33 C
Semarang
Senin, 6 Juli 2020

Salat Hajat Berjamaah, Mujahadah hingga Dini Hari

Tradisi Sambut Malam Lailatul Qadar di Musala Al Fadhillah Pandean Lamper

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Ramadan adalah bulan istimewa bagi umat Islam. Tradisi keagamaan digelar secara khusyuk tak memandang waktu. Salah satunya tradisi menyambut malam Lailatul Qadar di Musala Al Fadhillah, Pandean Lamper, Gayamsari. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS 

RAMADAN sudah memasuki 10 hari terakhir. Saat itulah malam Lailatul Qadar diyakini datang, terutama di malam-malam ganjil. Biasanya, umat Islam akan semakin meningkatkan ibadah di malam hari. Seperti halnya yang dilakukan jamaah Musala Al Fadhillah Jalan Bintoro III, Pandean Lamper, Gayamsari, Semarang.

Hingga menjelang tengah malam, sejumlah warga tampak berkumpul di musala setempat. Terdengar lantunan ayat suci Alquran di speaker musala. Gemericik air wudu tak henti-hentinya mengalir. Orang bergantian untuk bersuci. Mereka menjaga tradisi menyambut datangnya malam Lailatur Qadar.

Para jamaah merapatkan barisan untuk melaksanakan salat Hajat berjamaah dan dilanjutkan dengan mujahadah Nihadul Mustaghfirin hingga dini hari. Tradisi tersebut telah menjadi aktivitas rutin sejak musala berdiri pada 1966.

”Kami mengajak agar senantiasa selalu tholabul ilmi (menuntut ilmu) dengan menghadiri berbagai majelis. Terlebih, pada bulan Ramadan,” kata pemimpin mujahadah, Zaenal Ulum Al Hafidz kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengajak kepada jamaah untuk melanggengkan amalan kebaikan setiap hari semampunya. Apalagi iklim politik yang terjadi di negeri ini kerap memanas, sehingga membuat masyarakat awam dengan mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang kurang bermanfaat. Maka di bulan berkah seperti ini, diharapkan bisa menahan hawa nafsu dan berlatih sikap tawaduk.

”Pesan yang selalu saya ingat dari guru kami KH Achmad Muhammad atau Gus Muh dan KH Abdurahman Chudlori adalah mengutamakan sikap tawaduk,” kata santri Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang ini.

Dijelaskannya, tradisi menyambut malam Lailatur Qadar di kampung tersebut selalu dijaga, terutama memasuki malam 21 Ramadan. ”Tradisi itu diisi dengan salat malam, yakni salat Hajat dan mujahadah,” ujarnya.

Salah satu warga, Giono, mengatakan, malam 21 Ramadan juga dimanfaatkan untuk khataman Quran bersama. Tradisi yang sudah melekat di masyarakat setempat selalu diikuti oleh puluhan warga. Tentu saja, aktivitas relegius warga kampung yang terletak di tengah Kota Semarang ini cukup menarik.

”Tidak hanya di bulan Ramadan, warga cukup antusias mengikuti kegiatan-kegiatan keagaman. Pada malam 27 Ramadan, kegiatan serupa digelar di Masjid Miftakhul Jannah (tak jauh dari musala tersebut),” katanya.

Dia mengaku bersyukur hidup di tengah-tengah masyarakat yang multikultur dan berbeda keyakinan. Tetapi, mampu hidup rukun, damai dan kondusif.

”Saat malam Jumat juga adanya tradisi Yasin dan Tahlil. Begitu juga pada Senin malam, warga tak lupa menggelar tradisi pembacaan maulid, lengkap dengan tabuhan rebana,” ujarnya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Mahesa Jenar Belum Habis

BANDUNG – Meski harus mengakui keunggulan Persebaya 1-0 pada laga perdana Grup Y babak  delapan besar Liga 2, namun tim PSIS Semarang masih memiliki...

138 Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak

SEMARANG-Kekerasan seksual di Kota Semarang masih terbilang tinggi. Pada tahun 2016, tercatat 138 kasus kekerasan yang terjadi di 8 sekolah dan 5 kampung. Diperkirakan...

Loyola dan Semesta Juara Baru Honda DBL

SEMARANG- Kemeriahan kompetisi Honda DBL Central Java Series North Region 2017 telah mencapai puncak, Jumat (18/8) sore hingga tadi malam. Puncak kemeriahan itu saat...

Wujudkan Pembangunan Sejuta Rumah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Koperasi DPD REI Jateng bekerjasama dengan Bank Tabungan Negara (BTN) menyelenggarakan pembiayaan material bahan bangunan rumah. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka...

Gelar Laga Kelompok Usia, Dewasa dan Veteran

KEBUMEN-kejuaraan bulu tangkis tingkat daerah kembali bergulir di Kabupaten Kebumen. Pengurus Cabang (Pengcab) PBSI Kabupaten Kebumen akan menggelar Kejuaraan bertajuk Djarum Foundation Kejurkab Bulu...

Prof Darmanto Ajarkan Kemerdekaan Berpikir

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Pemakaman dosen dan budayawan, Prof Darmanto Jatman SU, telah dilaksanakan, Senin (15/1) kemarin. Prosesi pemakaman berlangsung penuh khidmat. Jenazah dikebumikan di...