Rumus KKM dan Hati Nurani Guru

spot_img

KRITERIA Ketuntasan Minimal (KKM) merupakan kriteria yang paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. Fungsinya sebagai acuan seorang guru untuk menilai Kompetensi Dasar (KD) suatu mata pelajaran atau standar kompetensi dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentan skala 0 sampai dengan 100. Bisa juga 1-4 atau dengan predikat huruf penilaian sesuai dengan Permendikbud Nomor 81 Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum.

Siswa yang belum mencapai nilai KKM dinyatakan belum tuntas. Nilai KKM ini akan ditulis guru dalam sebuah laporan pada akhir semester yang nantinya akan diterima oleh seluruh siswa bila telah mengikuti kegiatan program pembelajaran atau kita kenal dengan rapor.

Proses untuk memperoleh hasil final dari angka-angka yang akan tertulis di rapor harus melampaui beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan nilai ulangan harian (UH), nilai tugas, nilai UTS, dan nilai UAS.

Penetapan KKM suatu mata pelajaran, seorang guru mempertimbangkan beberapa aspek, yakni (1) Kompleksitas, artinya kesulitan dan kerumitan dalam pelaksanaan pencapaian  kompentensi mulai dari menurut pemahaman SDM, daya kreativitas dan inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran, daya nalar kecerdasan siswa dan lain lain. (2) Daya dukung, yang meliputi ketersediaan tenaga SDM, sarana dan prasarana, dan (3) Intake atau tingkat kemampuan rata-rata siswa, yakni keberagaman latar belakang potensi kemampuan siswa secara individual.

Baca juga:   Padukan Model dan Media Kartu Bergambar Jadikan Pembelajaran Efektif

Jika ketiga aspek di atas telah memenuhi ketentuan, hasil baru bisa dicapai. Saat menjelang akhir semester, siswa  mempersiapkan semua materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru dalam  satu semester, dan juga harus menyelesaikan tagihan tugas-tugas yang belum terselesaikan.

Selesai ulangan akhir semester (UAS), giliran guru  mulai sibuk mempersiapkan nilai-nilai hasil ulangan siswa untuk diolah menjadi goresan nilai yang nantinya akan menentukan  kemampuan siswa dalam pembelajaran selama satu semester.

Penghitungan angka-angka itu akan muncul setelah guru menentukan KKM yang dirumuskan sebelumnya. Sesuai ketentuan bahwa KKM harus  sudah ditentukan awal semester pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Kenyataan yang ada, angka-angka yang tercetak di buku laporan siswa ketika rumus itu bisa masuk nilainya dengan mudah guru dalam memberikan nilai rapor. Siswa memiliki kecerdasan tinggi tidak sulit baginya untuk memperoleh nilai KKM, bahkan bisa saja nilainya melebihi.

Lalu bagaimana jika siswa yang memiliki keterbatasan dalam  penangkapan materi? Siswa dalam satu kelas tentulah memiliki sifat homugen. Artinya, kondisi siswa ada yang cerdas, ada yang sedang-sedang saja, ada yang di bawah standar. Bagaimana pemecahannya jika nilai KKM kurang? Andaikan rumusan  dalam pembuatan nilai tidak memenuhi KKM, upaya guru agar siswanya bisa tertolong.

Baca juga:   Kurikulum Prototipe Diterapkan Mulai 2022, Bagaimana Persiapan Sekolah?

Menurut Permen no 53 tahun 2015 tentang penilaian hasil belajar dalam pasal 9  pada butir 7 dan 8 menyatakan: Laporan  hasil penilaian pendidikan pada  akhir semester, dan akhir tahun ditetapkan dalam rapat dewan guru berdasar hasil penilaian oleh pendidik, dan hasil penilaian oleh satuan pendidikan; dan kenaikan kelas dan/atau kelulusan peserta didik ditetapkan melalui rapat dewan guru.

Inilah letak perbandingan KKM dengan hati nurani, guru bisa menolong siswa yang nilainya di bawah KKM. Di satu sisi tidaklah mudah untuk merumuskan KKM, di sisi lain kewenangan guru untuk mengubah rumus itu dengan kebijakan hati nurani. Padahal sebenarnya tuntutan dalam penghitungan KKM haruslah dengan benar-benar objektif sesuai dengan kondisi pembelajaran di sekolah. Ini agar nilai yang ada dalam buku rapor siswa memperoleh nilai yang seadil-adilnya, agar tidak ada satu pun siswa yang merasa  dirugikan. Sebagai seorang guru, dituntut juga untuk mengasihi dan memperlakukan siswanya seperti anak-anaknya sendiri. (*/aro)

Author

Populer

Lainnya