33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Rusunawa Khusus Lajang Sepi Peminat

Another

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

SEMARANG – Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Jrakah yang berdiri megah di Jalan Stasiun Jrakah, Kecamatan Tugu, Semarang, dibangun Pemkot Semarang khusus bagi para pekerja pria ’jomblo’ alias berstatus lajang. Tapi entah kenapa, sejak selesai dibangun Desember 2015 silam hingga sekarang, rusunawa lima lantai itu sepi peminat. Sedikitnya ada 104 kamar dengan dilengkapi fasilitas tempat tidur bertingkat, dua lemari pakaian, kamar mandi dalam, shower, toilet duduk, dan dua meja kerja.

Meski fasilitasnya cukup nyaman hampir mirip kamar hotel, tetapi sampai saat ini tercatat hanya ada 8 penghuni. Rusunawa ini terkesan menganggur karena tak dimanfaatkan.

”Saat ini, baru ada 8 penghuni. Padahal ada 104 kamar dengan kapasitas untuk dua orang. Totalnya bisa menampung 208 orang,” kata koordinator keamanan Rusunawa Jrakah, Jumadi, kemarin.

Dijelaskan Jumadi, untuk biaya sewanya terbilang sangat murah. Untuk lantai 1, biaya sewanya hanya Rp 125 ribu per bulan per orang. Lantai dua Rp 110 ribu per orang, lantai tiga Rp 100 ribu, lantai empat Rp 90 ribu dan lantai lima Rp 80 ribu. Menurutnya, harga sewa tersebut terbilang sangat murah dibanding biaya kos atau kontrak rumah di Kota Semarang.

”Sangat disayangkan, kalau tidak ada yang menempati. Mungkin karena kurang dipromosikan,” katanya.

Salah satu penghuni, Joko Purnomo, 40, mengaku nyaman tinggal di rusunawa tersebut. ”Dulu saya kos sebulan Rp 400 ribu, kamarnya kecil. Di sini sangat murah, kamarnya besar, fasilitasnya nyaman,” ujarnya.

Menurutnya, para calon penghuni banyak yang mengurungkan niat untuk tinggal di rusunawa karena khawatir soal keamanan. Sebab, rusunawa ini belum dilengkapi pagar pengamanan. ”Mungkin takut kalau motornya hilang, untuk pagar parkir motor memang belum ada pengaman,” katanya.

Sementara ini, para penghuni membawa motornya ke dalam kamar rusunawa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. ”Kalau motornya dibawa ke kamar, mereka merasa lebih tenang,” ujarnya.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang, Muthohar, mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan sosialisasi agar rusunawa di Kelurahan Jrakah tersebut dimanfaatkan. ”Saya sudah cek kondisi di lapangan. Sudah ada penghuninya 8 orang. Padahal ada kamar 104,” katanya.

Dijelaskan, Rusunawa Jrakah itu diperuntukkan bagi pekerja di Kota Semarang, khususnya yang berstatus lajang. Permohonannya melalui perusahaan masing-masing, kemudian mendaftarkan di UPTD Rusunawa. ”Saat ini, kami sedang melakukam koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang untuk mengumpulkan sejumlah pengusaha di Kota Semarang,” katanya.

Hal itu untuk melakukan sosialisasi kepada para pengusaha agar para karyawan yang berstatus lajang, bisa menempati rusunawa tersebut. Termasuk menjelaskan prosedur pendaftaran maupun syarat-syaratnya. ”Pendaftarannya di UPTD terkait. Soal teknisnya seperti apa, saya belum menerima laporan dari UPTD-nya,” ujarnya.

Dijelaskan Muthohar, rusunawa ini memang khusus bagi pekerja lajang atau belum menikah. ”Syaratnya ya pekerja lajang itu. Dari pemerintah membuat Rusunawa Jrakah ini memang khusus untuk pekerja lajang. Kalau berkeluarga tidak boleh. Desainnya memang untuk lajang. Misalnya, tidak ada dapur keluarga,” katanya.

Pihaknya mengaku telah mengumpulkan sejumlah pihak untuk memberikan surat edaran kepada manajemen perusahaan. ”Ada sejumlah perusahaan misalnya Indofood, Marimas dan lain-lain. Sebenarnya sudah jadi cukup lama, mulai dibangun 2015, selesai 2016. Tetapi selama ini ada keluhan belum adanya pagar pengaman untuk parkir sepeda motor. Mungkin dikhawatirkan motor hilang,” ujarnya.
Terkait masukan belum adanya pagar pengaman parkir tersebut, lanjut Muthohar, saat ini telah dianggarkan untuk pembangunan pagar mengelilingi rusunawa. Dia berharap, setelah dibangun pagar tersebut, pengelolaan rusunawa bisa optimal. Hal itu juga membantu ekonomi buruh. ”Tahun ini bisa dibangun pagar,” katanya. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This

Must Read

Mobil Penjemput Siswa Jadi Biang Macet

Sejumlah sekolah elite di Kota Semarang kerap dikeluhkan para pengguna jalan raya. Sebab, hampir setiap hari, berderet mobil penjemput siswa, nongkrong atau parkir di...

Kebocoran Parkir Dimakan Jukir

KENDAL—Dinas Perhubungan Kendal mengakui banyak kebocoran dalam pengelolaan parkir di Kendal. Kebocoran disinyalir karena lemahnya manajemen dalam pengelolaan titik parkir dan banyaknya juru parkir...

Relawan Hijaukan Gunung Ungaran

UNGARAN- Komunitas Peduli Alam Lestari (KOMPASi Jateng) bersama Mahasiswa Komunikasi Pecinta Alam (Makupala) Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Semarang serta Karangtaruna Kecamatan Bandungan memotori...

Proyek SORR Jadi Tol Masih Dikaji

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG- Proyek jalur lingkar luar atau Semarang Outer Ring Road (SORR) yang rencananya bakal diubah menjadi jalan tol saat ini masih dikaji oleh...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Pengelola Arsip Harus Bekerja Profesional

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Para pengelola arsip di seluruh unit kerja lingkungan Pemkot Magelang dituntut memiliki kompetensi mumpuni. Pasalnya, tata kelola kearsipan yang tidak berjalan...