31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Eksistensi Pudar, Berharap Karawitan Jadi Muatan Lokal

SEMARANG – Eksistensi kesenian karawitan mulai menghilang, seiring dengan generasi penerus yang semakin berkurang. Sebelumnya setiap sekolah menjadikan karawitan sebagai ekstrakurikuler (ekskul). Namun seiring perkembangan zaman, ekskul tersebut mulai ditutup karena tidak ada peminatnya.

Hanya segelintir sekolah, utamanya negeri yang mempertahankan ekskul tersebut lengkap dengan sarananya, mulai dari boning, kendang, saron, demong, kenong, hingga gong.

Kepala SMP N 3 Semarang, Eko Djatmiko, mengatakan, ekstrakurikuler karawitan di tempatnya sejak 2 tahun terakhir sepi peminat. ”Minat siswa kurang, meskipun fasilitas dan tenaga pendidik tersedia. Di samping itu, prinsip ekstrakurikuler adalah melayani (tak wajib),” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (7/6).

Sementara itu, Kepala SMP N 12 Semarang, Agung Nugroho, mengatakan, salah satu bentuk kurang maksimal berkembangnya kesenian tradisional karawitan disebabkan oleh mahalnya harga yang harus dibayarkan untuk 1 set alat. Menurutnya, harga termurah yang harus dikeluarkan berkisar Rp 80 Juta, sedangkan untuk kualitas nomor satu berbahan dasar perunggu bisa mencapai Rp 300 juta.

Di samping itu, dana yang harus dikeluarkan sekolah tersebut tidak diimbangi dengan melimpahnya kompetisi atau lomba baik di tingkat regional hingga ke tingkat nasional. Hal itu berdampak kepada miskinnya kreativitas antarsekolah. ”Event perlombaan masih sangat sedikit, di tingkat Kota Semarang tercatat hanya ada satu, itu pun hanya diikuti tak lebih dari 5 sekolah saja,” katanya.

Agung berharap, dinas terkait bisa menjadikan kesenian karawitan sebagai skala prioritas. Tujuannya agar kesenian tradisional tersebut tidak punah termakan zaman. ”Di Belanda kesenian seperti ini justru diapresiasi, jangan sampai kesenian asli Indonesia ini hilang dan diakui oleh bangsa lain,” katanya.

Salah satu pegiat seni Karawitan, Agung Yuniadi, mengungkapkan, sudah seharusnya seni ini dimasukkan ke kurikulum pelajaran atau muatan lokal seperti di Solo dan Karanganyar. ”Harapannya agar seni karawitan tak sebatas ekstra sekolah saja, dengan begitu antusias siswa dan pemuda lainnya akan terus tumbuh,” ujar guru yang berhasil membawa SMP N 5 Semarang juara Festival Lomba Seni Siswa Nasional Kota Semarang itu.

Sementara itu, Ketua MKKS SMP Semarang, Setyobudi, mendorong agar siswa-siswi yang telah mempunyai bekal dan pengetahuan di sekolah untuk melanjutkan ataupun bergabung dengan kelompok seni yang telah ada. ”Dengan begitu, potensi serta bakat akan terus berkembang,” ujarnya. (aaw/zal/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here