampaui batas ketentuan uji emisi, juga ditemukan armada BRT yang knalpotnya dipindah ke samping. Padahal standarnya knalpot berada di belakang.

”Alasannya karen sering melewati daerah rob, kemudian mereka memindah knalpot di samping. Karena saat ini sudah tidak ada rob, maka kami minta mereka mengembalikan knalpot ke tempat semula yakni di belakang,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Muhammad Khadik, mengatakan, pengecekan emisi ini merupakan kegiatan rutin tiga bulan sekali. Tujuannya, untuk mengontrol kondisi armada BRT. Tentunya agar memberikan kenyamanan dan keamanan pengguna BRT, sekaligus agar setiap armada BRT ramah lingkungan.

”BRT saat ini menggunakan mesin diesel dan berbahan bakar solar. Maka gas buangnya harus dilakukan kontrol secara rutin,” terangnya.

Untuk selanjutnya, hasil pengecekan akan menjadi bahan evaluasi. Pihaknya akan menegur operator BRT agar ditindaklanjuti untuk melakukan pembenahan dan perawatan armada BRT. ”Hasil pemeriksaan akan kami tuangkan dalam berita acara. Kemudian berita acara ini akan kami sampaikan ke seluruh operator BRT untuk menjadi bahan evaluasi,” katanya.

Menurutnya, bagaimanapun keberadaan BRT tersebut merupakan satu kesatuan bentuk wajah transportasi umum di Kota Semarang. Tentu, pengelolaannya harus dilakukan secara profesional. ”Indikatornya dari bagaimana mengelola BRT ini dengan baik,” katanya. (amu/aro/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here