SIAP DIBUKA: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di depan pintu gerbang tol Salatiga yang menawarkan keindahan alam. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIAP DIBUKA: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di depan pintu gerbang tol Salatiga yang menawarkan keindahan alam. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Jalan tol Semarang-Solo seksi III ruas Bawen-Salatiga akan digratiskan saat arus mudik Lebaran mendatang. Hanya saja, pengguna jalan tol tetap harus berhenti di gerbang tol Salatiga untuk membayar ruas Bawen sebesar Rp 7.500. Sebagai gambaran, pengendara yang masuk dari gerbang tol Banyumanik dan keluar di Salatiga, akan dikenai dua kali tarif tol. Pertama di gerbang tol masuk Banyumanik, yang kedua di gerbang tol keluar Salatiga.

”Di Salatiga itu bayar tarif Bawen, karena gerbang tol Bawen berada di pintu keluar Bawen. Tidak dilewati saat menuju Salatiga,” papar Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ), Ali Zaenal Abidin, saat mendampingi Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meninjau kesiapan tol, Kamis (8/6).

Dijelaskan, tol Bawen-Salatiga sengaja tidak dikenai tarif karena ruas tersebut masih berstatus fungsional. Meski begitu, semua jalan sudah menggunakan cor beton rigid alias permanen. Beda dari fungsional tol Batang-Gringsing yang masih menggunakan cor beton sementara atau land concrete (LC). Hingga saat ini, konstruksi tol sepanjang 17 km tersebut hanya menyisakan pengerjaan jalan sekitar 1 km saja. Tepatnya di KM 36.

Zaenal menjelaskan, kekurangan tersebut awalnya hanya dibeton LC saja. ”Tapi sepertinya bisa langsung menggunakan rigid. Waktunya masih terkejar saat dibuka pada H-7 Lebaran (18 Juni),” terangnya.

Gubernur Ganjar Pranowo justru khawatir akan terjadi kemacetan di gerbang tol Salatiga. Sebab, ruas tersebut hanya menyediakan dua lajur saja saat memasuki dan keluar gerbang tol. Sementara di gerbang tol, tersedia empat loket pembayaran. Rinciannya, dua loket manual, dan dua loket e-toll.

Jalan keluar tol pun tidak langsung tembus jalan raya. Harus melewati ’jalan tikus’ seperti jalan keluar di tol Ungaran. Karena itu, Ganjar meminta ada rekayasa lalu lintas di pintu keluar tol Salatiga. ”Saya minta mamajemen lalu lintas di pintu keluar tol Salatiga. Jalannya sempit, harus ada rekayasa lalu lintas,” tegasnya.

Meski terjadi kemacetan di sana, ada kemungkinan pemudik tidak merasa bosan. Sebab, ada pemandangan alam yang sangat indah. Panorama tersebut bahkan disebut-sebut sebagai pemandangan terindah di gerbang tol. Banyak netizen yang menyamakan pemandangan memesona itu sama dengan di luar negeri hingga menjadi viral di dunia maya.

View menarik itu terletak dari latar gerbang tol yang persis membelakangi Gunung Merbabu. Jika di pagi hari maupun sore hari, akan tampak pemandangan Gunung Merbabu sedang cerah, dengan kondisi langit berwarna biru dan awan putih.

Ganjar berkeyakinan, keindahan gerbang tol itu akan menjadi daya tarik pemudik pada arus mudik nanti. ”Kalau saat arus mudik tidak ada awan ini akan macetnya bertambah. Banyak yang selfie. Tapi saya akan senang kalau macet mereka karena berfoto dan happy. Mereka senang, daripada macet, tapi marah-marah,” kata Ganjar.

Gubernur berambut putih ini berharap, tol panoramik di Salatiga itu akan menjadi wisata baru. Pemudik juga diperkenankan memanfaatkan visual tersebut untuk mengurangi capek setelah menempuh perjalanan pulang kampung. ”Mudah-mudahan orang dapat hiburan yang menarik dan visual yang bagus di sini. Kalau orang berhenti itu dalam rangka senang, akhirnya jadi jualan wisata Salatiga,” bebernya.

Kepada pengelola tol, Ganjar pun meminta agar mereka bisa memanfaatkan panorama alam itu sebagai ajang promosi. Khususnya di setiap rest area jalan tol. ”Kalau kita lihat sepanjang jalan tol ini memang panoramanya luar biasa indah. Mudah-mudahan ini disampaikan ke masyarakat kalau ini daerah-daerah terindah dan nggak usah stres,” katanya.

Manager Project Trans Marga Jateng Ir Indriyono yang juga ikut mendampingi Ganjar menjelaskan, ruas jalan tol Bawen-Salatiga tinggal 500 meter yang belum dicor dan berada di daerah Kandangan, Bawen. ”Belum dicor dan rencananya akan dicor beton pada tanggal 10 Juni, dan kemudian menunggu tujuh hari untuk pematangan cor,” ujarnya.

Setelah cor yang 500 meter itu selesai dan menyambung, maka jalan tol Bawen-Salatiga sudah siap difungsikan dan rencananya bisa dipakai mulai 18 Juni atau H-7 Lebaran. ”Namun demikian yang berhak menentukan layak tidaknya jalan itu adalah pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Semarang dan Polres Salatiga beserta Dishub, bukan pihak TMJ,” jelasnya.

Pihak TMJ juga akan melakukan pengecekan kembali pada malam hari untuk mengetahui apakah jalan tol tersebut sudah layak dilalui pada malam hari atau tidak. ”Semua lampu penerangan jalan juga sudah siap, makanya kita juga akan mengecek pada malam hari,” katanya.

Wakil Wali Kota Salatiga Muh Haris memastikan kesiapan jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga bisa untuk menampung arus mudik Lebaran. Haris berkomitmen tidak akan mengotori pemandangan gerbang tol Salatiga dengan papan reklame. ”Saya mendapatkan saran dari rekan-rekan agar pemandangan gerbang tol Salatiga yang sedang viral ini tetap terjaga keindahannya. Caranya jangan sampai ada baliho atau bangunan tinggi yang menghalangi pemandangan dengan latar Gunung Merbabu itu,” terang Muh Haris.

Sikap berbeda justru dinyatakan Ketua DPRD Kota Salatiga, M Teddy Sulistio, yang menyatakan jika jalan tol bukan prestasi daerah. Teddy mengaku tidak antusias dengan keberadaan jalan tol ruas Bawen-Salatiga ini, termasuk keindahan pemandangannya.
”Pemkot Salatiga sejauh ini tidak mempunyai konsep yang jelas tentang cara mengantisipasi Salatiga menjadi kota mati setelah berfungsinya jalan tol ini. Salatiga harus punya magnet sehingga berkorelasi dengan kesejahteraan rakyat,” ujar Teddy, kemarin.
Ia menegaskan jika hanya soal keindahan, sejak zaman dulu di Salatiga sudah ada gunung dengan pemandangan yang sangat indah. ”Kini yang harus diantisipasi adalah peluang seperti apa yang bisa ditangkap oleh pemerintah? Di setiap pembahasan anggaran, saya tidak melihat ada konsep jelas,” ujarnya.

Ia menegaskan, dengan keberadaan jalan tol ruas Bawen-Salatiga dan ke depan tol Salatiga-Boyolali, Salatiga harus bergegas bangun dari tidur atau kalau tidak akan tenggelam. (amh/sas/aro/ce1)