23.9 C
Semarang
Senin, 19 April 2021

Hybrid Engineering, Perlindungan Pesisir Kota Semarang

spot_img
spot_img

KELURAHAN Trimulyo merupakan salah satu kelurahan pesisir di Kecamatan Genuk, Kota Semarang yang saat ini mengalami tekanan kerusakan pesisir yang serius, karena faktor abrasi pantai. Hal tersebut telah menyebabkan kerugian fisik berupa hilangnya lahan tambak dan permukiman warga di kelurahan tersebut.

Salah satu penanganan yang saat ini dilaksanakan untuk menanggulangi abrasi tersebut adalah dengan dibangunnya struktur Hybrid Engineering (HE). Rekayasa hybrid yang inovatif menggabungkan struktur permeable (untuk memecah gelombang dan menangkap lebih banyak sedimen, Red) dengan teknik rekayasa seperti agitasi pengerukan, yang meningkatkan jumlah sedimen tersuspensi dalam air.

Hybrid Engineering diadopsi dari Negara Belanda mengembangkan teknologi sederhana dengan biaya rendah, yakni membuat bendungan dari kayu, serasah dan ranting. Prinsip bendungan ini sama dengan cara kerja akar mangrove, mampu memecah gelombang tanpa memantulkan gelombang. Sehingga sedimen terperangkap. Untuk menangani kerusakan pantai berlumpur. Desain ini didasarkan pada pengetahuan yang dihasilkan selama konstruksi dan pemeliharaan pekerjaan di Pantai Utara Belanda.

Pantai Utara Jawa merupakan wilayah yang terancam bencana erosi pantai, yang diperparah oleh dampak perubahan iklim. Untuk mengatasinya, dilakukan kegiatan rehabilitasi Pantura Jawa, yang merupakan kegiatan Quick Wins Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Kota Semarang merupakan salah satu dari 14 kabupaten yang merupakan lokasi kegiatan rehabilitasi pada 2015. Pembangunan HE sepanjang 3,7 Km sepanjang pesisir Kelurahan Trimulyo ini merupakan proyek Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Sebelum proyek dilaksanakan, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah kesepakatan warga dan status lahan yang sudah klir, dibuktikan dengan surat dari wali kota menjadi sebuah proses penting untuk pembangunan bendungan serasah ini. Sehingga masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam merawat bendungan ini. Setelah terjadi kesepakatan warga, dilakukan penelitian awal untuk menentukan lokasi. Kesepakatan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan lahan hasil sedimentasi.

Hasil pengamatan citra satelit resolusi tinggi pada 2015 dan 2016, tongkat ukur dan sedimen trap. Pemrosesan dan pengolahan citra satelit menggunakan Software ArcGIS 10.3. Efektivitas HE ditentukan dengan kondisi eksisting melalui serangkaian survei lapangan. Laju sedimentasi diukur berdasarkan perbedaan jumlah sedimen pada saat pengukuran dan kondisi awal pada saat belum dibangunnya HE (titik nol sedimen).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa strukrur HE yang dibangun pada 2015 di pesisir Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk efektif dalam mengatasi abrasi pantai. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sedimen yang terbentuk, dan majunya garis pantai sepanjang 170 meter semenjak dibangunnya HE. Volume sedimentasi yang terbentuk dalam kurun waktu 20 bulan adalah sebesar 81.500 m3. Dengan menggunakan asumsi bahwa laju sedimentasi konstan pada setiap bulan, laju sedimentasi pada struktur HE sebesar 4.075 m3/bulan atau 135,8 m3/hari.

Sedimen yang telah terbentuk pada struktur HE yang merupakan lahan timbul yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan rehabilitasi mangrove di Kota Semarang. Hutan mangrove memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir. Secara alami, garis pantai tidak akan mengalami erosi dan akresi bersamaan dengan perubahan musim, jika hutan mangrove yang kuat kokoh memagari dan melindungi wilayah pesisir. Dan jika wilayah pesisir terlindungi tambak-tambak dan permukiman penduduk pun juga akan terhindar dari ancaman hilang tenggelam karena abrasi dan akresi pantai. (*/aro/ce1)

spot_img

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here