32 C
Semarang
Sabtu, 19 Juni 2021

Kearifan Lokal lewat Wayang Suket

SEMARANG – Wayang suket atau wayang gaga tidak jauh beda dari wayang kulit. Meski pertunjukannya lebih simpel, wayang suket tetap menyampaikan pesan moral yang bisa dipetik siapa saja yang menontonnya.

Seperti pertunjukan wayang suket di Grobak Art Kos Hysteria, Gajahmungkur, Rabu (31/5) malam. Lewat lakon Wagiman Tikus yang dimainkan dua dalang, yakni Surya Cahyono dan Teguh Arif Romadhani, penonton diberi gambaran tentang kehidupan petani yang lekat dengan alam dan kearifan lokal. Dia berharap cerita dengan latar belakang bercocok tanam itu dapat memberi pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana memperlakukan mahkluk hidup di alam ini.

”Cerita ini merupakan saduran dari Cerpen Gunawan Budi Susanto yang berjudul sama. Dalam cerita itu mengajarkan bagaimana seorang petani melindungi sawahnya dari serangan hama tikus dengan singkong,” papar Surya.

Cerita yang disampaikan tergolong mudah dipahami karena memang tidak seribet wayang kulit. Tokoh-tokoh yang digunakan pun tidak banyak, jadi lebih memudahkan penonton untuk menerima pesan yang coba disampaikan sang dalang.

Teguh menambahkan, pihaknya belum lama menggelar pentas semacam ini. Baginya perlu belajar lebih banyak lagi dalam mengenalkan media wayang dengan berbahan rumput tersebut. Pria yang akrab disama Pak Dhe ini mengaku sebelumnya banyak memberikan workshop wayang kepada anak-anak.

”Tujuan kami ya jelas memberi tontonan dan tuntunan bagi penonton. Yang menjadi niatan kami, minimal dengan workshop dan pentas kepada anak-anak bisa menjauhkan mereka dari smartphone atau televisi selama bermain bersama kami,” tegasnya.

Sementara itu, penggerak wayang gaga, Pambuko Septiardi berharap, dengan adanya pentas dari kampung ke kampung, bisa mengingatkan kembali kepada banyak orang soal kearifan lokal yang sudah lama ditinggalkan. Menurutnya, dari contoh sederhana saja, sudah banyak orang yang tidak tahu bagaimana proses bertani berikut juga halangan dan rintangannya. Pambuko ingin ke depan bukan hanya soal bertani saja yang menjadi bahasan wayang gaga. (amh/ric/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here