14 Taruna Akpol Terancam Dipecat

0
1087
SERTIJAB: Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (kanan) usai serah terima jabatan Gubernur Akpol menggantikan Irjen Pol Anas Yusuf (kiri) bersama Komjen Pol Moechgiyarto. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SERTIJAB: Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (kanan) usai serah terima jabatan Gubernur Akpol menggantikan Irjen Pol Anas Yusuf (kiri) bersama Komjen Pol Moechgiyarto. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG )

SEMARANG – Sebanyak 14 taruna Akademi Kepolisian (Akpol) yang berstatus tersangka kasus tewasnya Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Muhammad Adam, taruna Akpol tingkat II, terancam akan dipecat. Namun sanksi tersebut akan dijatuhkan menunggu sidang dewan akademik.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Akpol yang baru, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel usai acara pelantikan dan serah terima jabatan Gubernur Akpol di Lapangan Bhayangkara Akpol, Senin (12/6) kemarin. Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel menggantikan Gubernur Akpol lama, Irjen Pol Anas Yusuf, yang telah menjabat sejak September 2015.

Rycko mengatakan, dalam waktu dekat akan dilaksanakan  sidang dewan akademik untuk 14 tersangka yang merupakan taruna tingkat III tersebut.  ”Ranah hukum kita serahkan ke penyidik Polda Jateng. Kita melakukan evaluasi dan sidang akademik menentukan status tarunanya. Dalam waktu dekat akan digelar sidang dewan akademik,” ungkap mantan Kapolda Sumatera Utara tersebut.

Diperkirakan, sidang dewan akademik akan rampung sebelum Lebaran. Meski belum diketahui keputusannya, namun indikasi sanksi berupa pemecatan para tersangka taruna Akpol ini bisa terjadi. Menurutnya, sanksi yang akan ditetapkan nanti bisa diberikan kepada seluruh tersangka, karena menyangkut taruna sebagai objeknya.

”Indikasi ke sana (dikeluarkan) ada. Ada kisi-kisi dan SOP-nya, lihat kadarnya juga. Kalau kena reward, ya reward semua, sanksi ya sanksi semua, bukan hanya objek, tapi juga subjek. Pokoknya, yang salah dihukum,” tegasnya.

Pasca kejadian tersebut, Rycko juga menyampaikan akan melakukan evaluasi menyeluruh di Akpol. Hal ini juga telah sesuai arahan dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai acuan untuk pembenahan di seluruh sistem pembinaan.

”Bapak kapolri sudah memberikan arahan kepada saya, akan dijadikan acuan pembenahan pendidikan Akademi Kepolisian,” katanya.

Selain itu, untuk mengantisipasi terulangnya kembali kasus tersebut, pihaknya juga akan melakukan perbaikan budaya taruna di Akpol. Sehingga nantinya Rycko akan melakukan identifikasi untuk menyusun pembenahan-pembenahan tersebut.

”Pertama itu membentuk Taruna Polri yang beriman dan bertakwa. Kedua membentuk akhlak mulia. Ketiga cerdas, kemudian terampil. Karena tugas polisi itu profesi, maka harus kita kembangkan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Kalemdiklatpol), Komjen Pol Moechgiyarto menambahkan, Akpol akan direvitalisasi pasca kejadian penganiayaan taruna tingkat II tersebut. Salah satu yang akan dihilangkan dalam budaya taruna Akpol, yakni perkumpulan antarkorps.

”Ada tim revitalisasi Akpol. Pertama, perbaiki peranti lunak, salah satunya peraturan kehidupan taruna. Di situ nanti akan kita larang tidak ada lagi kumpul-kumpul korps, itu kan tradisi tidak sehat. Kita kenakan sanksi kalau ada yang melakukan,” tegasnya.

Selain itu, juga akan melakukan perombakan struktur organisasi untuk pengasuhan. Karena selama ini hanya ada 60 pengawas untuk 1.200 taruna Akpol. Menurutnya, jumlah pengasuh belum sebanding, dan perlu adanya penambahan.

”Kurang lebih ya 300-an orang. Mereka yang jadi pengasuh kita ambil yang terbaik, yang juara-juara, dan mental baik. Nanti targetnya 2 tahun, dia bagus, tidak ada pemukulan, dia diorbitkan di luar. Supaya ada reward,” ujarnya.

Moechgiyarto menambahkan, pihaknya juga akan melakukan perbaikan sarana dan prasarana, salah satunya terkait keberadaan CCTV di lingkungan Akpol. Menurutnya, jumlah CCTV di lingkup Akpol yang terpasang hanya berjumlah 60 unit, dan masih dalam bentuk statis hanya mengambil satu sisi pantauan.

”Kita memperbaiki IT, makanya kemarin saya cek CCTV belum maksimal dari jumlah wilayah kita akan pasang, sehingga gerak taruna bisa diawasi. Kurang lebih sekarang ada di  60 titik itu pun manual, tidak bisa gerak-gerak,” terangnya.

Terkait tradisi memberikan hukuman dari senior kepada junior, pihaknya menegaskan tidak akan terjadi lagi dengan bentuk kekerasan adu fisik. Menurutnya, sesama taruna harus memberikan contoh untuk mendidik yang baik, apabila terdapat pelanggaran.  ”Berikan pembinaan yang baik. Jadi, bukan body contact,” tegasnya. (mha/aro/ce1)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here