AMAI SORE HARI: Ramadan on The Street Kauman, diserbu setiap jelang berbuka puasa. (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU)
AMAI SORE HARI: Ramadan on The Street Kauman, diserbu setiap jelang berbuka puasa. (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU)

Tren peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan menjadi kesempatan emas bagi pedagang musiman. Seperti tampak di halaman Masjid Al Manshur Wonosobo. Tua, muda, menjajakan menu untuk berbuka puasa.

ZAIN ZAINUDIN, Wonosobo

KEUNTUNGAN menjajakan dagangan selama Ramadan, tidak main-main. Menurut pengakuan panitia kegiatan bursa kuliner Ramadan berkonsep Ramadan On The Street, omzet pedagang mencapai jutaan rupiah per hari.

Ketua Panitia Ramadan On The Street Masjid Al Manshur Wonosobo, Isro Al Mi’roj menyebut, tahun ini panitia hanya membuka 87 stan. Respons masyarakat yang mendaftar mencapai 130-an peserta pada kegiatan bursa kuliner yang menginjak tahun ketujuh ini. “Respons masyarakat sangat tinggi. Alhamdulillah, keuntungan yang diperoleh pedagang cukup bagus puasa ini.”

Omzet per masing-masing pedagang, dalam kondisi sepi, rata-rata mencapai Rp 300.000 per hari. Khusus pedagang yang menjajakan banyak varian menu, omzetnya bisa lebih dari Rp 1 juta/hari. “Jika, dibuat rata-rata, per pedagang mampu memperolah omzet penjualan mencapai Rp 300.000. Dengan margin keuntungan sepuluh persen saja, sudah lumayan.”

Isro mendengar, dalam sehari, ada pedagang yang mampu memperoleh keuntungan hingga Rp 1 juta. Dikatakan, Ramadan On The Street sangat diminati pedagang. Tidak seperti tahun pertama, pedagang yang berminat sangat sedikit. Tahun ini, jumlah pengunjung mencapai ribuan. Karenanya, respons pedagang meningkat.

Pembina Kegiatan Ramadan On The Street, Achmad Baehaki menambahkan, selain menjual makanan, panitia menyuguhkan hiburan, talkshow, maupun pengajian. “Bursa kuliner ini dibuka agar masyarakat bisa memperoleh penghasilan tambahan saat Ramadan.”

Awal pelaksanaan kegiatan, pihaknya mengakomodasi para pedagang yang selama Ramadan, justru menutup warungnya lantaran ingin menghormati orang yang berpuasa. Tidak membuka usaha, berarti tidak ada pemasukan. Sehingga mereka bingung untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.

“Maka, kami sengaja mengakomodir ibu-ibu rumah tangga yang memiliki kemampuan memasak makanan olahan, tetapi tidak bisa buka lapak, untuk berjualan di sini. Mulanya dari situ.” (*/isk)